Apakah Malaysia Memang Perlu “Diganyang”?
![]()
Malam ini aku menemukan banyak sekali berita-berita terkait hubungan Indonesia-Malaysia yang memanas. Mungkin ini disebabkan oleh sikap pemerintah Indonesia yang terkesan “menutup mata” dan sikap pemerintah Malaysia yang juga terkesan “santai” dan seolah-olah berkata, “Hai Indonesia, sabar dulu ya, jangan emosi dulu”. Bagi beberapa pihak yang menjadi elemen negeri ini, yang tidak ingin masalah ini berlarut-larut, dan tidak ingin lagi nama Indonesia diinjak-injak lagi, tidak terlalu suka dengan kedua sikap tersebut. Masalah krusial ini harus segera diselesaikan, langkah tegas harus segera diambil, dan nama baik Indonesia harus kembali ditegakkan dan diharumkan.
Sungguh salut aku pada beberapa elemen bangsa ini yang berani mengambil tindakan tegas, sebuah tindakan yang terkesan anarkis, tetapi justru begitulah seharusnya bentuk rasa cinta tanah air dan rasa nasionalisme yang tinggi: membakar bendera negara, yang dianggap melecehkan bangsa sendiri: Indonesia. Mungkin Anda akan cukup tercengang dengan tulisan-tulisan di bawah ini. Oh iya, semua tulisan-tulisan yang berada dalam quote bersumber di vivanews.com. Selamat membaca yah.
1.500 Relawan ‘Ganyang Malaysia’ Disiapkan
Organisasi Benteng Demokrasi Rakyat atau Bendera merazia warga negara Malaysia. Razia alias sweeping ini memacetkan arus lalu lintas. “Ada sekitar 80 mobil yang kami periksa. Tapi sampai mobil terakhir, kami tidak menemukan warga negara Malaysia,” kata Koordinator Bendera, Mochtar Bonaven usai merazia di depan Sekretariat Bendera, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 8 September 2009. Razia yang dilakukan sejak pukul 12 siang itu memang hanya menargetkan warga Negeri Jiran itu. Anggota yang dikerahkan untuk melakukan razia sekitar 35 orang. “Kalau sampai ketemu, akan kami pulangkan,” ujar dia. Aksi ini dilakukan Bendera karena tindakan Malaysia yang dinilai asal main klaim budaya Indonesia. Atas dasar itu, Bendera juga akan melakukan aksi lanjutan di Kedutaan Besar Malaysia, besok Rabu, 9 September 2009.
“Besok kami akan melakukan aksi lanjutan dengan mendatangi kantor Kedubes Malaysia. Kami besok akan mengirimkan kotoran manusia dan diletakkan di kantor kedubes, ini serius,” ujar dia. Selain melakukan kedua aksi tadi, Bendera juga sudah mengumpulkan relawan untuk diberangkatkan ke Malaysia. Nantinya, relawan-relawan nitu akan disiapkan untuk melakukan beberapa aksi di Malaysia. Saat ini menurut dia sudah ada lebih dari 1.500 relawan. “Tanggal 8 Oktober, kami akan memberangkatkan sekitar 1.500 orang. Kami sudah mengirimkan aktivis ke sana untuk memetakan daerah-daerah. Kami akan mendatangi kantor-kantor pemerintahan,” ujar pria yang biasa disapa Bonaven ini.
Mahasiswa Bogor Bakar Bendera Malaysia
Selain di Bogor, pembakaran bendera Malaysia juga terjadi di dua tempat. Bendera negara Malaysia kembali dibakar di Indonesia. Kali ini, mahasiswa Universitas Pakuan Bogor membakar bendera Malaysia di hadapan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bogor. Mahasiswa membakar di depan Kantor DPRD Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis, 3 September 2009. Massa berkerumun di depan kantor DPRD Kota Bogor sambil terus menerisakkan orasi. Blarr.. Api pun menyulut bendera Malaysia. Bendera pun ludes dalam sekejap. Dalam aksinya, mahasiswa juga mendesak agar DPRD yang baru terpilih dapat mendorong pemerintah untuk memutuskan hubungan diplomatis dengan negara Malaysia. Koordinator lapangan mahasiswa Universitas Pakuan, Yohanes, mengatakan, permasalahan dengan negara Malaysia sudah lama terjadi. Dia menilai, permasalahan soal harga diri bangsa bukan hanya sekali ini saja terjadi.
