DPR “Bergerak”

Beberapa hari ini aku sedikit membaca dan mengamati “sepak terjang” Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kita. Tadinya aku sedikit bangga saat tahu bahwa DPR cukup bersikap tegas dengan langsung mengirimkan beberapa orang sebagai perwakilan Indonesia untuk meminta Malaysia menghentikan “ulah”-nya di Ambalat. Aku hanya berdoa semoga usaha diplomasi ini berjalan baik nantinya dan tidak merugikan pihak Indonesia atau malah memperkeruh keadaan. Aku pikir ini bukti nyata atas sikap DPR yang mendapatkan berbagai wacana dari seluruh elemen bangsa ini. Para blogger di negeri ini, berbagai tulisan di media massa, kemudian bukti langsung gambar dan video yang ditangkap oleh stasiun teve swasta kemarin, aku pikir sudah cukup dijadikan rujukan sehingga membuat masing-masing dari kita berpikir bahwa negeri jiran ini sudah sangat keterlaluan dalam melakukan “kenakalan”-nya.
Tulisan tentang rencana keberangkatan perwakilan DPR ini bisa Anda simak di bawah ini.
Protes Keras Kasus Ambalat, DPR Terbang ke Malaysia Senin
Tim Komisi Pertahanan DPR akan memberikan protes keras kepada parlemen Malaysia atas manuver kapal Malaysia di Blok Ambalat, Kalimantan Timur. Tim yang dipimpin Yusron Ihza Mahendra itu akan terbang ke Malaysia Senin (8/6/2009) besok. “Senin malam pukul 18.00 WIB, kami terbang ke Malaysia. Karena paginya di Komisi I kami masih sidang dengan Menhan dan Panglinma TNI tentu masalah Ambalat kami bahas di situ,” kata Yusron kepada detikcom, Minggu (7/6/2009). Selain Yusron, anggota DPR yang ikut terbang ke Malaysia yaitu Djoko Susilo, Happy Bone Zukarnaen, Andreas Pariera, dab Sidqi Wahab. Pertemuan dengan parlemen Malaysia direncanakan digelar Selasa (9/6/2009).
Dalam pertemuan itu, tim DPR akan memberikan bukti-bukti bahwa Ambalat masuk dalam kedaulatan Indonesia. DPR akan minta Malaysia menghentikan manuver di Ambalat. “Kita minta Malaysia menghentikan manuvernya. Sebagai negara bertetangga tak ada yang diuntungkan bila Ambalat terus mengalami di mana diplomasi ditinggalkan dan terjadi perang,” tegas Yusron. Menurut Yusron, dalam 1 tahun ini Malaysia telah melakukan 13 kali pelanggaran. “Kita akan lebih keras karena kita mewakili rakyat Indonesia,” tegas Yusron. Selain melakukan pertemuan dengan parlemen Malaysia, tim DPR juga merencanakan bertemu Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan Malaysia serta Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak. Tapi rencana pertemuan tersebut belum fix. Tim akan kembali ke Indonesia pada Kamis.
from : detiknews.com
Namun, saat aku kembali “berputar-putar” dalam dunia maya, aku menemukan berita yang mencengangkan, yaitu salah satunya adalah tentang rencana DPR untuk memberikan “kenang-kenangan” atau cinderamata ratusan anggotanya berupa cincin emas, sehingga menuai kritik dari berbagai kalangan. Sungguh ini membuat citra DPR kembali buruk di mataku. Bagaimana tidak, DPR yang masih bercitra buruk akibat “ulah” beberapa personilnya beberapa waktu yang lalu, kemudian malah minta cinderamata yang tidak kecil jumlahnya. Aku pun berpikiran sama dengan Anda sepertinya bahwa tindakan ini sangatlah tidak perlu, sungguh tidak perlu.
Salah satu wacana tentang rencana DPR yang aku maksud tadi, bisa Anda baca dan simak pada tulisan berikut.
Jika Terealisasi, DPR Dinilai Lembaga Paling Tak Tahu Diri
Rencana pemberian cinderamata berupa cincin emas kepada anggota DPR mulai menuai kritik. Jika rencana itu sampai terealisasi, DPR adalah lembaga yang paling tidak tahu diri. “Di tengah citra yang buruk, kinerja yang buruk, lembaga paling korup, malah ingin melakukan itu. Itu sungguh memalukan dan nggak tahu diri,” kata Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Sebastian Salang saat dihubungi detikcom, Senin (8/6/2009).
“Di tengah banyak sidang-sidang yang tidak memenuhi kuorum karena tidak banyak yang tidak terpilih lagi, bukannya memperbaiki diri malah ingin mendapatkan cinderamata,” timpal Salang. Menurut perhitungan Salang, anggaran Rp 5 miliar untuk cincin emas bagi 550 anggota senilai dengan Rp 10.100.000,- atau senilai dengan 35 gram emas per orang. “Bayangkan 35 gram per orang. Emas itu harusnya diberikan kepada orang yang sempurna, berprestasi,” ujar Salang tentang logam nomor satu itu.
from : detiknews.com
Nah, mungkin Anda juga membaca bahwa DPR juga membentuk tim untuk salah satu kasus yang mencuak ke permukaan publik akhir-akhir ini, yaitu kasus tentang model cantik Manohara. Itupun bisa Anda dengar dengan “bantuan” banyak pihak sepertinya. Teve swasta, blogger di dunia maya, dan berbagai tulisan di media massa, merekalah yang membuat kasus ini mendapat sorotan dan perhatian publik. Di mana-mana sebagian besar orang membicarakan kasus ini. Apalagi hubungan Indonesia-Malaysia sedang “tidak baik”, tambah pula rasa tidak simpatik atau bahkan rasa benci pada masing-masing pembaca dan penonton kepada Malaysia terhadap kasus atau drama model cantik ini.
Apakah DPR benar-benar perlu melakukan ini? Maksudku benar-benar menganggarkan uangnya untuk kasus ini? Padahal sebelum ini banyak sekali kasus-kasus yang menimpa warga negara Indonesia dimana mereka mendapatkan ketidakadilan dari negeri jiran itu. Apakah keberangkatan ini terkait juga dengan usaha diplomasi DPR mengenai kasus Ambalat, jadi mungkin sekalian jalan? Ah aku tidak tahu. Yang jelas, aku sedikit tidak setuju akan rencana DPR yang satu ini. Pernyataan tidak setuju ternyata juga bukan hanya keluar dari mulutku, tetapi juga dari beberapa sahabat di dunia maya dengan pendapat dan argumennya melalui tulisan.
Yah, sepertinya bukan hal yang berlebihan kalau sekedar berpendapat bahwa rencana DPR terbang ke Malaysia hanya untuk mengurusi kasus Manohara belum perlu dilakukan saat ini, apalagi dengan menggunakan uang rakyat. Kalau menggunakan dana pribadi sih tidak apa-apa, dan silakan segera mungkin berangkat ke negeri jiran itu, kemudian segera selesaikan kasus ini. Salah satu ulasan mengenai “ketidaksetujuan” rencana DPR ini bisa Anda baca pada tulisan berikut.
DPR membentuk Pansus Manohara?
Oleh masfauzi – 3 Juni 2009 -Hari ini, 3 Juni 2009, di teleteks sebuah TV swasta tertulis: terkait kasus Manohara DPR akan ke Malaysia! Kalau itu betul, aneh benar bapak-bapak dan ibu-ibu kita itu. Rasanya puluhan laporan kasus TKI dan TKW yang mengalami kekerasan di luar negeri berkali-kali muncul di media. Namun reaksi DPR tak sesigap ketika kasus menimpa Manohara yang notabene menurut saya sebenarnya merupakan kasus rumah tangga yang bisa saja terjadi di manapun bahkan di Indonesia. Puluhan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) berulang kali muncul, dari istri diperlakukan kasar sampai dibunuh pun terjadi. Kasus ini mestinya diselesaikan sendiri antar keluarga atau kalau diduga terjadi KDRT atau pidana ya urusan polisi dan pengadilan tanpa harus menunggu DPR apalagi Presiden berbicara. Untuk hal-hal semacam itu rasanya sekedar komentar saja dari DPR rasanya sangat jarang atau bahkan tidak pernah muncul. Jadi, apa sih maunya DPR? Sungguh patut dihargai bantuan teman-teman kepada Manohara baik secara pribadi maupun organisasi, tetapi DPR? Subhanallah!
Ingat bapak-bapak, ibu-ibu yang terhormat, masih jutaan orang miskin yang tidak dapat memperoleh pelayanan kesehatan dan pendidikan yang memadai. Barangkali, barangkali saja, biaya yang akan dipergunakan buat “mengurus” Manohara ke Malaysia akan jauh lebih bermanfaat untuk membantu anak-anak yang menderita kanker, kelainan organ atau penyakit apapun yang tidak tertangani dengan baik lantaran ketiadaan biaya, bahkan sekiranya biaya “jalan-jalan” itu hanya cukup untuk membantu satu orang anak saja.
Mas Fauzifrom : public.kompasiana.com

