Bagaimana Kalau Suami-Istri Bertengkar?

Hari ini aku mengalami kejadian aneh, yang membuatku semakin yakin bahwa menikah terlalu dini itu tidaklah baik. Aku menyaksikan kejadian ini begitu dekat. Aku tidak tahu persis apa yang sedang terjadi. Ada sepasang suami istri yang bertengkar, dan tanpa sengaja aku bisa mendengarkan pertengkaran mereka. Cukup menakutkan bagiku. Salah satu penyebabnya sepertinya sang istri tidak puas dengan pendapatan sang suami, dan mungkin sekali ada penyebab lain selain ini. Yang membuatku heran, sang istri hanya diam membisu, dan sama sekali tidak bereaksi saat sang suami bertanya apa yang salah pada dirinya.
Yang aku lihat, sang suami hanya mencoba menjelaskan kronologis suatu kejadian dan mencoba mendapatkan perhatian dari sang istri. Namun usahanya ini hanyalah perbuatan yang sia-sia karena sang istri masih saja terdiam. Setahuku, pasangan ini baru memiliki seorang anak. Aku pikir kehidupan mereka cukup bahagia tadinya, tetapi ternyata semua ini hanya bersifat sementara. Yah, kebahagiaan mereka hanyalah “selingan” di antara bermacam-macam permasalahan yang mereka hadapi, dan seringkali semuanya bersumber dari akar semua masalah : UANG.
Walalupun keduanya sama-sama bekerja, tetapi itu semua tidaklah cukup bagi mereka ternyata. Dengan sifat istri yang “pendiam” dan sifat sang suami yang “meletup-letup” kalau ada masalah di antara keduanya, cukup sudah untuk keduanya saling diam untuk beberapa hari. Yang membuatku benar-benar “jengkel”, sang istri sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada suaminya itu untuk berbicara, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sang istri hanya mematung dan seolah-oleh berkata, “Sudahlah mas, aku tahu semua yang terjadi!”. Padahal aku yakin, sang istri tidaklah benar-benar tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya.
Itikad baik sang suami ditolak mentah-mentah. Sang suami cukup bijak dengan masih bisa berbicara dengan kepala dingin dan melirihkan suaranya, dan karena tidak tahan, ia lebih memilih pergi meninggalkan sang istri untuk sementara. Huh, aku sangat tidak simpatik dengan sikap sang istri ini. Apakah dia berpikir bahwa dengan diamnya itu akan menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi? Aku rasa tidak, karena justru hanya akan memperkeruh keadaan menurutku.
Dari kejadian ini, aku hanya bisa berandai-andai. Kalau saja sang istri mau duduk dan mendengarkan suaminya, mendengarkan apa yang menjadi “uneg-uneg” sang suami, dengan kepala dingin tentu saja, aku yakin sang suami pun akan sedikit meredam amarahnya dan mencoba mencari solusi dari apa yang sedang mereka hadapi.
Berikut adalah hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh keduanya menurutku:
Dari pihak suami:
1. Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan jujur, tanpa kebohongan dan dengan suara yang tidak terlalu keras.
2. Mengaku salah kalau ternyata memang dirinya yang bersalah.
3. Memberikan beberapa option solusi kepada istrinya tentang permasalahannya tersebut.
4. Memberikan kesempatan kepada sang istri untuk memberikan pendapatnya, karena bisa jadi solusinya didapatkan dari sang istri, dan kalau ini terjadi sang suami haruslah bijak menerimanya.
5. Kalau di tipi-tipi sih, biasanya sang suami mengajak sang istri ke kamar, dan aku tidak tahu persis apa yang mereka lakukan di dalam. Hehehehe.![]()
Dari pihak istri:
1. Memberikan kesempatan kepada sang suami untuk berbicara dan memberikan argumennya, dengan hati dan kepala dingin.
2. Ajak minum teh kalau bisa, dan ajak untuk duduk berhadapan atau bersebelahan.
3. Bicaralah dan berikan argument seperlunya setelah dipersilakan, dan jangan terlalu menggunakan perasaan tetapi pakailah kalimat-kalimat yang logis dan masuk akal.