“Selama ini kami lihat pemerintah Indonesia menutup mata dan membiarkan Malaysia menginjak-injak,” kata dia. Permasalahan yang dimaksud itu mulai dari TKI yang tak kunjung selesai, pengkhianatan budaya Indonesia-Malaysia, pencaplokan batas wilayah Indonesia. “Dan yang terakhir lagu kebangsaan Negara Republik Indonesia yang telah dilecehkan oleh Malaysia,” ungkap dia kepada anggota dewan yang menerimanya. Andi Surya Wijaya, salah satu anggota DPRD Kota Bogor yang menerima mahasiswa mengatakan, dewan sangat mendukung aksi mahasiswa ini yang menentang keras Malaysia. Menurut Andi, memang Malaysia telah melecehkan negara Indonesia. “Permasalahan ini kami serahkan sepenuhnya kepada Pemerintah untuk menyelesaikan. Namun kami tidak mungkin memutuskan dengan negara Malaysia. Karena, kita saling mempunyai kepentingan untuk kerjasama,” tegas dia.
Pembakaran bendera Malaysia bukan sekali ini terjadi. Massa dari Front Kedaultan NKRI pada Senin 31 Agustus 2009 menggelar aksi di depan Radio Republik Indonesia (RRI) di Jalan pemuda, Surabaya. Mereka pun membakar bendera Malaysia. Ratusan orang yang tergabung dalam Barisan Rakyat Bela Nusa Bangsa (Bara Benusa) Sukoharjo juga membakar dua bendera Malaysia. Pembakaran dilakukan di alun-alun Satya Negara Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah, pada Rabu, 2 September 2009.
Kini Bendera Malaysia Dibakar di Makassar
Ini sebagai bentuk protes terhadap pemerintah Malaysia dan desakan kepada pemeirntah RI. Aksi pembakaran bendera negara Malaysia kembali terjadi di Indonesia. Puluhan mahasiswa atas nama Aliansi Mahasiswa Ganyang Malaysia (AMGM) Sulawesi Selatan, Senin 7 September 2009 menggelar aksi pembakaran bendera Malaysia sebagai bentuk protes. Kordinator aksi AMGM, Andika Yayup mengatakan, klaim yang telah dilakukan Malaysia terhadap sejumlah asset Indonesia merupakan aksi kriminal internasional. “Itu tidak bisa dimaafkan karena telah menginjak-injak martabat bangsa untuk kesekian kalinya,” kata Andika saat menggelar aksi dihadapan kampus Universitas Negeri Malaysia Makassar. Pemerintah Indonesia juga didesak untuk mengambil tindakan tegas. “Kami meminta Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk mengambil keputusan tegas mengenai konflik antara Indonesia dengan Malaysia,” tuturnya.
Mereka juga meminta agar Presiden SBY menarik delegasi Kedutaan besar Indonesia dari Malaysia, karena tidak tanggap menyelesaikan konflik tersebut. Bila perlu memutuskan hubungan diplomasi dengan Malaysia. Dalam aksi yang dikawal sekitar 50 personil polisi itu, AMGM mengancam akan melakukan razia terhadap warga negara Malaysia di Makassar, jika dalam satu minggu ini, Presiden SBY tidak mengambil tindakan tegas terhadap sikap Malaysia.
Bendera Malaysia Dibakar di Surabaya
Pemerintah segera mungkin meningkatkan perlindungan budaya dan menginventarisasinya. Ratusan massa yang tergabung dalam Front Kedaultan NKRI siang tadi, Senin 31 Agustus 2009 menggelar aksi di depan Radio Republik Indonesia (RRI) di Jalan pemuda, Surabaya. Mereka menuntut, pemerintah Indonesia bersikap tegas dan segera mengambil tindakan tegas atas pelanggaran dan klaim sejumlah budaya Indonesia. Pemerintah segera mungkin meningkatkan perlindungan budaya dan menginventarisasinya. Menyerukan tiap warga negara untuk aktif menghimpun diri dalam melaksanakan bela negara.