Bagaimana menurut Anda tentang beberapa “gerakan” atau gebrakan DPR tersebut? Ada yang pro dan ada pula yang kontra tentu saja. Mari kita berdoa bersama, agar ke depannya DPR menjadi lembaga perwakilan rakyat yang makin bersih, makin bijak, makin disiplin, makin profesional, dan makin apa saja yang bersifat positif.
Pokoknya, hidup Indonesia!!







Posts

heh? pansus manohara shinosuke? aduh, saya jadi ndak enak hati.
” admin :
iya mas, ini nyata!!
Kenapa DPR baru bergerak kalau gaung permasalahannya sudah sedemikian keras?
” admin :
aku ga tahu pasti, wis. mungkin ini hanya ada di Indonesia.
kalo menurut saia, DPR memang bergerak, tapi terkesan jalan di tempat. So apa bedanya dengan gak bergerak??? but aku tetep menghargai usaha beliau2.
” admin :
hemmm, iya juga kayaknya yah? bergerak tapi terkesan diam.
untuk itu mari kita bersama berdoa agar kedepannya, DPR kita menjadi lebih baik, dari hari ke hari, dan citra buruk yang selama ini melekat hilang sedikit demi sedikit.
ada yang mau saia tambahin nih.. kalo kita mau merubah DPR kita, maka kita harus punya input2 baru yang berkualitas yang bisa menggantikan pemain2 lama yang terkesan bgitu2 ajah. Kita butuh input baru yang berkualitas.
” admin :
iya, njenengan benar. tapi “pemain2″ lama itu apa mau diganti yah? biasanya kalau orang udah merasakan “enak” akan mempertahankan kedudukannya itu kan?