4. Jangan terlalu banyak diam, karena sang suami pasti ingin berkomunikasi dua arah.
5. Kalau memang sang suami mengajak ke kamar, turuti saja, asalkan alasannya logis. Hehehehe.![]()
Mungkin tidak seharusnya aku terlalu mempedulikan masalah orang lain seperti ini. Namun tidak salah kalau aku ingin belajar untuk menjadi dewasa dan bijak dari apa yang aku lihat ini. Anda boleh mengatakan bahwa aku belum pantas menuliskan hal-hal seperti ini karena statusku yang belum menikah, tetapi aku yakin hal-hal di atas patut untuk dipikirkan dan direnungkan. Baiklah, mari kita senantiasa berbagi cerita dan pengalaman. Apa saja. Nuwun.







Posts

Mungkin ini pertimbangan kenapa nikah diwajibkan. Pendewasaan diri. Mungkin tanpa nikah kita gak bakal tahu bagaimana caranya ngontrol emosi dan juga hal-hal lainnya. Aku pernah denger, katanya emosi bisa menyumbat pikiran-pikiran yang logis keluar dari otak dan hati seseorang. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk ngilangin emosi, ya mungkin salah satunya dengan diem. Usulmu sangat bisa diterima pin, menurutku. Asal emosi sudah nggak lagi menguasai pikiran mereka. Aja wedi nikah lo pin, bisa-bisa kowe terus melajang.
” admin:
Iya mungkin, tetapi bukan berarti harus dilaksanakan pada usia “dini” kan? atau bahkan terkesan buru2, bukan? semuanya itu akan indah pada waktunya, itu yang aku pahami sampai detik ini.
Tenang baen, aku ora wedi nikah kok, mung wedi nek nikahe urung wektune.
Anda sudah menikah, Mas?
” admin:
aku belum menikah, mas. kan sudah aku bilang di atas.
hehehehe..mo jadi konsultan pernikahan kamu pin..saran no 5 itu boleh juga..hahaha.
” admin:
ga kok win, cuma menuliskan apa yang terlintas di pikiranku aja. hemm, perasaanku ga enak, dirimu pasti berpikir “kotor” ya?
dirimu nulis ini bukan karena habis nonton sinetron kan Pin?
” admin:
bukan wis, ini kisah nyata.
Kalo aku, pas lagi marah2nya, emang susah ndengerin penjelasan atau alasan apapun. Jadi mending ditinggal dulu, jangan langsung disanggah, ntar bikin tambah panas. Kasih kesempatan sejam-dua jam kek…Yah, maklumlah, wanita kan lebih ngedepanin perasaan drpd akal. Jadi pas perasaannya lagi marah2nya ya turuti aja. Apalagi kalo marahnya cuma diem, ga sampe mbanting2 piring… Kqkqkq
Tunggu sampai wanita menemukan kembali “akal”-nya ^-^v
” admin:
terima kasih nur. penjelasanku membuatku semakin mengerti bahwa memberikan waktu “sejenak” kepada perempuan untuk menemukan kembali “akal”nya saat “marah2an” adalah sangat penting. kelak aku bisa sabar ga yah? semoga bisa!!
saya ndak tau kronologisnya jadi ndak bisa komentar banyak. yang jelas gini boss, wanita adalah tipe makhluk yang tidak bisa serta merta turun emosinya, ada waktunya dia cuma pengen didengarkan, pada saat seperti itu jadilah pendengar yang baik, ndak usah ngasih saran apapun kecuali dia minta. ada waktunya dia memang pengen sendiri, nunggu tensinya turun sendiri, ini yang kadang bikin cowok ndak tahan, karena tipikal cowok adalah pengen seketika selesai, efek dari sifat ini adalah seperti yang sampeyan gambarkan di postingan, dia ngomong terus, percaya sama saya, yang seperti itu cuma nambahi minyak dalam api.
” admin:
wah, terus terang aku juga ga tahu persis apa yang terjadi pada mereka, om. yang pasti saat peristiwa di atas terjadi, aku sangat tidak simpatik pada sang istri yang merasa sudah tahu segalanya itu. lha kalau memang ingin sendiri, kan tinggal bilang, “Suamiku, tolong tinggalkan aku sejenak, aku ingin sendiri saat ini. Percayalah ini hanya sejenak”. Begini kan lebih baik!
