Home > Kehidupan, Sekitar UGM > Susahnya “Memberantas” Rokok di Indonesia

Susahnya “Memberantas” Rokok di Indonesia

Mengapa cukup sulit untuk membuat para perokok di negeri ini jera? Apa yang menarik dari rokok sebenarnya, sehingga banyak orang mengatakan bahwa sekali saja orang mencoba untuk merokok maka akan sangat sulit untuk “keluar” dari jeratannya. Alhamdulillah ada contoh konkret dan real, yaitu ayahku sendiri. Walaupun bisa dikatakan terlambat, karena beliau baru mau berhenti merokok setelah “mampir” agak lama di rumah sakit karena sesak napas, dan ironisnya beliau baru sadar bahwa rokoklah yang telah menggerogoti paru-parunya selama ini. Bagaimana tidak, ayahku mengakui bahwa ia telah mengenal rokok sejak umur 10 tahun, dan sejak saat itu ia telah bersahabat baik dengannya. Sungguh keterlaluan rokok ini. Aku tidak bisa menyalahkan ayahku sepenuhnya, karena zaman dulu mungkin beliau tidak mendapatkan “hiburan” apapun selain rokok.

Ah sudahlah, yang patut disyukuri saat ini adalah kenyataan bahwa ayahku telah berhenti merokok. Alhamdulillah. Mungkin ini bukan semata-mata kesalahan perseorangan dari para perokok tadi, karena belum adanya larangan dan peringatan yang “berat” di negeri ini. Mungkin kalau saja ada larangan yang cukup tegas dari pemerintah, akan sedikit mengubah kenyataan bahwa Indonesia adalah produsen rokok ketiga terbesar di dunia setelah China dan India akan dapat diubah.

Selanjutnya, coba simak tulisan di bawah ini, agar Anda tahu bahwa negeri kita ini memang sedang mengalami semacam dilema untuk “kasus” yang satu ini.

Indonesia, Satu-satunya Negara yang Tidak Tandatangani FCTC

Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia Pasifik yang tidak menandatangani Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC merupakan konvensi pengendalian tembakau yang telah ditandatangani oleh 160 negara. Konvensi tersebut mengharuskan sebuah negara untuk membatasi dan mengurangi produksi rokok, menghapus iklan rokok, menyertakan gambar peringatan (picture warning) pada setiap bungkus rokok yang dijual, melarang penjualan rokok secara eceran, melarang anak-anak membeli rokok, menaikkan pajak rokok, dan menerapkan kawasan bebas rokok.

“Meski Thailand, Filipina, dan Malaysia sudah tanda tangan, mereka memerlukan perjuangan panjang merealisasikannya, bahkan Malaysia baru tahun ini berhasil membujuk pabrik rokok agar bungkus rokoknya ada picture warning,” kata peneliti pada Pusat Kajian Bioetika dan Humaniora, Fakultas Kedokteran (FK) UGM, Dra. Yayi Suryo Prabandani, M.Si., Ph.D., kepada wartawan dalam kegiatan hari tanpa tembakau sedunia yang jatuh pada 31 Mei 2009.

Ditemui di FK UGM, Jumat (29/5), Yayi menyebutkan produk rokok Sampoerna, Gudang Garam, dan lainnya yang dijual di Thailand, Malaysia, dan Amerika telah menyertakan gambar peringatan berbahaya di bungkusnya. “Karena negara yang menentukan, setiap rokok yang dijual harus mengikuti aturan yang diterapkan di masing-masing negara. Namun, di Indonesia tidak menetapkan peraturan, kecuali tulisan peringatan saja,” katanya.

Sementara itu, Direktur Pusat Kajian Bioetika dan Humaniora FK UGM, Prof. Dr. Soenarto Sastrowijoyo, Sp.THT, menilai upaya pemerintah membuat regulasi, baik di tingkat pusat maupun daerah, serta DPR berjalan lamban dalam menerapkan kebijakan promosi kesehatan dan kampanye anti rokok. “Komitmen pemerintah dan DPR alotnya bukan main, seolah tidak ingin berusaha membatasi produksi rokok dan melakukan kampanye anti rokok,” katanya heran.

Menurut pandangan Soenarto, belum adanya komitmen pemerintah untuk membatasi produksi rokok di dalam negeri disebabkan oleh besarnya dana pemasukan dari para produsen rokok, yakni sejumlah 38 triliun rupiah per tahun. Jumlah ini hampir 10 persen dari jumlah dana APBN. Di samping itu, kata Soenarto, pemerintah terkesan memberi kemudahan kepada produsen rokok dengan adanya pemberlakuan pajak rokok yang hanya 34 persen.

