<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Apakah Malaysia Memang Perlu &#8220;Diganyang&#8221;?</title>
	<atom:link href="http://samsul-arifin.math.web.id/2009/09/08/apakah-malaysia-memang-perlu-diganyang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://samsul-arifin.math.web.id/2009/09/08/apakah-malaysia-memang-perlu-diganyang/</link>
	<description>&#34;Ditulis dengan ketidaksempurnaan. Tanggapi dengan kearifan&#34;</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Mar 2010 14:42:21 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: salmah</title>
		<link>http://samsul-arifin.math.web.id/2009/09/08/apakah-malaysia-memang-perlu-diganyang/#comment-2493</link>
		<dc:creator>salmah</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 17:06:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://samsul-arifin.math.web.id/?p=2138#comment-2493</guid>
		<description>maju lah negeri ku...........

&lt;strong&gt;&quot;admin:&lt;/strong&gt;
majulah Indonesia kita!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>maju lah negeri ku&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p><strong>&#8220;admin:</strong><br />
majulah Indonesia kita!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: hanif</title>
		<link>http://samsul-arifin.math.web.id/2009/09/08/apakah-malaysia-memang-perlu-diganyang/#comment-2328</link>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 02:16:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://samsul-arifin.math.web.id/?p=2138#comment-2328</guid>
		<description>Bingung!

&lt;strong&gt;&quot; admin:&lt;/strong&gt;
jangan bingung, bud.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bingung!</p>
<p><strong>&#8221; admin:</strong><br />
jangan bingung, bud.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mas stein</title>
		<link>http://samsul-arifin.math.web.id/2009/09/08/apakah-malaysia-memang-perlu-diganyang/#comment-2295</link>
		<dc:creator>mas stein</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 02:54:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://samsul-arifin.math.web.id/?p=2138#comment-2295</guid>
		<description>kalo pun harus ngganyang jangan siang-siang mas, nanti puasanya batal :mrgreen:

&lt;strong&gt;&quot; admin:&lt;/strong&gt;
kalau malam, nanti menggunakan prinsip &quot;perang gerilya&quot; dong, om. </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kalo pun harus ngganyang jangan siang-siang mas, nanti puasanya batal <img src='http://samsul-arifin.math.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>&#8221; admin:</strong><br />
kalau malam, nanti menggunakan prinsip &#8220;perang gerilya&#8221; dong, om.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: DV</title>
		<link>http://samsul-arifin.math.web.id/2009/09/08/apakah-malaysia-memang-perlu-diganyang/#comment-2294</link>
		<dc:creator>DV</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 23:20:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://samsul-arifin.math.web.id/?p=2138#comment-2294</guid>
		<description>Nek menurut saya, ketimbang kita mengganyang Malaysia, mending kita menggayang budaya luar yang semakin kentara masuk ke Indonesia bertopengkan globalisasi, westernisasi dan agama...:)

Budaya-budaya luar itu secara langsung maupun tak langsung menurut saya justru membuat kita &#039;lupa&#039; bahwa kita juga punya banyak budaya yang akhirnya diakuisisi (coba diakuisisi) oleh negara lain. Baru sesudah itu kita berpikir untuk mengganyang Malaysia atau tidak.

&lt;strong&gt;&quot; admin:&lt;/strong&gt;
ini juga pemikiran yang baik kok, mas. btw icon&#039;nya ganti ya? tadinya kan gambar dirimu...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nek menurut saya, ketimbang kita mengganyang Malaysia, mending kita menggayang budaya luar yang semakin kentara masuk ke Indonesia bertopengkan globalisasi, westernisasi dan agama&#8230;:)</p>
<p>Budaya-budaya luar itu secara langsung maupun tak langsung menurut saya justru membuat kita &#8216;lupa&#8217; bahwa kita juga punya banyak budaya yang akhirnya diakuisisi (coba diakuisisi) oleh negara lain. Baru sesudah itu kita berpikir untuk mengganyang Malaysia atau tidak.</p>
<p><strong>&#8221; admin:</strong><br />
ini juga pemikiran yang baik kok, mas. btw icon&#8217;nya ganti ya? tadinya kan gambar dirimu&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: kawanlama95</title>
		<link>http://samsul-arifin.math.web.id/2009/09/08/apakah-malaysia-memang-perlu-diganyang/#comment-2287</link>
		<dc:creator>kawanlama95</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 11:40:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://samsul-arifin.math.web.id/?p=2138#comment-2287</guid>
		<description>kita terkadang reponsif tapi kita miskin terhadap aplikasi. semoga bisa selesai urusan ini.

&lt;strong&gt;&quot; admin:&lt;/strong&gt;
amiin, semoga hubungan kedua negara ini bisa kembali rukun dan damai, saling membantu kalau bisa untuk ke depannya. </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kita terkadang reponsif tapi kita miskin terhadap aplikasi. semoga bisa selesai urusan ini.</p>
<p><strong>&#8221; admin:</strong><br />
amiin, semoga hubungan kedua negara ini bisa kembali rukun dan damai, saling membantu kalau bisa untuk ke depannya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: suwung</title>
		<link>http://samsul-arifin.math.web.id/2009/09/08/apakah-malaysia-memang-perlu-diganyang/#comment-2272</link>
		<dc:creator>suwung</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 05:19:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://samsul-arifin.math.web.id/?p=2138#comment-2272</guid>
		<description>tarik balik semua tki gitu ajah kok repot.