“Negara harus tegas menyikapi pelecehan yang dilakukan Malaysia. Sebagai bagian dari bangsa ini, kita siap mendukung tindakan tegas pemerintah,” kata Johan Indarto, koordinator aksi, Senin 31 Agustus 2009. Aksi mereka juga dilakukan dengan melakukan pembakaran bendera Malaysia, setelah itu massa bergerak dari gedung RRI menuju Gedung Negara Grahadi. Di lokasi ini, massa kembali menggelar aksinya.
![]()
Untuk tulisan-tulisan yang intinya adalah pembakaran bendera Malaysia di negeri ini, aku hanya berpendapat bahwa sepertinya Malaysia memang pantas menerima ini, karena sampai saat ini belum ada langkah konkret yang diambil secara tegas dan dapa diterima oleh khalayak ramai, khususnya rakyat Indonesia, sebagai usaha untuk meredam konflik yang jelas-jelas sedang terjadi di antara kedua negara ini. Semua ini hanyalah sebuah bentuk protes atas sikap kesewenang-wenangan negeri jiran itu, atas klaim Tari Pendet beberapa waktu lalu, yang sepertinya menjadi klimaks konflik/konfrontasi yang terjadi anatara Indonesia-Malaysia, sehingga muncul kembali gerakan “Ganyang Malaysia” ini. Aku pun juga tidak bisa menyalahkan jika ada bupati yang ikut menonton gerakan yang bersifat nasionalisme ini.
Untuk “gerakan” sweeping warga negara Malaysia ini, pemerintah Indonesia meminta untuk segera menghentikan kegiatan ini, karena jika di sini ada gerakan sweeping warga negara Malaysia, maka bukan hal yang mustahil, di negeri jiran sana terjadi gerakan sweeping warga negara Indonesia. Namun, tidak ada salahnya jika kita berpikir bahwa mungkin ada pihak tertentu yang ternyata ingin mengadu domba Indonesia-Malaysia, dua negara besar yang ada di Asia Tenggara. Mungkin, ada pihak yang takut jika Indonesia dan Malaysia bersatu menjadi kekuatan besar di Asia Tenggara ini, sehingga muncul usaha-usaha untuk mengadu domba ini.
Mungkin Anda akan tercengang bahwa ternyata situs yang di dalamnya berisi pelecehan lagu kebangsaan Indonesia Raya itu berasal dari Amerika Serikat, bukan dari Malaysia. Beberapa waktu yang lalu, isu ini menjadi salah satu faktor sepertinya, yang membuat jutaan rakyat Indonesia membenci negeri jiran itu. Mungkin Anda bisa menerka-nerka sekarang siapa sebenarnya yang ingin mengadu domba kedua negara ini. Namun, jangan gegabah dalam mengambil kesimpulan akhir kalau bisa. Berita selengkapnya bisa Anda baca di sini.
Hidayat: Ada Yang Adu Domba RI-Malaysia?
Apakah memang ada yang sengaja ingin terus membuat Indonesia-Malaysia tidak harmonis? ‘Perang Dingin’ Indonesia dan Malaysia terus memanas. Setelah Tari Pendet, kini beredar situs yang melecehkan naskah lagu kebangsaan Indonesia Raya. Apakah memang ada yang sengaja ingin terus membuat Indonesia-Malaysia tidak harmonis? “Apakah memang ada pihak ke tiga yang ingin adu domba antara Indonesia dan Malaysia supaya tidak pernah akur,” kata Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid, usai buka puasa bersama Jusuf Kalla di kediaman Hidayat, Jakarta, Sabtu, 29 Agustus 2009. Menurut Hidayat, persoalan sensitif ini merupakan satu hal harus segera dituntaskan. Hidayat menyarankan agar Indonesia dan Malaysia duduk bersama agar persoalan ini tidak berlarut-larut.
