Racauan Saja

Alhamdulillah, aku masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan subuh-Mu ya Allah, ya Rabb, yang aku anggap artinya bahwa Kau masih memberiku kesempatan untuk hidup di bumi-Mu, memperbaiki diri ini sebelum aku Engkau panggil untuk menghadap-Mu kelak. Semalam, Engkau masih memberikan aku kesempatan untuk bertemu dengan beberapa kawan dalam forum halaqoh kecil. Sedikit jumlahnya memang, tetapi aku yakin akan tetap bermanfaat untukku kelak. Ya Allah, bimbinglah aku untuk menjalani hari-hariku dengan baik dan bijak setelah ini. Seringkali aku merasakan kesepian, sepi dari rahmat-Mu, sepi dari nasihat-Mu. Ya Allah, jangan tinggalkan hamba sendiri. Hamba mohon, selalulah bersamaku.
Banyak orang mengatakan bahwa waktu seringkali berjalan begitu cepat. Aku pun bisa mengatakan hal yang sama saat ini. Satu tahun yang lalu, aku masih berkutat dengan tugas akhirku demi mendapatkan gelar sarjana. Kalau tidak salah, di hari yang sama tahun lalu, aku sedang mempersiapkan diri untuk ujian pendadaran skripsiku, Modul Perkalian. Aku mengakhiri tahun 2008 lalu dengan ujian pendadaran skripsi dan memulai hari di tahun 2009 dengan revisi skripsiku tersebut. Saat ini, aku pun sedang melakukan hal yang serupa, mempersiapkan diri untuk ujian akhir semester 1 ini. Tanggal 11 Januari 2010 memang masih agak lama, tetapi seperti yang aku katakan di atas bahwa terkadang waktu berjalan begitu cepat.
Saat ini aku merasakan ada perubahan yang cukup besar dalam diriku. Kehidupanku benar-benar mengkerucut, semakin “spesifik”. Aku merasakan orang-orang di sekelilingku saat ini telah memiliki tujuan hidupnya masing-masing, dan mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk mengejar tujuan itu, dan menganyulir waktu bersama dengan diriku. Banyak sekali kawan-kawanku yang telah mengakhiri masa lajang mereka, dan menikah dengan orang yang dicintainya. Adikku pun juga sudah menikah. Jadi, sepertinya wajar kalau ada banyak sekali kalimat seperti ini meluncur ke arahku, “Ipin, kapan kau menikah?”.
Saat ini aku juga sering memperhatikan orang-orang di sekelilingku, apa yang sedang mereka perbuat, memperhatikan cara mereka menyelesaikan masalah, memperhatikan ekspresi mereka sesaat setelah sadar bahwa kesalahan telah dibuatnya. Cukup menarik bagiku. Setidaknya menjadi hiburan tersendiri saat hati tidak terlalu baik suasananya. Terkadang aku juga berpikir bahwa diriku pun mungkin diperhatikan oleh mereka yang aku perhatikan tadi, tanpa aku sadari tentu saja. Apa yang aku perbuat, bagaimana caraku menyelesaikan masalah, bagaimana ekspresiku sesaat setelah sadar bahwa kesalahan telah aku buat, semuanya. Aku hanya berharap, semuanya tadi dapat menorehkan secercah senyuman di wajah mereka, walaupun hanya sedikit.
Saat ini ditulis, aku sedang menunggu Ratih dan Adit. Kami akan melakukan perjalanan ke Sempor, Kebumen. Tugas sebagai “Laskar PBA” masih belum terselesaikan dengan baik, tinggal sedikit lagi. Aku yakin akan datang kerinduan pada wajah-wajah tua mereka yang masih penuh semangat untuk belajar di usia mereka yang senja itu. Hidup selalu seperti ini, rindu saat jauh, ingin bertemu saat tidak bersama. Kata temanku, perpisahan adalah sebuah keniscayaan. Sesuatu yang pasti akan terjadi, dalam suatu pertemuan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Hanya sedikit orang yang mampu menyikapi sebuah perisahan dengan bijak, dan aku ingin menjadi salah satu dari yang sedikit itu. Semoga bisa terlaksana, amiin.
Aku merasa pagi ini cukup sejuk, tidak seperti tadi malam yang panas, dan seperti malam-malam sebelumnya yang juga panas. Satu bulan terakhir ini aku sering berganti pakaian, bukan karena kotor, tetapi karena keringat. Suhu kota Jogja dan sekitarnya memaksa kelenjar keringatku bekerja ekstra untuk memproduksi keringat jauh lebih banyak dari biasanya. Bumi ini semakin panas. Aku tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi pada bumi ini. Banyak orang mengatakan bahwa bumi ini sedang mengalami “global warming”, tetapi baru-baru ini aku malah mendengar berita bahwa bumi ini sejatinya sedang mengalami “global cooling”. Entahlah, mana yang benar dan mana yang salah, aku tidak tahu. Yang aku tahu, cucianku seminggu ini semakin menumpuk, dan belum aku sentuh sama sekali di ember cucianku.
Kalau boleh mengatakan, 4 bulan terakhir ini aku lupa bagaimana caranya untuk bersedih. Aku merasa selama itu aku selalu bahagia, karena ada seseorang yang senantiasa hadir membuat bibir dan pipiku berkontraksi membentuk sebuah senyuman, terkadang besar, dan terkadang kecil. Ada banyak cerita yang bisa disampaikan saat kami mulai bercengkerama. Ada banyak sekali ucapan dan kalimat pemberi semangat setiap hari yang bisa aku dengar di telingaku. Semuanya membuatku merasa nyaman. Ingin rasanya seperti ini terus. Ada yang menyemangati setiap hari. Berbagi cerita setiap saat, berbagi pengalaman setiap hari, berbagi kebahagiaan setiap kali bercengkerama, dan berbagi kesedihan kalau ada. Saling mendoakan dan saling menyamangati.
Oh betapa indahnya jika setiap orang di dunia ini melakukan hal seperti ini, akan menjadi sangat nyaman dan aman bumi ini. Tidak akan ada lagi orang-orang yang merasa menyesal karena telah dilahirkan di dunia ini dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri di mall atau apartemen, dengan cara loncat dari lantai yang sangat tinggi. Ya Allah, apa yang dipikirkan orang-orang itu, maksudku yang loncat dari gedung atau mall itu, sesaat sebelum mereka melakukan aksi “jatuh bebas” mereka. Apakah sudah sedemikian sulitkah hidup mereka. Hidup ini terlalu “eman-eman” jika harus diakhiri begitu saja dengan aksi bunuh diri. Ada begitu banyak cara untuk menikmati hidup menurutku, dan ada banyak orang yang masih ingin hidup sebenarnya. Terlalu aneh hidup ini sepertinya, disaat orang-orang yang divonis hanya tinggal beberapa minggu hidup di dunia ini karena penyakit tertentu, tetapi ada segelintir orang yang justru menyia-nyiakannya begitu saja. Seandainya saja hidup orang yang satu dan yang lain bisa tukar. Huhh…
Mungkin cukup ocehanku di pagi hari ini, karena sepertinya Ratih dan Adit sedang menungguku di depan Circle K jalan Kaliurang KM 4 sana. Semoga perjalanan kami pagi ini lancar dan tidak ada halangan yang berarti, amiin. Semoga Anda juga demikian, selalu bahagia, bersemangat dan tertawa hari ini, dan hari-hari berikutnya. Saling mendoakan dan menyemangati ya, karena aku yakin kita semuanya membutuhkannya. Aku, Anda, dan kita semua membutuhkan cipratan semangat satu sama lain. Sukses selalu untuk aku dan Anda.
Baiklah, mari kita senantiasa berbagi ocehan dan racauan. Apa saja. Nuwun.