&lt;strong&gt;&quot; admin:&lt;/strong&gt;
iya, gitu aja kok repot.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tarik balik semua tki gitu ajah kok repot.</p>
<p><strong>&#8221; admin:</strong><br />
iya, gitu aja kok repot.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: admin</title>
		<link>http://samsul-arifin.math.web.id/2009/09/08/apakah-malaysia-memang-perlu-diganyang/#comment-2267</link>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 22:37:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://samsul-arifin.math.web.id/?p=2138#comment-2267</guid>
		<description>Aku juga suka komentar tokoh yang satu ini. Malaysia jadi provinsi ke-34, sepertinya bukan ide yang buruk.

&lt;blockquote&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img class=&quot;aligncenter&quot; src=&quot;http://media.kapanlagi.com/p/tio_pakusadewo_nop_03.jpg&quot; alt=&quot;aku2&quot; width=&quot;171&quot; height=&quot;194&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;strong&gt;&lt;a title=&quot;...&quot; href=&quot;http://www.kapanlagi.com/h/tio-pakusadewo-malaysia-harus-jadi-provinsi-ke-34.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Tio Pakusadewo: Malaysia Harus Jadi Provinsi Ke-34&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;

Hubungan yang tidak baik antara dua negara Malaysia dan Indonesia semakin memanas. Ditambah lagi, Malaysia mengakui tari Pendet sebagai bagian dari kebudayaannya. Aktor senior Tio Pakusadewo pun menganggap Malaysia pantas bergabung sebagai provinsi ke-34 dari bagian negara Indonesia. &quot;Mungkin mereka memang sudah pantas menjadi bagian dari provinsi kita. Kasihan kan mereka memang ingin sekali gabung dengan kita kelihatannya. Tapi kasihan sekali mereka karena hanya mengakui tanpa memiliki dasar kebudayaan yang jelas sekali,&quot; kata Tio saat ditemui di Planet Hollywood, Jakarta, Sabtu (29/8) malam.

Namun meski begitu, aktor yang sudah banyak makan asam garam dalam bermain film ini meminta agar masyarakat Indonesia tidak emosi menanggapi kasus antar dua negara ini. Apalagi saat ini masyarakat sedang menjalani bulan Ramadhan. &quot;Sebagai memandang persoalan negara, sebaiknya sih sabar dulu karena ini bulan puasa. Tapi kalau lama-lama terus-terusan muncul, ya nyusahin juga. Makanya Indonesia harus memikirkan langkah yang terbaik,&quot; kata Tio.
&lt;/blockquote&gt;

Kemudian, dengar pula komentar tokoh yang satu ini juga. Malaysia tukang bohong, benarkah? 

&lt;blockquote&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img class=&quot;aligncenter&quot; src=&quot;http://media.kapanlagi.com/p/Dwiki_Dharmawan-000221.jpg&quot; alt=&quot;aku2&quot; width=&quot;201&quot; height=&quot;194&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;strong&gt;&lt;a title=&quot;...&quot; href=&quot;http://www.kapanlagi.com/h/dwiki-dharmawan-sebut-malaysia-tukang-bohong.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Dwiki Dharmawan Sebut Malaysia Tukang Bohong&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;

Belakangan ini perhatian seluruh rakyat Indonesia sedang tertuju pada &#039;pencaplokan&#039; kebudayaan nasional yang gencar dilakukan oleh Malaysia. Demikian halnya dengan sosok seniman kenyang pengalaman, Dwiki Dharmawan, yang menyebutnya sebagai tindakan yang membohongi publik dunia internasional. &quot;Soal pengakuan negara lain yang mengklaim budaya Indonesia, sebenernya negara itu sudah membohongi publik dunia,&quot; ujar musisi yang telah melanglang buana dari Cannes sampai Venezuela tersebut. &quot;Mereka mengklaim identitas negara Indonesia dengan mengakui budaya itu miliknya,&quot; tambahnya menegaskan. Ditemui KapanLagi.com setelah berdialog dengan MPR RI, di gedung MPR, Senayan Jakarta, Rabu (2/9), suami Ita Purnamasari itu lantas mengutarakan pemikirannya soal perlindungan terhadap budaya nasional. 

&quot;Banyak yang mempromosikan lewat media, pagelaran itu salah satu caranya,&quot; ungkap keyboardist asal Bandung itu. &quot;Pembangunan taman budaya itu kalau bisa ada di seluruh Kabupaten, kita juga harus bangun pusat-pusat budaya Indonesia di luar negeri, supaya mereka kenal apa aja yang dimiliki. Tapi sayangnya pemerintah itu masih menghitung cost dan income, padahal itu merupakan investasi yang besar untuk jangka panjang,&quot; imbuhnya panjang. Sementara itu, disinggung soal hak paten yang mungkin bisa dilakukan sebagai salah satu cara melindungi kebudayaan nasional, mantan punggawa Krakatau di era 80-an itu rupanya punya pendapat sendiri. &quot;Secara nasional tidak sulit, tapi menunggunya itu yang lama. Dari Dirjen HAKI itu SDM-nya gak banyak, seharusnya bisa diperluas setingkat Kementerian,&quot; pungkasnya. 
&lt;/blockquote&gt;

Nah ini, lebih keren kayaknya, mau boikot produk Malaysia? Emang produk Malaysia di negeri kita ini apa aja sih?

