Apakah Aku Marah?

Sepulang takziah dari rumah Noorma kemarin aku langsung pulang ke kos, mencoba untuk istirahat tentu saja, dengan harapan bisa kembali mendapatkan energi yang cukup untuk belajar mata kuliah Aljabar Linear Lanjut 1. Namun takdir berkata lain, karena saat aku membuka komputer dan hardisk eksternalku, ada judul film yang menarik perhatianku: New York. Film India sih, yang sarat akan kisah cinta dan ke-mellow-annya. Andi, “mantan” teman kosku dulu, yang memberikannya padaku beberapa waktu yang lalu.
Dari film itu aku cukup belajar tentang hidup ini. Dikisahkan ada 1200 lebih orang-orang yang ditangkap FBI pasca kejadian runtuhnya gedung WTC beberapa tahun silam, dimana tujuannya adalah mencari petunjuk tentang adanya sindikat terorisme di AS sana. Selam kurang lebih 9 tahun, masing-masing orang mendapatkan siksaan lahir dan batin, di penjara yang tidak mereka ketahui dimana lokasinya. Hal ini berlangsung selama kurang lebih tiga tahun. Bukan teroris yang didapatkan, tetapi justru “bayi-bayi” teroris yang lahir. Ke-1200 orang tersebut dituduh sebagai teroris. Mereka mendapatkan perlakuan yang tidak layak, sama sekali tidak layak. Dari 1200 orang itu beberapa di antaranya benar-benar menjadi teroris. Yah, saat FBI menginginkan teroris, mereka mendapatkannya, teroris-teroris baru yang lahir akibat buah pikir FBI tadi.
Mungkin cukup untuk cerita filmnya. Sekarang giliranku untuk bercerita. Saat ini aku pun merasakan hal yang sama atau hampir mirip. Ada segelintir orang di sekelilingku yang meng”klaim”ku sebagai orang yang inkonsisten, pengecut, dan beberapa sifat buruk yang lain, dan sialnya sepertinya aku terbentuk menjadi orang yang seperti mereka inginkan. Sesuatu yang tadinya hanya ada di pikiran mereka, kemudian lama kelamaan muncul ke permukaan menjadi sesuatu yang nyata. Seperti yang aku ungkapkan tadi sepertinya, saat “mereka” menginginkan orang yang inkonsisten, maka mereka pun mendapatkannya beberapa saat kemudian.
Hatiku menangis saat ada sahabatku berkata kemarin,
“Ipin, aku benar-benar muak sama teman-temanmu itu? Apa tujuan mereka mempermalukan orang di depan umum? Kenapa mereka tidak bertatapan langsung denganmu? Aku benar-benar muak!”
Aku yang tadinya tidak tahu apa-apa, kemudian menjadi penasaran, dan berusaha menjadi tahu. Padahal seharusnya aku kan belajar. Di saat teman-temanku belajar, eh aku malah berkutat dengan internet, sungguh keterlaluan. Berbelak rasa penasaran yang teramat sangat, aku meloncat dari satu tulisan ke tulisan yang lain. Akhirnya aku pun menemui titik terang, dan aku mendapatan kesimpulan sederhana, “Mereka memang memuakkan!”.
Akhirnya aku pun melakukan perbuatan yang tidak terpuji, aku meremove beberapa kawan di account fesbuk milikku. Aku merasa saat aku tidak mengenali orang yang ada di list friendku, maka untuk apa “dipajang?”. Aku meremove orang-orang itu, ada puluhan nama. Kemudian ada satu nama yang tadinya aku kenal baik, bahkan sangat baik. Orang ini sudah sangat membantuku. Skripsiku kemarin tidak akan pernah selesai tanpa bantuannya sepertinya. Namun aku merasa sudah tidak mengenalnya lagi. Ia jadi sering menghinaku, bahkan di depan umum, dan membuat beberapa orang mengikuti apa yang ia pikirkan. Beberapa saat setelah momen “pe-remov-an” itu, aku kirim sms, “Aku tidak ingin bersahabat denganmu di dunia maya. Aku hanya ingin bersahabat denganmu di dunia nyata. Gapapa kan?”.
Aku ingat sekelumit kalimat yang terlontar dari salah seorang sahabatku yang juga mengenalnya, “Dia itu miskin pengalaman, tetapi sudah merasa diri sendiri paling benar”. Tidak, bukan itu menurutku. Orang ini berpengalaman cukup, hanya saja masih harus belajar banyak untuk menggunakannya dengan bijak.
Mungkin cukup untuk satu sahabatku itu, sekarang beralih ke yang lain. Ada satu nama lagi, seseorang yang juga aku kenal baik tadinya menurutku. Kami sering main PES 06 bersama. Dulu kami sangat kompak. Namun saat ini aku merasa tidak mengenalnya lagi. Ada kalimat pendek muncul tiba-tiba dalam hati, “Aku tidak ingin mengenalnya lagi!”. Entahlah, mengapa aku bisa menjadi seperti ini. Apakah ini wujud dari apa yang “mereka” pikirkan tadi? Sesuatu yang tadinya hanya ada di kepala bulat mereka, saat ini menjadi sosok yang cukup menakutkan: diriku.
Padahal kalau menilik kalimat yang cukup ia sukai, “hanya ingin menjadi orang yang lebih baik”. Haduh, omong kosong apa ini? Ia ingin menjadi orang yang baik dengan menghina orang di depan umum, bahkan tidak berani untuk bertatapan langsung dengan orang yang dihina, tidak berani untuk berbicara muka tatap muka dengan kepala dingin. Ingin sekali aku berkata dengan kerasa di depan wajahnya yang penuh dengan jerawat, “Hei, aku juga ingin menjadi manusia yang lebih baik, kawan! Namun bukan dengan cara-cara yang tidak terpuji seperti ini”
Aku akui, mereka yang aku sebutkan tadi memiliki kemampuan yang cukup hebat menurutku, di bidang yang mereka geluti tentu saja. Namun sayang, kesemuanya tadi masih belum bisa digunakan dengan bijak. Mereka masih harus belajar untuk menjadi dewasa, dan termasuk diriku tentu saja.
Aku yakin, ini semua disajikan di depan mataku tidak lain untuk membuatku menjadi lebih dewasa ke depannya. Lega rasanya menuliskan semua ini. Aku berharap ini semua tidak berlebihan. Daripada aku berteriak di bunderan UGM, dan kemudian aku ditangkap satpol PP yang ada di situ, menurutku lebih baik aku tulis saja seperti ini. Aku juga tidak menyangka bahwa aku masih bisa sangat emosional seperti ini. Namun tidak apalah, maksimal tiga hari setelah ini aku yakin akan menjadi seperti sedia kala.
Sudah ah, saatnya belajar lagi. Anda mau menuliskan uneg-uneg Anda seperti ini? Dengan jujur, bijak, dan tidak menghina tentu saja. Aku yakin orang akan menerima uneg-uneg Anda dengan lapang dada, dan ucapan terima kasih akan Anda terima sebagai tanda bahwa orang tersebut mencintai Anda. Aku suka sekali kalimat almarhum Gus Dur, “Gitu aja kok repot!” Semoga Anda berkenan dengan uneg-unegku ini. Semua ini hanyalah dokumentasi tertulis dari apa yang aku rasakan saat ini. Aku hanya ingin melakukan ini setiap saat: mendokumentasikan hidupku.
Baiklah, mari kita senantiasa berbagi uneg-uneg dan pemikiran, apa saja. Nuwun.