“Karena, ini ada dua negara yang besar di Asia Tenggara. Dan barangkali bersatu tidak diadu-domba akan memperkuat ASEAN. Barang kali ada yang pihak tertentu tidak suka,” ujar anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini. Hidayat menilai, tentu Malaysia juga perlu klarifikasi sampai tuntas terkait hal-hal atau isu yang dimunculkan. Seperti misalnya menghentikan untuk mengubah dan mengklaim. “Penting bagi Malaysia untuk menjadi proaktif. Permasalahan disana (Malaysia), jangan minta Indonesia bersabar, tidak terprovokasi dan sebagainya. Harusnya, selesaikan ini sebelum orang lain terprovokasi,” ujar Hidayat.
Setelah ada banyak sekali pemberitaan miring kepada Malaysia tentang kasus klaim Tari Pendet kemarin, akhirnya negeri jiran itu angkat bicara dana menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak mengklaim tari yang berasal dari Bali tersebut. Kesalahan terjadi pada pihak ketiga: Discovery Channel, yaitu pihak yang membuat iklan untuk promosi pariwisata Malaysia yang berkedudukan di Singapura itu. Oo, sudah muncul satu nama negara lagi selain Malaysia dan Amerika Serikat yaitu Singapura. Ehmm, kembangkan imajinasi Anda untuk kasus ini dan “berfantasilah”.
Malaysia Bicara Soal Tari Pendet
“Tak ada seorangpun di Malaysia yang mengklaim Pendet adalah tarian asal Malaysia.” Munculnya tari Pendet, tari khas asal Bali, dalam iklan ‘Enigmatic Malaysia’ membuat masyarakat Indonesia emosi. Tuduhan lantas dilayangkan ke pihak Malaysia yang diduga mengklaim bahkan mencuri kebudayaan Indonesia. Menanggapi polemik yang makin memanas, Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia mengeluarkan imbauan bagi semua pihak, baik pemerintah terutama media, untuk memahami sensitifitas isu tersebut bagi kedua bangsa. Sehingga, berita yang beredar tak menyakiti pihak manapun. Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta juga menyatakan penyesalannya atas kesalahpahaman dan tudingan yang diarahkan media di Indonesia yang memberitakan bahwa pemerintah Malaysia telah mencuri tari Pendet. “Kedutaan Besar Malaysia menekankan bahwa telah terjadi kesalahpahaman dan salah pengertian atas video klip yang beredar, termasuk tudingan kepada pemerintah Malaysia,” pernyataan Kedutaan Besar Malaysia, seperti dimuat laman Bernama, Kamis 27 Agustus 2009 malam.
Dalam pernyataannya, Kedutaan Malaysia juga iklan tersebut adalah inisiatif Discovery Asia-Pasifik, sama sekali tak melibatkan pihak Malaysia. “Tak ada seorangpun di Malaysia yang mengklaim Pendet adalah tarian asal Malaysia,” tambah pernyataan tersebut. “Seharusnya, siapapun yang berani menyimpulkan, harus sudah melakukan riset untuk memverifikasi permasalahan, sebelum akhirnya memberi penilaian.” Kata pernyataan itu. Promosi selama 30 detik itu dikerjakan oleh pihak ketiga yang dipekerjakan oleh Discovery Channel, yang kantornya berkedudukan di Singapura.
Bagaimana, Anda masih berpikir dan bertanya apakah Malaysia memang pantas untuk “diganyang”?. Anda sendirilah yang memutuskan. Baiklah, mari kita selalu saling mengingatkan dalam menyikapi konflik kedua negara ini, Indonesia dan Malaysia. Semoga hubungannya semakin membaik ke depannya, dan istilah “saudara tua” atau “saudara serumpun” baru boleh disandang oleh dua negara ini.







Posts

Aduh Pin, lagi-lagi dirimu terlibat emosi dalam menyikapi masalah Indonesia-Malaysia ini. Coba kamu pikir lagi, kenapa sih Malaysia melakukan itu semua? Jawaban yang tepat mungkin adalah, “Karena Warga Indonesia sudah tidak peduli lagi dengan potensi bangsanya”.