&lt;blockquote&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img class=&quot;aligncenter&quot; src=&quot;http://media.kapanlagi.com/p/ray_sahetapy_0a.jpg&quot; alt=&quot;aku2&quot; width=&quot;151&quot; height=&quot;194&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;strong&gt;&lt;a title=&quot;...&quot; href=&quot;http://www.kapanlagi.com/h/ray-sahetapy-boikot-produk-malaysia.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Ray Sahetapy: Boikot Produk Malaysia!&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;

Merasa bangsanya dilecehkan, Ray Sahetapy langsung unjuk gigi. Ia terlihat begitu semangat di acara galang relawan untuk Ganyang Malaysia. Ray mengaku &#039;dendam&#039; itu sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Dan sebagai pekerja seni ia merasa berkewajiban untuk membela kebudayaan Indonesia yang belakangan ada yang diakui sebagai kebudayaan Malaysia. &quot;Saya antusias banget untuk mendaftar Ganyang Malaysia, karena sudah lama Malaysia telah menghina dan melecehkan bangsa ini. Mereka itu telah mengirim dua pengebom, Noordin sama Azhari, terus Ambalat, pekerja dianiaya, terus sekarang melecehkan kita dengan mengaku-aku kebudayaan kita,&quot; kata Ray saat ditemui di eks kantor PDIP, Jl. Diponegoro 8 Menteng, Jakarta Pusat. [Info untuk Anda: &quot;Semua berita KapanLagi.com bisa dibuka di ponsel. Pastikan layanan GPRS atau 3G Anda sudah aktif, lalu buka mobile internet browser Anda, masukkan alamat: m.kapanlagi.com&quot;] 

Ditegaskan mantan suami Dewi Yull ini, Malaysia seharusnya jangan bermain-main sebagai bangsa. Dan sebagai warga negara yang baik, Ray siap membela tanah air ini. &quot;Sebagai seorang aktor ataupun pekerja seni, saya merasa harus berperang melawan Malaysia melalui seni dan kebudayaan, bagaimana kita harus mempertahankannya, karena kebudayaan kita udah sering diambil oleh Malaysia,&quot; tegasnya. &quot;Kita sebagai bangsa harus jelas mempertahankan jati diri kita. Saya selalu berpikir untuk negara ini tiap hari, karena saya kalau mati nggak mungkin dikubur di tanah lain kecuali di Indonesia,&quot; sambungnya dengan penuh semangat. Ia juga menuturkan sebagai wujud nyata bisa dilakukan dengan hal kecil seperti ini, atau dengan memboikot produk yang berasal atau mencerminkan Malaysia. Ia berharap dengan adanya hal ini akan bisa memicu masyarakat untuk memperjuangkan hak-hak bangsa. 