Tua adalah pasti, dewasa adalah pilihan. Hidup penuh dengan kemungkinan (probabilitas, bahasa kerennya Hehehe…) dan manusia diberi kemampuan untuk memutuskan, membuat pilihan dalam hidupnya. Apa yang menurutmu baik, belum tentu baik di mata-Nya. Apa yang menurutmu buruk, belum tentu buruk di mata-Nya.
” admin:
aku belum tahu pasti hubungan tulisan di atas dengan argumenmu, yapto.
“duit” memang tidak segalanya mas, tapi tanpa duit segalanya jadi tidak bermakna.
” admin:
tidak benar itu mas, karena tidak semua hal butuh uang untuk menjadi lebih bermakna.
Wah sudah pantas jadi suami sepertinya kau Pin, sudah tahu ilmunya. Segeralah…hue he he he
” admin:
hemm, aku belum berpikir seperti itu saat ini, bud.
Wah, setelah sekian lama, Mr. IPIN akhirnya posting sesuatu yang menarik..Menurutku begini pin. Pada dasarnya pria dan wanita itu berbeda. Watak dan perasaan mereka juga berbeda. Itulah sebabnya cara mereka menghadapi masalah pun berbeda.
Menurut laki2 diam itu gak ada gunanya, dan justru menurut wanita, yang aku tau diamnya mereka karena ingin agar pria itu memahami apa yang mereka pikirkan. Ingat pin, PEREMPUAN ITU BUTUH DIPERHATI-IN (aq dhewe yo rung iso nek iki hehehe, angel ngerteni wong meneng…). Itulah sebabnya mereka memilih meninggalkan perempuan dengan maksud agar perempuan itu mau berpikir, dan akhirnya mau berbicara pada pria setelah suasana reda nantinya. Tapi di mata wanita ini justru salah, mereka akan mersa tidak dihargai. sebab mereka akan merasa tidak Di PERHATIKAN oleh si Pria.. Susah tho, yang satu maunya A, yang satuna gak mudeng biar kaya A itu gimana…Jadi solusinya ya bersikaplah seandainya kalian (pria or wanita ada di posisi pasangan…) , lalu mencoba untuk mengesampingkan ego, dan mengedepankan komunikasi. Tapi ini masih menurutku, sebab dunia wanita itu tak seperti dunia kita PIN. ingat kata2 novi:
MAF, klo slah yaw.. namanya juga manusia hehhe…
” admin:
kok panjang banget yah? tapi pendapatmu ada benarnya juga kok, kawan.
Tanya, Apakah mereka adl pasangan muda? hal hal spt inikah yg membuat anda tdk ingin menikah muda? Memang kalaw tdk menikah muda hal hal spt itu tdk kn terjadi? Apa yg membedakan antara pasangan yg menikah muda dg tdk menikah muda selain umur? Sy msh ingat d salah satu sesi obrolan qt anda menutupny dg kalimat, sebuah pesan kata anda, “ingat y, jangan menikah muda!” tdk sama persis memang, tp intiny spt itu.
Sebenarny penasaran dg sikap keras anda untuk tdk menikah muda, tp yg membuat saya bertanda tany adl knp spt ny anda tdk begitu sukany dg pernikahan d usia dini. Apa yg salah. Dalam salah satu comment anda mengatakn bhw anda tahu kpn “waktu itu” akan tiba. Mereka yg memilih untk menikah muda jg mungkn telah merasakan tibany “waktu itu”.
Anda jg menyatakn bhw semua itu indah pada waktuny, apakah kata waktu selalu berkorelasi positif dg umur? Apakah dg qt menikah pd usia segini segitu bs menjamin adany kebahagiaan yg lbh dr pd pasangan nikah dini?
Menikah adl sebuah pilihan, menikah adl sebuah keputusan.