Kamu ingat sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan yang kini telah diklaim Malaysia? Memang kedua pulau itu ada di Selat Makassar, tapi apakah bangsa kita pernah peduli? Kamu tahu eksistensi pulau itu sebelum hebohnya sengketa? Penduduk pulau itu sudah menyatakan bahwa mereka hidup sejahtera berkat pemerintah Malaysia. Kamu pernah tau hidup di pulau kecil yang jauh dari Pulau Jawa? Mereka itu tak pernah diperhatikan.
Itu baru kasus Pulau Sipadan dan Ligitan. Tari Pendet yang baru-baru ini mungkin cukup terkenal di Pulau Bali tapi apakah terkenal juga di masyarakat Pulau Jawa? Saya sangsi karena tari-tarian tradisional dan lagu-lagu tradisional kini kalah digusur oleh moderinisasi barat. Kuncinya satu, yaitu kita harus peduli dengan potensi bangsa kita sendiri. Nggak usah susah-susah, tekuni dan dalami saja satu potensi bangsa kita. Bayangkan kalau 200 juta penduduk negara kita, paham dan menguasai potensi bangsa…saya yakin Malaysia bakal berpikir ulang.
” admin:
Iya, memang ada sedikit emosi dalam tulisan ini, tapi aku masih bersikap “dingin” kok. Bukan itu menurutku, mungkin jawaban yang tepat adalah, “Sepertinya memang Malaysia memanfaatkan kelemahan Indonesia dalam hal ini”, mungkin.
Kok aku merasa masih bisa menganalogikan ini ya. Gini, kau tahu ayah/ibunya dari kakek/nenekmu? Kau tahu eksistensi mereka dulu? Kau merasa harus tahu bagaimana mereka hidup? Kau merasa bertanggung jawab tentang kehidupan mereka? Bahkan makanan kesukaan mereka saja, aku yakin kau ga tahu dan ga peduli sama sekali. Namun, saat aku mengklaim bahwa mereka adalah nenek moyangku tanpa sebab dan membuatmu tidak berada dalam garis keturunan mereka, apa yang akan kau lakukan? Berdiam dirikah? Atau hanya merenungi kalimatmu sendiri, “Itu karena aku sudah tidak peduli lagi dengan mereka”.
Semua kebudayaan yang menjadi milik bangsa Indonesia, apapun bentuknya, harus tetap menjadi milik bangsa Indonesia, karena merupakan bagian dari nenek moyang kita: bangsa Indonesia. Terlepas dari bagaimana usaha kita dalam melestarikannya, kita harus berani memperjuangkan hak milik bangsa Indonesia ini, dalam cara apapun, bahkan perang kalau dirasa perlu. Dulu, mantan presiden Soekarno kan juga melakukan ini kalau ga salah, saat melancarkan gerakan “Ganyang Malaysia” untuk pertama kalinya, yaitu merasa bahwa bangsa Indonesia sudah diinjak-injak oleh Malaysia. Apa kau tahu ini, Wisna? Bagaimana, masih berpikir untuk tetap diam saat kebudayaan bangsa kita ini diklaim oleh bangsa lain? Maaf kalau aku terkesan keras kepala ya.
hmmmm ganyang ngak ya?
” admin:
lha baiknya gimana, om?
Aduh Pin, kamu tahu ndak “Ganyang Malaysia” itu awalnya kenapa? Itu karena Pak Soekarno menentang rencana Malaysia yang ingin menyatukan seluruh pulau Kalimantan sebagai bagian dari negaranya. Gini Pin, menurutku analogimu itu kurang tepat. Apa yang kamu utarakan itu adalah bagian dari masa lalu, sejarah. Contoh kasus yang kamu utarakan itu adalah proses klaim sejarah orang lain. Tapi kasus ini berbeda, budaya dan tradisi itu masih eksis sampai saat ini. Bisa dirasakan oleh kelima panca indera.