&quot;Masak kalau masalah Arab atau Israel aja kita ngotot tapi untuk nasionalisme kita nggak? Mungkin juga peran para pemuka agama antar negara bisa berdialog untuk membahas masalah ini, dari terorisme maupun yang lain, karena bisa jadi ada kemungkinan ada agenda besar dari negara lain,&quot; urainya. Ray menilai, peran pemerintah mengatasi masalah ini masih belum maksimal. Tapi ia juga memaklumi karena pemerintah juga masih lelah karena baru menyelenggarakan Pemilu Legislatif dan Pilpres. Ia juga menegaskan jika untuk urusan TKI, bangsa Indonesia tidak perlu takut. &quot;Kita ini bangsa yang kaya. Mungkin selama ini penanganannya aja yang salah, tapi kita masih punya lahan kosong yang banyak, kekayaan alam yang melimpah, jadi saya tekankan ya, jangan takut!&quot; pungkasnya.
&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Aku juga suka komentar tokoh yang satu ini. Malaysia jadi provinsi ke-34, sepertinya bukan ide yang buruk.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://media.kapanlagi.com/p/tio_pakusadewo_nop_03.jpg" alt="aku2" width="171" height="194" /></p>
<p><strong><a title="..." href="http://www.kapanlagi.com/h/tio-pakusadewo-malaysia-harus-jadi-provinsi-ke-34.html" rel="nofollow">Tio Pakusadewo: Malaysia Harus Jadi Provinsi Ke-34</a></strong></p>
<p>Hubungan yang tidak baik antara dua negara Malaysia dan Indonesia semakin memanas. Ditambah lagi, Malaysia mengakui tari Pendet sebagai bagian dari kebudayaannya. Aktor senior Tio Pakusadewo pun menganggap Malaysia pantas bergabung sebagai provinsi ke-34 dari bagian negara Indonesia. &#8220;Mungkin mereka memang sudah pantas menjadi bagian dari provinsi kita. Kasihan kan mereka memang ingin sekali gabung dengan kita kelihatannya. Tapi kasihan sekali mereka karena hanya mengakui tanpa memiliki dasar kebudayaan yang jelas sekali,&#8221; kata Tio saat ditemui di Planet Hollywood, Jakarta, Sabtu (29/8) malam.</p>
<p>Namun meski begitu, aktor yang sudah banyak makan asam garam dalam bermain film ini meminta agar masyarakat Indonesia tidak emosi menanggapi kasus antar dua negara ini. Apalagi saat ini masyarakat sedang menjalani bulan Ramadhan. &#8220;Sebagai memandang persoalan negara, sebaiknya sih sabar dulu karena ini bulan puasa. Tapi kalau lama-lama terus-terusan muncul, ya nyusahin juga. Makanya Indonesia harus memikirkan langkah yang terbaik,&#8221; kata Tio.
</p></blockquote>
<p>Kemudian, dengar pula komentar tokoh yang satu ini juga. Malaysia tukang bohong, benarkah? </p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://media.kapanlagi.com/p/Dwiki_Dharmawan-000221.jpg" alt="aku2" width="201" height="194" /></p>
<p><strong><a title="..." href="http://www.kapanlagi.com/h/dwiki-dharmawan-sebut-malaysia-tukang-bohong.html" rel="nofollow">Dwiki Dharmawan Sebut Malaysia Tukang Bohong</a></strong></p>
<p>Belakangan ini perhatian seluruh rakyat Indonesia sedang tertuju pada &#8216;pencaplokan&#8217; kebudayaan nasional yang gencar dilakukan oleh Malaysia. Demikian halnya dengan sosok seniman kenyang pengalaman, Dwiki Dharmawan, yang menyebutnya sebagai tindakan yang membohongi publik dunia internasional. &#8220;Soal pengakuan negara lain yang mengklaim budaya Indonesia, sebenernya negara itu sudah membohongi publik dunia,&#8221; ujar musisi yang telah melanglang buana dari Cannes sampai Venezuela tersebut. &#8220;Mereka mengklaim identitas negara Indonesia dengan mengakui budaya itu miliknya,&#8221; tambahnya menegaskan. Ditemui KapanLagi.com setelah berdialog dengan MPR RI, di gedung MPR, Senayan Jakarta, Rabu (2/9), suami Ita Purnamasari itu lantas mengutarakan pemikirannya soal perlindungan terhadap budaya nasional. </p>
<p>&#8220;Banyak yang mempromosikan lewat media, pagelaran itu salah satu caranya,&#8221; ungkap keyboardist asal Bandung itu. &#8220;Pembangunan taman budaya itu kalau bisa ada di seluruh Kabupaten, kita juga harus bangun pusat-pusat budaya Indonesia di luar negeri, supaya mereka kenal apa aja yang dimiliki. Tapi sayangnya pemerintah itu masih menghitung cost dan income, padahal itu merupakan investasi yang besar untuk jangka panjang,&#8221; imbuhnya panjang. Sementara itu, disinggung soal hak paten yang mungkin bisa dilakukan sebagai salah satu cara melindungi kebudayaan nasional, mantan punggawa Krakatau di era 80-an itu rupanya punya pendapat sendiri. &#8220;Secara nasional tidak sulit, tapi menunggunya itu yang lama. Dari Dirjen HAKI itu SDM-nya gak banyak, seharusnya bisa diperluas setingkat Kementerian,&#8221; pungkasnya.
</p></blockquote>
<p>Nah ini, lebih keren kayaknya, mau boikot produk Malaysia? Emang produk Malaysia di negeri kita ini apa aja sih?</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://media.kapanlagi.com/p/ray_sahetapy_0a.jpg" alt="aku2" width="151" height="194" /></p>
<p><strong><a title="..." href="http://www.kapanlagi.com/h/ray-sahetapy-boikot-produk-malaysia.html" rel="nofollow">Ray Sahetapy: Boikot Produk Malaysia!</a></strong></p>
<p>Merasa bangsanya dilecehkan, Ray Sahetapy langsung unjuk gigi. Ia terlihat begitu semangat di acara galang relawan untuk Ganyang Malaysia. Ray mengaku &#8216;dendam&#8217; itu sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Dan sebagai pekerja seni ia merasa berkewajiban untuk membela kebudayaan Indonesia yang belakangan ada yang diakui sebagai kebudayaan Malaysia. &#8220;Saya antusias banget untuk mendaftar Ganyang Malaysia, karena sudah lama Malaysia telah menghina dan melecehkan bangsa ini. Mereka itu telah mengirim dua pengebom, Noordin sama Azhari, terus Ambalat, pekerja dianiaya, terus sekarang melecehkan kita dengan mengaku-aku kebudayaan kita,&#8221; kata Ray saat ditemui di eks kantor PDIP, Jl. Diponegoro 8 Menteng, Jakarta Pusat. [Info untuk Anda: "Semua berita KapanLagi.com bisa dibuka di ponsel. Pastikan layanan GPRS atau 3G Anda sudah aktif, lalu buka mobile internet browser Anda, masukkan alamat: m.kapanlagi.com"] </p>
<p>Ditegaskan mantan suami Dewi Yull ini, Malaysia seharusnya jangan bermain-main sebagai bangsa. Dan sebagai warga negara yang baik, Ray siap membela tanah air ini. &#8220;Sebagai seorang aktor ataupun pekerja seni, saya merasa harus berperang melawan Malaysia melalui seni dan kebudayaan, bagaimana kita harus mempertahankannya, karena kebudayaan kita udah sering diambil oleh Malaysia,&#8221; tegasnya. &#8220;Kita sebagai bangsa harus jelas mempertahankan jati diri kita. Saya selalu berpikir untuk negara ini tiap hari, karena saya kalau mati nggak mungkin dikubur di tanah lain kecuali di Indonesia,&#8221; sambungnya dengan penuh semangat. Ia juga menuturkan sebagai wujud nyata bisa dilakukan dengan hal kecil seperti ini, atau dengan memboikot produk yang berasal atau mencerminkan Malaysia. Ia berharap dengan adanya hal ini akan bisa memicu masyarakat untuk memperjuangkan hak-hak bangsa. </p>
<p>&#8220;Masak kalau masalah Arab atau Israel aja kita ngotot tapi untuk nasionalisme kita nggak? Mungkin juga peran para pemuka agama antar negara bisa berdialog untuk membahas masalah ini, dari terorisme maupun yang lain, karena bisa jadi ada kemungkinan ada agenda besar dari negara lain,&#8221; urainya. Ray menilai, peran pemerintah mengatasi masalah ini masih belum maksimal. Tapi ia juga memaklumi karena pemerintah juga masih lelah karena baru menyelenggarakan Pemilu Legislatif dan Pilpres. Ia juga menegaskan jika untuk urusan TKI, bangsa Indonesia tidak perlu takut. &#8220;Kita ini bangsa yang kaya. Mungkin selama ini penanganannya aja yang salah, tapi kita masih punya lahan kosong yang banyak, kekayaan alam yang melimpah, jadi saya tekankan ya, jangan takut!&#8221; pungkasnya.
</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: admin</title>
		<link>http://samsul-arifin.math.web.id/2009/09/08/apakah-malaysia-memang-perlu-diganyang/#comment-2235</link>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 15:10:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://samsul-arifin.math.web.id/?p=2138#comment-2235</guid>
		<description>Aku suka pendapat tokoh yang satu ini:

&lt;blockquote&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img class=&quot;aligncenter&quot; src=&quot;http://d.yimg.com/hb/xp/kplg/20090909/15/3231941180-cak-nun-malaysia-salah-klaim-budaya.jpg&quot; alt=&quot;aku2&quot; width=&quot;251&quot; height=&quot;194&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;strong&gt;&lt;a title=&quot;...&quot; href=&quot;http://id.news.yahoo.com/kplg/20090909/ten-cak-nun-malaysia-salah-klaim-budaya-51d3def.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Cak Nun: Malaysia Salah Klaim Budaya!&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;

&#039;Kebiasaan&#039; Malaysia yang belakangan sering mengklaim budaya Indonesia, dinilai Emha Ainun Nadjib sebagai hal yang benar-benar salah. Budayawan senior ini menganggap apa yang dilakukan pemerintah Malaysia tersebut sebagai salah klaim. &quot;Dan ironisnya Pemerintah Indonesia hingga kini belum memiliki kebijakan untuk menyelesaikannya,&quot; kata Cak Nun sapaan akrab Emha Ainun Nadjib saat dikonfirmasi usai tampil di Alun-alun Gresik bersama grup musik Kiai Kanjeng, Rabu (9/9). Cak Nun mencontohkan, orang asli Lamongan menjual soto di Hawaii, memang ketika diidentifikasi secara hukum sah apabila soto tersebut disebut Soto Hawaii, tetapi salah jika soto tersebut diklaim milik Hawaii. Sama kasusnya dengan klaim yang dilakukan Malaysia, katanya reog di Malaysia sah secara hukum apabila disebut Reog Malaysia. &quot;Tidak menjadi masalah ketika Reog Malaysia copyright atau hak ciptanya Malaysia. Salahnya, ketika reog tersebut diklaim milik Malaysia. Reognya itu tetap milik Ponorogo,&quot; kata Cak Nun. Lebih lanjut dijelaskannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dianggap Cak Nun tidak memiliki kemampuan menyelesaikan kasus ini. Terbukti, ketika Cak Nun bertandang ke kediaman SBY di Cikeas Kabupaten Bogor, Jawa Barat beberapa waktu lalu, SBY belum memiliki kebijakan. &quot;Sudah saya cek ke Cikeas, Presiden menjawab, pihaknya belum mempunyai policy (kebijakan), sebab ini masalah hukum internasional,&quot; kata Cak Nun menirukan SBY. 