Posts

aduh aduh…aq kira temenan tu seumur hidup. Kok si mas malah nutup kuping dari nasihat temennya mas sih?
“admin:
ini hanya perasaan sesaat, mba.
wah.. tumben ni blm ada yg komen
*blm di approve kale*
hhmm.. lucu ya? setiap orang memang mempunyai cara pandang, sudut pandang dan cara menghadapi suatu hal secara berbeda.
aku jadi inget label-label yg aku terima baik dari orang deketku, ataupun dr orang yg aku rasa tdk berhak memberiku label *secara ngga kenal bgt*. berbeda dgn mu pin, aku tdk ngeremove, atau aku ngga mau temenan lagi sama mereka, atau aku menunjukkan aku sesuai dgn apa yg mereka katakan. tapi aku lebih ke arah “I don’t care!” yg tau aku kaya apa kan aku sendiri, selama orang2 yg mencintaiku *keluarga* tau aku seperti apa, orang mau ngomong apapun ttng aku.. “I don’t care, they don’t even really knew me!” ngapain di ambil pusing.. bikin rugi.. *Prinsip penjual ikan”
tp yah.. balik ke orang nya lagi si.. *jah dawa temen kue lah*
“admin:
ya, itulah bedanya kita, is. itu hanya bentuk proteksi diri biar tidak menjadi apa yang “mereka” inginkan.
Tulisan mu kok kayak ce yang lagi ngambek ama sahabatnya..
“admin:
iya po, mas?
Sepertinya kamu terlalu berlebihan…Biasanya kamu membalas celaan itu dengan candaan. Kalian kan suka bercanda.
Secara alami tak ada orang yang mau dicela, tetapi kita kadang membutuhkannya untuk mengoreksi diri kita. Bukannya pujian sering membuat kita lupa kan Pin? Ketika mereka mencelamu di dunia maya, bukankah kau bisa membuktikan bahwa celaan mereka salah ketika kamu bertemu dengan mereka di dunia nyata. Apa kau lebih suka mempunyai banyak sahabat yang pendiam dan membiarkan kamu meski kamu berbuat salah atau keliru?
“admin:
iya bud, aku juga sadar kalau terlalu berlebihan. maafkan aku ya.
Apakah Ipin marah?
Iya, Ipin marah.
Jangan marah, jangan marah, jangan marah…
La taghdob walakal jannah.
Semoga besok bisa menerima kritik dengan lapang dada, ya…
“admin:
hiksss, iya ternyata aku memang marah. tolong ingatkan aku selalu ya, ren. aku ga ingin menjadi orang yang pemarah. hiksss.