Posts

Angka bunuh diri dengan terjun dari ketinggian tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya. Semoga tahun depan udah ga denger lagi berita-berita bunuh diri seperti itu. Juga ga denger lagi berita orang bunuh diri dengan cara apapun. Serem ‘e…
Untuk ujianmu, semoga sukses ya, pin. Met belajar!
” admin:
semoga, amiin.
terima kasih banyak ya, ren.
Please provide more detail on specific cuts and increases.
” admin:
Valuable thoughts and advices. I read your topic with great interest.
“admin:
thank you.
I can see the logic in your argument but I think you’ve painted your strokes.
“admin:
thank you.
I liked it. So much useful material. I read with great interest.
“admin:
thank you.
How much money should I give my daughter to spend on her birthday? russian mp3
“admin:
I have no idea what are you talking about, bro.
I really like your blog and i respect your work. I’ll be a frequent visitor.
“admin:
are you sure? okay, allright…
Hohoho, meski ipin menuliskan kelebatan-kelebatan apa yg dirasakan, tapi cukup beralur, meski…lebay…banyak kata-kata yg berlebihan, sekali duakali okey, banyak kali…lelah yg baca
“admin:
emma kuncup sekali.
kata2mu banyak mengingatkan aku tentang makna hidup yang sebenarnya…
sekeras apapun itu, kita harus tetap berusaha demi untuk hidup yang lebih baik…
“admin:
terima kasih banyak ya, mba.