Cak Nun menilai kasus ini lebih dari sekadar hukum internasional, tapi masalah martabat bangsa Indonesia yang telah diinjak-injak. Disebutkan, beragam hubungan dengan luar negeri, mulai dari hubungan yuridis, hukum internasional, hubungan diplomatik, hubungan kebudayaan, dan lain-lain. &quot;Seorang lelaki menyatakan cintanya kepada seorang wanita saja ada puluhan cara, kenapa negara kita menghadapi kasus ini tidak punya cara?&quot; ujarnya. Menurut Cak Nun, setiap masalah harus merefleksikan kecerdasan untuk menentukan formula solusinya. Sayangnya, Cak Nun enggan ketika dimintai contoh konkret cara tersebut. &quot;Jika saya diberi wewenang untuk menyelesaikan kasus Malaysia, saya bakal ngomong kepada pemberi wewenang tersebut, bukan di forum ini,&quot; pungkasnya.
&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Aku suka pendapat tokoh yang satu ini:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://d.yimg.com/hb/xp/kplg/20090909/15/3231941180-cak-nun-malaysia-salah-klaim-budaya.jpg" alt="aku2" width="251" height="194" /></p>
<p><strong><a title="..." href="http://id.news.yahoo.com/kplg/20090909/ten-cak-nun-malaysia-salah-klaim-budaya-51d3def.html" rel="nofollow">Cak Nun: Malaysia Salah Klaim Budaya!</a></strong></p>
<p>&#8216;Kebiasaan&#8217; Malaysia yang belakangan sering mengklaim budaya Indonesia, dinilai Emha Ainun Nadjib sebagai hal yang benar-benar salah. Budayawan senior ini menganggap apa yang dilakukan pemerintah Malaysia tersebut sebagai salah klaim. &#8220;Dan ironisnya Pemerintah Indonesia hingga kini belum memiliki kebijakan untuk menyelesaikannya,&#8221; kata Cak Nun sapaan akrab Emha Ainun Nadjib saat dikonfirmasi usai tampil di Alun-alun Gresik bersama grup musik Kiai Kanjeng, Rabu (9/9). Cak Nun mencontohkan, orang asli Lamongan menjual soto di Hawaii, memang ketika diidentifikasi secara hukum sah apabila soto tersebut disebut Soto Hawaii, tetapi salah jika soto tersebut diklaim milik Hawaii. Sama kasusnya dengan klaim yang dilakukan Malaysia, katanya reog di Malaysia sah secara hukum apabila disebut Reog Malaysia. &#8220;Tidak menjadi masalah ketika Reog Malaysia copyright atau hak ciptanya Malaysia. Salahnya, ketika reog tersebut diklaim milik Malaysia. Reognya itu tetap milik Ponorogo,&#8221; kata Cak Nun. Lebih lanjut dijelaskannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dianggap Cak Nun tidak memiliki kemampuan menyelesaikan kasus ini. Terbukti, ketika Cak Nun bertandang ke kediaman SBY di Cikeas Kabupaten Bogor, Jawa Barat beberapa waktu lalu, SBY belum memiliki kebijakan. &#8220;Sudah saya cek ke Cikeas, Presiden menjawab, pihaknya belum mempunyai policy (kebijakan), sebab ini masalah hukum internasional,&#8221; kata Cak Nun menirukan SBY. </p>
<p>Cak Nun menilai kasus ini lebih dari sekadar hukum internasional, tapi masalah martabat bangsa Indonesia yang telah diinjak-injak. Disebutkan, beragam hubungan dengan luar negeri, mulai dari hubungan yuridis, hukum internasional, hubungan diplomatik, hubungan kebudayaan, dan lain-lain. &#8220;Seorang lelaki menyatakan cintanya kepada seorang wanita saja ada puluhan cara, kenapa negara kita menghadapi kasus ini tidak punya cara?&#8221; ujarnya. Menurut Cak Nun, setiap masalah harus merefleksikan kecerdasan untuk menentukan formula solusinya. Sayangnya, Cak Nun enggan ketika dimintai contoh konkret cara tersebut. &#8220;Jika saya diberi wewenang untuk menyelesaikan kasus Malaysia, saya bakal ngomong kepada pemberi wewenang tersebut, bukan di forum ini,&#8221; pungkasnya.
</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: afwan auliyar</title>
		<link>http://samsul-arifin.math.web.id/2009/09/08/apakah-malaysia-memang-perlu-diganyang/#comment-2232</link>
		<dc:creator>afwan auliyar</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 11:23:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://samsul-arifin.math.web.id/?p=2138#comment-2232</guid>
		<description>kalo perang ke dua negara, bakal kalah atau menang kita ?!?!
secara negeri ini besar, gt lho  :D

&lt;strong&gt;&quot; admin:&lt;/strong&gt;
ehmm, semoga ga terjadi perang, mas.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kalo perang ke dua negara, bakal kalah atau menang kita ?!?!<br />
secara negeri ini besar, gt lho  <img src='http://samsul-arifin.math.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>&#8221; admin:</strong><br />
ehmm, semoga ga terjadi perang, mas.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: putut purwandono, s.e.</title>
		<link>http://samsul-arifin.math.web.id/2009/09/08/apakah-malaysia-memang-perlu-diganyang/#comment-2227</link>
		<dc:creator>putut purwandono, s.e.</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 01:54:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://samsul-arifin.math.web.id/?p=2138#comment-2227</guid>
		<description>Hahaha, aku rasa reaksi beberapa orang di atas terlalu berlebihan Pin dan kurang efektif. Biasalah, orang2 yang democrazy. Berlebihan? Kenapa? Tentu saja berlebihan, apa gunanya membakar bendera Malaysia, memperolok mereka? &lt;strong&gt;Emang negara kita ini sudah benar-benar bener ya???&lt;/strong&gt; Emang di sekitar kita tidak ada masalah yang perlu perhatian dan tindakan nyata yang lebih banyak?? Sudahlah lah, reactive action itu sekarang sebaiknya diwujudkan dalam skema yang positif. Contoh: batik, reog dan tari pendet dibajak. 