Pin, kita semua tahu kalau proses merawat/melestarikan itu jauh lebih susah dari proses memiliki. Ya benar, kita berang dan kita berusaha mendapatkan kembali budaya kita yang diklaim bangsa lain. Lalu setelah itu apa? Kembali melupakannya? Ingat lagi Timor-Timur yang provinsi sekaligus budayanya kita lepas begitu saja pada Referendum 1999 setelah kita perjuangkan di era 1975. Aku pikir kamu hanya terjebak Euforia Pin, nasionalisme sesaat yang melanda pola pikirmu. Silakan kamu perjuangkan untuk merebut budaya kita kembali. Tapi aku juga menantimu untuk berperan serta melestarikan budaya kita. Mengutip kata Mas Gandi, mungkin Budaya Nasional itu terlalu luas untuk kita pahami seorang. Namun, setidaknya kita turut melestarikan budaya asal-usul kita, kalau dirimu ya budaya Kebumen. Sudahkah kau melakukannya? Usaha pelestarian budaya itu juga salah satu usaha merebut kembali budaya kita, itu tidak berdiam diri.
” admin:
yah sudahlah, ternyata kita sama2 keras kepala.
Hahaha, aku rasa reaksi beberapa orang di atas terlalu berlebihan Pin dan kurang efektif. Biasalah, orang2 yang democrazy. Berlebihan? Kenapa? Tentu saja berlebihan, apa gunanya membakar bendera Malaysia, memperolok mereka? Emang negara kita ini sudah benar-benar bener ya??? Emang di sekitar kita tidak ada masalah yang perlu perhatian dan tindakan nyata yang lebih banyak?? Sudahlah lah, reactive action itu sekarang sebaiknya diwujudkan dalam skema yang positif. Contoh: batik, reog dan tari pendet dibajak.
Reaksinya bisa seperti ini:
1. Ngajak mahasiswa atau pelancong Malaysia lomba membatik, lomba nari Pendet, atau mengorganisir acara pentas budaya dan seni Indonesia di Malaysia atau negara-negara tetangga di ASEAN. Jangan lupa undang delegasi Malaysia.
2. Bikin seminar atau dialog interaktif untuk membuat grand strategy menjaga dan melestarikan budaya bangsa.
3. Bikin usaha, buka gerai Mirota Batik di Kuala Lumpur atau di Pahang, atau somewhere lah di Malaysia sono.
4. Usulkan ke Sekjen ASEAN untuk menggunakan pakaian batik pada saat konferensi tahunan, dsb.
Lihat aja di UGM Pin, berapa orang sih yang datang ke acara-acara budaya? Seni, teater, kethoprak lesung??? Jarang. Kalau ada acara sport, music, tabligh akbar, buka puasa bareng, orasi, atau temu ilmiah banyak yang datang. Sebagai bangsa sebenarnya kita sudah kehilangan jatidiri. Menurutku, kita juga nggak tepat sebenarnya memakai isitilah bangsa Indonesia, lebih tepat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena apa? Karena ada begitu banyak suku bangsa di Indonesia dan mereka punya corak tradisi masing2, nggak bisa dan nggak akan bisa disamaratakan. Lihatlah Uni Sovyet yang multi etnis dulu. Selalu ada salah satu ras/suku yang mendominasi. Ketika ras/suku lain merasa terjajah dan terdiskriminasi, maka Uni tersebut akan pecah.
So, untuk menjadi sebuah bangsa dengan menyatukan seluruh ras, harus ada nilai-nilai atau kultur-kultur tunggal yang kuat yang secara konsensus disepakati sebagai Nation Value oleh seluruh rakyat. Valuenya apa saja? Salah satunya adalah penghormatan dan implementasi riil terhadap HAM, kemudian kapastian hukum, disiplin, perlindungan warga negara, pelestarian budaya suku bangsa, dsb. Intinya adalah sebuah value yang mencerminkan “ini lho Indonesia”. Lihatlah Amerika Serikat dengan Green Card-nya yang banyak diburu orang-orang di luar AS. Ini membuktikan bahwa AS punya value yang bisa dipercaya keberadaannya dan implementasinya. Orang-orang di sana tetap akan mengatakan “I came from Chicago” atau “I am a New York citizen”.