“Di Thailand saja, pajak rokok itu 70 persen. Di Indonesia hanya 34 persen dan rencananya akan naik 1 persen,” ujarnya. Soenarto membandingkan dengan komitmen Pemerintah Thailand terhadap upaya kebijakan anti rokok yang ditunjukkan dengan memberikan anggaran besar untuk promosi kesehatan. Selain dari kebijakan, mereka juga gencar melakukan kampanye, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. “Komitmen pemerintah sangat tinggi, bahkan Raja Thailand memberikan pidato di hari anti tembakau sedunia,” katanya.

Siwi Padmawati, salah satu peneliti di Pusat Kajian Bioetika, menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara produsen rokok ketiga terbesar di dunia setelah China dan India. Jumlah tersebut berdampak pada besarnya jumlah penderita tubercolosis (TB) di Indonesia yang juga terbesar ketiga di dunia. “Saat ini, rata-rata 1.172 orang meninggal dunia akibat karena rokok,” jelasnya. Menurut Siwi, diperlukan komitmen pemerintah melalui lintas departemen, tidak hanya departemen kesehatan. Departemen keuangan, tenaga kerja, dan pertanian, serta media massa juga harus dilibatkan, bahu-membahu untuk menjalankan kebijakan anti rokok.

from : ugm.ac.id

Bagaimana, Anda memiliki ide yang cukup kreatif untuk membantu “kampanye anti rokok” ini? Mari kita bersama-sama untuk saling mengingatkan untuk tidak merokok, karena rokok menjadi “teroris” yang bersifat internasional saat ini sepertinya. Rokok, oh rokok.

Footer: dokumentasikanlah hidup Anda selalu.
  • Share/Bookmark

Kehidupan, Sekitar UGM ,

  1. May 31st, 2009 at 10:56 | #1

    Alhamdulillah saya sudah berhenti sejak 13 mei lalu (Brarti dah brapa hari ya?).

    Karena mas ipin gak pernah merokok maka mas gak tau bagaimana nikmatnya merokok, sebagai mantan perokok, saya masih mengatakan kalo abis makan, saat ngopi, atau saat2 tertentu lainnya memang lebih enak ditemani dengan rokok.

    Sharing pengalaman aja, sebagai perokok kalo semakin dilarang, maka mereka akan semakin mencari2 alasan. Jadi sebaiknya jangan dilarang, cukup dibatasi aja, seperti pembatasan usia pembeli rokok, pembatasan tempat merokok, atau pembatasan lainnya, tapi juga dengan penerapan yang konsisten, dan dukungan semua lapisan masyarakat.

    Sebetulnya, kalo para “kaum gak merokok” mau menegor perokok yg sedang merokok ditempat umum, saya jamin mereka akan segera pindah merokoknya, atau bahkan mematikannya. Hanya saja para “kaum gak merokok” cuma bisa ngomong dibelakang, mungkin ini yg menyebabkan asumsi bahwa perokok lebih “jantan”.

    Juga jangan pake bukti2 ilmiah yg diputar balik supaya mendukung penghentian para perokok, seperti “penderita tubercolosis (TB) di Indonesia yang juga terbesar ketiga di dunia” yang ada diartikel mas, juga “Kematian Akibat Merokok, Indonesia Tempati Peringkat Ketiga di Dunia” yang ada di detik.com yang pernah saya share di akun FB saya, dengan comment:
    “Gmana gak jadi yang ketiga? Kan kita juga salah satu negara dengan penduduk terbanyak didunia.

    Penelitian yg lebay seperti ini yg bikin para perokok males berhenti merokok. Seakan dipaksa-paksain.. Cuma cari pembenaran buat ngelarang ngerokok.. HUH.. Gak kreatif…”

    Maaf Komennya Puanjang Buangat….

    ” admin :
    wah, panjang banget, sebagai “mantan” perokok, njenengan merasa tergelitik ya mas? :D
    wah, pendapat njenengan benar sekali mengenai cara2 untuk berkampanye “anti rokok” ini.
    semoga akan muncul langkah cerdas dan bijak ke depannya untuk mengatasi masalah ini.

  2. June 1st, 2009 at 15:07 | #2

    sebagai perokok saya ndak bisa komentar panjang lebar… :mrgreen:

    ” admin :
    baik mas, aku mengerti perasaanmu. :D

  3. March 25th, 2010 at 01:41 | #3

    Info yang menarik.

    “admin:
    terima kasih, mas. :D

  1. No trackbacks yet.