Reaksinya bisa seperti ini:
1. Ngajak mahasiswa atau pelancong Malaysia lomba membatik, lomba nari Pendet, atau mengorganisir acara pentas budaya dan seni Indonesia di Malaysia atau negara-negara tetangga di ASEAN. Jangan lupa undang delegasi Malaysia.
2. Bikin seminar atau dialog interaktif untuk membuat grand strategy menjaga dan melestarikan budaya bangsa.
3. Bikin usaha, buka gerai Mirota Batik di Kuala Lumpur atau di Pahang, atau somewhere lah di Malaysia sono.
4. Usulkan ke Sekjen ASEAN untuk menggunakan pakaian batik pada saat konferensi tahunan, dsb.

Lihat aja di UGM Pin, berapa orang sih yang datang ke acara-acara budaya? Seni, teater, kethoprak lesung??? Jarang. Kalau ada acara sport, music, tabligh akbar, buka puasa bareng, orasi, atau temu ilmiah banyak yang datang. Sebagai bangsa sebenarnya kita sudah kehilangan jatidiri. Menurutku, kita juga nggak tepat sebenarnya memakai isitilah bangsa Indonesia, lebih tepat &lt;strong&gt;Negara Kesatuan Republik Indonesia&lt;/strong&gt;. Karena apa? Karena ada begitu banyak suku bangsa di Indonesia dan mereka punya corak tradisi masing2, nggak bisa dan nggak akan bisa disamaratakan. Lihatlah Uni Sovyet yang multi etnis dulu. Selalu ada salah satu ras/suku yang mendominasi. Ketika ras/suku lain merasa terjajah dan terdiskriminasi, maka Uni tersebut akan pecah. 

So, untuk menjadi sebuah bangsa dengan menyatukan seluruh ras, harus ada nilai-nilai atau kultur-kultur tunggal yang kuat yang secara konsensus disepakati sebagai Nation Value oleh seluruh rakyat. Valuenya apa saja? Salah satunya adalah penghormatan dan implementasi riil terhadap HAM, kemudian kapastian hukum, disiplin, perlindungan warga negara, pelestarian budaya suku bangsa, dsb. Intinya adalah sebuah value yang mencerminkan &lt;strong&gt;&quot;ini lho Indonesia&quot;.&lt;/strong&gt; Lihatlah Amerika Serikat dengan Green Card-nya yang banyak diburu orang-orang di luar AS. Ini membuktikan bahwa AS punya value yang bisa dipercaya keberadaannya dan implementasinya. Orang-orang di sana tetap akan mengatakan &quot;I came from Chicago&quot; atau &quot;I am a New York citizen&quot;. 

Ya tetap ada rasa cinta dan pencitraan diri tentang daerah asalnya, tapi mereka bangga dengan ke-Amerikaannya. Bahkan tidak sedikit orang Indonesia yang ada di sana kagum dengan sistem yang berlaku di sana, tentang kepastian hukum, perlindungan warga negaram, walau tidak bisa dipungkiri banyak masalah hukum dan HAM juga terjadi di AS. Lalu kita ke negara-negara Skadinavia, sperti Norwegia atau Swedia. Negara-negara itu disebut sebagai welfare state dalam arti yang sesungguhnya dimana hak-hak sosial diperhatikan dengan sangat baik, kesejahteraan bahkan lebih baik dari negara sosialis yang memiliki ideologi sama rasa sama rata. Look, betapa kontrak &quot;prestasi&quot; dan &quot;karakter&quot; orang Indonesia dengan negara-negara yang saya contohkan. Belum lagi jika dibandingkan dengan Jepang yang bangkit begitu cepat dari keterpurukannya di PD ke-II. They have positive values which have been implemented by the their citizen and government.

Nggak ada salahnya memang nasionalisme itu. &lt;strong&gt;Wajar kita marah terhadap klaim dan &quot;hinaan&quot; Malaysia terhadap negeri ini. Tapi, kita harus cerdas dalam menanggapinya.&lt;/strong&gt; Mari, kita selesaikan pekerjaan-pekerjaan di rumah kita sendiri, Indonesia, sebelum kita melawan pihak asing. Seperti juga makna puasa itu sendiri dimana musuh terbesar yang harus kita taklukkan adalah hawa nafsu kita sendiri, bukan hawa nafsu orang lain. &lt;strong&gt;Ingat itu Pin!!!!&lt;/strong&gt;