Apa yg terjadi sesudahny adl konsequensi. Bisa jd anda menikah dg kondisi spt yg anda inginkn, pd umur yg anda harapkan, telah meraih gelar megister anda, telah bekerja dg mapan dan cukup berpenghasilan, menikah dg seseorang yg d awal pernikahan anda puja puja, cintaqu padamu kan slalu abadi hanya maut jualah yg bisa memisahkanny cintaqu padamu bukanlah teorema yg perlu bukti namun definisi yg sudah pasti, tp siapa sangka d saat 5 tahun pernikahan anda saat istri anda tengah hamil anak k 2, anda bilang sudah cukup sampai d sini saja.
Kata orang pertengkaran dlm rmh tangga itu biasa, bumbu bumbuny cinta. Hany bgmn qt mengkondisikan dan bersikap bijak dlm pertengkaran itu. Sesungguhny bkn perkara mudah untk mempertahankn biduk rumah tangga shngg berlakon spt apa yg qt harapkn.
” admin:
kok commentnya jauh lebih panjang dari tulisannya deh kayaknya. nanti kalau sempat, aku beri pemaparan panjang-lebar deh di sini, dengan unsur subjektivitasku tentu saja.
Mas,, mav y, Q hany sdang penasaran dg alasan orang” yg tdk suka dg nikah muda. Qt kontra d sini. Sebernya ada rasa pedih d hati saat orang” memicingkn mata melihat pertengkrn pasangan muda dan menganggp biasa untk yg menikah tdk muda. Bergunjing yg tdk” dg masa dpn si pasangan muda.
Beberapa saudara saudariqu sahabat yg ingin qu jumpa d syurgaNy kelak telah memutuskan untuk mengangkt jangkar, berlayar d samudra kehidupan yg baru. Dan mereka bahagia, d tambh dg hadirny malaikat malaikat kecil penympurna bahtera kasih cinta mereka.
Dari mereka qu belajar tntang hidup berumah tangga, tentang sabar, ikhlas, pertengkaran itu tetaplah ada karena tdk gampang menyatukan dua insan yg seyogyany mempunyai pemikiran, watak, latar belakang yg berbeda. Bukan masalah umur d sini mas,, namun kesiapan, menurut Q, kata “waktu” merujuk pd siap atw tdkny seseorang,, umur mungkin berkorelasi, namun nilainy limit mendekati nol. Mas ipin ingin menikah d usia 27an? Mash berapa taon lg itu y? Persiapan apa yg sudah mas ipin lakukan?
Q sedikit meraba pemikiran mas ipin, mungkn krn laki2 jg mempunyai tanggung jwb yg lbh. Kalo d pikir” dg kondisi mas ipin skrng memang perlu extra d segala lini kehidupan kalo mau memutuskan untk menikah. Tp mas ipin jg nge-judge tdk baik trhdp nikah dini donk… (kalo2 lupa, mas tu pernah bilang bgtu k Q, asli!) Nikah dini yg gmn dulu,,Ada sbuah wacana yg menarik yg bru Q tahu tntng mahar yg perlu d ketahui kaum Adam *kpn kpn qt jdikn tema obroln santai qt y,, tp kyny bs kontra lg =(
Q suka comment dr mas Priyo Widodo,mas ipin kyny perlu bljr bnk dr dy…Emmm,, apa pun yg terjadi pd pasangan yg mas ceritain, bukanlah kuasa qt untk menjd hakim. Memberikn nilai untk si suami atwpun si istri. Mungkn btasan qt adlh sbg pngambl hikmah. Ada yg bilang, jodoh sudah ada yg mengatur,,berarti dia adl seseorang yg memang telah d persiapkn untk qt. D ciptakan untukmu, dr tulang rusukmu…
Jd menurut Q, mau istri itu diam atwpun teriak2, begitu jg sebalikny,, pasanganny itu sudah tau, lebih tau dan insya Allah tau pa yg musti d lakukan, Yg terbaik untk mereka.
Yuk mari sambil menunggu masa itu tiba, bnk2 belajar.
Q sbnrny agak takut mas ipin,, bnk istighfar untk memberi pndapt spt ini,, krn blm pernah mengalami,, smg tdk menjd bumerang d kemudian hari,, aamiin…Maaf jikalw ada yg kurang brkenan untk mas ipin,, seele!
” admin:
intinya, kita ga sepaham dalam hal ini. nanti aku tulis alasan2ku deh, sejelas mungkin. terima kasih udah mau menuangkan pemikirannya di sini ya.