Ya tetap ada rasa cinta dan pencitraan diri tentang daerah asalnya, tapi mereka bangga dengan ke-Amerikaannya. Bahkan tidak sedikit orang Indonesia yang ada di sana kagum dengan sistem yang berlaku di sana, tentang kepastian hukum, perlindungan warga negaram, walau tidak bisa dipungkiri banyak masalah hukum dan HAM juga terjadi di AS. Lalu kita ke negara-negara Skadinavia, sperti Norwegia atau Swedia. Negara-negara itu disebut sebagai welfare state dalam arti yang sesungguhnya dimana hak-hak sosial diperhatikan dengan sangat baik, kesejahteraan bahkan lebih baik dari negara sosialis yang memiliki ideologi sama rasa sama rata. Look, betapa kontrak “prestasi” dan “karakter” orang Indonesia dengan negara-negara yang saya contohkan. Belum lagi jika dibandingkan dengan Jepang yang bangkit begitu cepat dari keterpurukannya di PD ke-II. They have positive values which have been implemented by the their citizen and government.
Nggak ada salahnya memang nasionalisme itu. Wajar kita marah terhadap klaim dan “hinaan” Malaysia terhadap negeri ini. Tapi, kita harus cerdas dalam menanggapinya. Mari, kita selesaikan pekerjaan-pekerjaan di rumah kita sendiri, Indonesia, sebelum kita melawan pihak asing. Seperti juga makna puasa itu sendiri dimana musuh terbesar yang harus kita taklukkan adalah hawa nafsu kita sendiri, bukan hawa nafsu orang lain. Ingat itu Pin!!!!
” admin:
no comment deh, kau benar sekali, putut.
kalo perang ke dua negara, bakal kalah atau menang kita ?!?!
secara negeri ini besar, gt lho
” admin:
ehmm, semoga ga terjadi perang, mas.
Aku suka pendapat tokoh yang satu ini:
Aku juga suka komentar tokoh yang satu ini. Malaysia jadi provinsi ke-34, sepertinya bukan ide yang buruk.
Kemudian, dengar pula komentar tokoh yang satu ini juga. Malaysia tukang bohong, benarkah?
Nah ini, lebih keren kayaknya, mau boikot produk Malaysia? Emang produk Malaysia di negeri kita ini apa aja sih?
tarik balik semua tki gitu ajah kok repot.
” admin:
iya, gitu aja kok repot.
kita terkadang reponsif tapi kita miskin terhadap aplikasi. semoga bisa selesai urusan ini.
” admin:
amiin, semoga hubungan kedua negara ini bisa kembali rukun dan damai, saling membantu kalau bisa untuk ke depannya.
Nek menurut saya, ketimbang kita mengganyang Malaysia, mending kita menggayang budaya luar yang semakin kentara masuk ke Indonesia bertopengkan globalisasi, westernisasi dan agama…:)
Budaya-budaya luar itu secara langsung maupun tak langsung menurut saya justru membuat kita ‘lupa’ bahwa kita juga punya banyak budaya yang akhirnya diakuisisi (coba diakuisisi) oleh negara lain. Baru sesudah itu kita berpikir untuk mengganyang Malaysia atau tidak.
” admin:
ini juga pemikiran yang baik kok, mas. btw icon’nya ganti ya? tadinya kan gambar dirimu…
kalo pun harus ngganyang jangan siang-siang mas, nanti puasanya batal
” admin:
kalau malam, nanti menggunakan prinsip “perang gerilya” dong, om.
Bingung!
” admin:
jangan bingung, bud.
maju lah negeri ku………..
“admin:
majulah Indonesia kita!
Malaysia sudah keterlaluan!!
Sudah melepaskan bibit-bibit terorist ke Indonesia, mengerogoti pulau-pulau kita yg menjadikan Indonesia semakin sempit wilayahnya dan mereka(Malaysia)mengaku-aku budaya kita sebagai budaya mereka!
Nuwunsewu… Pak SBY harus tegas! GANYANG MALAYSIA!