&lt;strong&gt;&quot; admin:&lt;/strong&gt;
no comment deh, kau benar sekali, putut.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hahaha, aku rasa reaksi beberapa orang di atas terlalu berlebihan Pin dan kurang efektif. Biasalah, orang2 yang democrazy. Berlebihan? Kenapa? Tentu saja berlebihan, apa gunanya membakar bendera Malaysia, memperolok mereka? <strong>Emang negara kita ini sudah benar-benar bener ya???</strong> Emang di sekitar kita tidak ada masalah yang perlu perhatian dan tindakan nyata yang lebih banyak?? Sudahlah lah, reactive action itu sekarang sebaiknya diwujudkan dalam skema yang positif. Contoh: batik, reog dan tari pendet dibajak. </p>
<p>Reaksinya bisa seperti ini:<br />
1. Ngajak mahasiswa atau pelancong Malaysia lomba membatik, lomba nari Pendet, atau mengorganisir acara pentas budaya dan seni Indonesia di Malaysia atau negara-negara tetangga di ASEAN. Jangan lupa undang delegasi Malaysia.<br />
2. Bikin seminar atau dialog interaktif untuk membuat grand strategy menjaga dan melestarikan budaya bangsa.<br />
3. Bikin usaha, buka gerai Mirota Batik di Kuala Lumpur atau di Pahang, atau somewhere lah di Malaysia sono.<br />
4. Usulkan ke Sekjen ASEAN untuk menggunakan pakaian batik pada saat konferensi tahunan, dsb.</p>
<p>Lihat aja di UGM Pin, berapa orang sih yang datang ke acara-acara budaya? Seni, teater, kethoprak lesung??? Jarang. Kalau ada acara sport, music, tabligh akbar, buka puasa bareng, orasi, atau temu ilmiah banyak yang datang. Sebagai bangsa sebenarnya kita sudah kehilangan jatidiri. Menurutku, kita juga nggak tepat sebenarnya memakai isitilah bangsa Indonesia, lebih tepat <strong>Negara Kesatuan Republik Indonesia</strong>. Karena apa? Karena ada begitu banyak suku bangsa di Indonesia dan mereka punya corak tradisi masing2, nggak bisa dan nggak akan bisa disamaratakan. Lihatlah Uni Sovyet yang multi etnis dulu. Selalu ada salah satu ras/suku yang mendominasi. Ketika ras/suku lain merasa terjajah dan terdiskriminasi, maka Uni tersebut akan pecah. </p>
<p>So, untuk menjadi sebuah bangsa dengan menyatukan seluruh ras, harus ada nilai-nilai atau kultur-kultur tunggal yang kuat yang secara konsensus disepakati sebagai Nation Value oleh seluruh rakyat. Valuenya apa saja? Salah satunya adalah penghormatan dan implementasi riil terhadap HAM, kemudian kapastian hukum, disiplin, perlindungan warga negara, pelestarian budaya suku bangsa, dsb. Intinya adalah sebuah value yang mencerminkan <strong>&#8220;ini lho Indonesia&#8221;.</strong> Lihatlah Amerika Serikat dengan Green Card-nya yang banyak diburu orang-orang di luar AS. Ini membuktikan bahwa AS punya value yang bisa dipercaya keberadaannya dan implementasinya. Orang-orang di sana tetap akan mengatakan &#8220;I came from Chicago&#8221; atau &#8220;I am a New York citizen&#8221;. </p>
<p>Ya tetap ada rasa cinta dan pencitraan diri tentang daerah asalnya, tapi mereka bangga dengan ke-Amerikaannya. Bahkan tidak sedikit orang Indonesia yang ada di sana kagum dengan sistem yang berlaku di sana, tentang kepastian hukum, perlindungan warga negaram, walau tidak bisa dipungkiri banyak masalah hukum dan HAM juga terjadi di AS. Lalu kita ke negara-negara Skadinavia, sperti Norwegia atau Swedia. Negara-negara itu disebut sebagai welfare state dalam arti yang sesungguhnya dimana hak-hak sosial diperhatikan dengan sangat baik, kesejahteraan bahkan lebih baik dari negara sosialis yang memiliki ideologi sama rasa sama rata. Look, betapa kontrak &#8220;prestasi&#8221; dan &#8220;karakter&#8221; orang Indonesia dengan negara-negara yang saya contohkan. Belum lagi jika dibandingkan dengan Jepang yang bangkit begitu cepat dari keterpurukannya di PD ke-II. They have positive values which have been implemented by the their citizen and government.</p>
<p>Nggak ada salahnya memang nasionalisme itu. <strong>Wajar kita marah terhadap klaim dan &#8220;hinaan&#8221; Malaysia terhadap negeri ini. Tapi, kita harus cerdas dalam menanggapinya.</strong> Mari, kita selesaikan pekerjaan-pekerjaan di rumah kita sendiri, Indonesia, sebelum kita melawan pihak asing. Seperti juga makna puasa itu sendiri dimana musuh terbesar yang harus kita taklukkan adalah hawa nafsu kita sendiri, bukan hawa nafsu orang lain. <strong>Ingat itu Pin!!!!</strong></p>
<p><strong>&#8221; admin:</strong><br />
no comment deh, kau benar sekali, putut.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
