Indonesia >< Malaysia?

Hari ini kau membaca banyak sekali berita-berita mengenai “kasus” Ambalat, yang kalau tidak salah sudah mulai dibicarakan banyak orang sejak tahun 2005 lalu. Entah kenapa aku semakin tidak simpatik terhadap negeri Jiran ini. Ada-ada saja ulah yang mereka perbuat, yang kesannya sangat menyudutkan bangsaku : Indonesia. Tadinya aku tidak menghiraukan ungkapan sinis banyak orang yang mengatakan bahwa Malaysia adalah tukang klaim, tetapi dengan berita-berita yang aku baca di berbagai media massa, yang kemungkinan besar juga merupakan fakta, aku jadi semakin yakin akan kebenaran ungkapan tersebut. Terus terang, kalau sudah “masalah” menyudutkan Indonesiaku, nuraniku tergelitik dan rasa nasionalismeku sedikit terbakar sehingga membuatku bertanya dalam hati, “Apa yang bisa aku lakukan untuk membela bangsa dan negaraku?”
Kalau kita mau mereview lagi, ada banyak sekali “harta” milik bangsaku yang sudah diklaim oleh Malaysia, dan kalau tidak salah juga masih ada yang sedang dalam proses “pengklaiman”. Memang aku akui bahwa Indonesia sangat lemah dalam urusan lisensi dan hak paten, karena mungkin dirasa belum perlu tadinya, sehingga saat harta kekayaan kebudayaan milik sendiri dipatenkan oleh bangsa lain, Indonesiaku tidak bisa berkutik sama sekali. Di saat semuanya sudah terjadi, barulah muncul argumen yang beraneka ragam dari jutaan orang.
Kalau membaca tulisan yang terdapat di website dengan nama yang cukup “aneh”, yaitu malingsia.com, aku semakin merasa marah dan geram, darahku terasa mendidih, dan ingin rasanya mengeluarkan umpatan-umpatan buruk dengan kata-kata yang tidak bijak untuk negeri Jiran ini. Walaupun ditulis pada bulan November 2007, tetapi masih terasa rasanya sampai saat ini. Apalagi kalau melihat nasib bangsaku yang semakin tersudutkan oleh bangsa yang merasa serumpun dengan Indonesia ini. “Kalau merasa sebagai saudara serumpun, mengapa sering membuat masalah?”, pikirku dalam hati. Coba baca ini kutipannya terlebih dahulu, agar Anda juga bisa merasakan amarah yang aku miliki saat menulis semua ini.
DIPONEGORO, (GM).- Negara jiran Malaysia mengancam akan mengklaim bahasa nasional Indonesia sebagai bahasa Melayu (bahasa Malaysia). “Pemerintah Malaysia akan mengklaim bahasa Indonesia sebagai bahasa Melayu. Karena bahasa Melayu adalah bahasa Malaysia,” ujar Wakil Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Datuk Abdul Azis Harun kepada wartawan di sela-sela helaran “Kemilau Nusantara 2007? di Gedung Sate Bandung, Minggu (25/11).
Ancaman tersebut, katanya, akan dilaksanakan apabila masyarakat dan pemerintah Indonesia masih mempermasalahkan klaim Malaysia terhadap kesenian reog Ponorogo dan lagu “Rasa Sayange”. Menurutnya, lagu “Rasa Sayange” dibuat pada 1907 dan reog Ponorogo jauh lebih tua karena muncul saat bangsa Indonesia belum lahir. Yang ada pada waktu itu, baik Indonesia maupun Malaysia satu rumpun dan disebut Nusantara. “Masyarakat dan pemerintah Malaysia menganggap Indonesia dengan Malaysia adalah bagian dari Nusantara. Munculnya permasalahan ini, karena bangsa Indonesia mempersempit arti Nusantara tersebut,” tambahnya.
Sedangkan negara-negara yang masuk ke dalam Nusantara itu, ujarnya, selain Indonesia dan Malaysia, ada Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand bagian selatan. Jadi apabila ada kesenian lagu tradisional Indonesia yang berkembang di Malaysia, hal itu merupakan sesuatu yang wajar, karena kesenian itu dibawa oleh suku-suku di Indonesia ke Malaysia sejak ratusan tahun lalu. “Suku-suku di Indonesia datang bersama seni dan budaya tradisional dan dikembangkan di Malaysia. Kami tidak mungkin memisahkan mereka dengan seni budayanya,” ujarnya. Abdul Azis pun menyebutkan, pemerintah Indonesia dan Malaysia telah membicarakan masalah yang saat ini ramai diperbincangkan, seperti seni reog Ponorogo dan lagu “Rasa Sayange”. Dalam pembicaraan tersebut, katanya, pemerintah Malaysia lebih mengedepankan persatuan Nusantara.
“Namun secara detailnya, saya tidak tahu hasil dari pembicaraan antara Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI dan Menteri Kebudayaan Malaysia,” paparnya. Dia pun menyebutkan, kasus kesenian tradisional reog Ponorogo dan lagu “Rasa Sayange” ini menjadi ramai lebih karena pers Indonesia. Sedangkan pers Malaysia sendiri, tambahnya, tidak terlalu membesar-besarkan masalah tersebut. “Pasalnya, kedua kesenian tersebut sudah ada di Malaysia sejak ratusan tahun lalu, yang dibawa orang Indonesia dan kemudian menetap di Malaysia,” paparnya.
from : malingsia.com
Mungkin dirasa cukup reviewnya. Saat ini, hal yang lebih penting adalah bagaimana menyelesaikan masalah bilateral ini, yaitu antara Indonesia dan Malaysia. Mungkin kalau bisa digunakan sebagai tambahan, bagaimana membuat negeri Jiran ini jera dan tidak melakukan klaim budaya Indonesia seenaknya sendiri. Secara pribadi, aku merasa Malaysia memanfaatkan”kelemahan” bangsaku dalam hal lisensi dan hak paten. Apalagi kalau masalah hak paten kebudayaan, aku yakin Indonesiaku sama sekali tidak pernah memikirkannya. Maafkan aku kalau terlalu berlebihan dalam memikirkan semua ini.
Untuk kasus Ambalat, ada salah satu wacana yang mungkin dapat membantu menyelesaikan “perang dingin” antara kedua negara ini. Coba baca dan simak ulasan berikut.
Konflik Ambalat Sebaiknya Diselesaikan ASEAN
Penyelesaian konflik Blok Ambalat antara Indonesia dan Malaysia sebaiknya diselesaikan di tingkat Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) jika kedua negara tidak bisa menyelesaikan secara bilateral. Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Arwani Irawati MA di Jakarta, Sabtu [30/05], mengatakan, Indonesia dan Malaysia sepakat menyelesaikan konflik Ambalat melalui forum diplomasi secara bilateral tapi sampai saat ini belum ada penyelesaian kongkrit. “Jika konflik tersebut tidak bisa diselesaikan secara bilateral, sebaiknya diselesaikan di tingkat ASEAN karena Indonesia dan Malaysia adalah anggota ASEAN,” kata Arwani Irawati.
Dikatakannya, jika konflik tersebut diselesaikan di tingkat ASEAN maka Indonesia berpotensi memenang. Pertimbangannya, blok Ambalat yang menjadi wilayah sengketa lebih condong masuk ke perairan Indonesia dan Indonesia sudah lebih dulu menemukan sumber minyak di Blok ND-6. Pertimbangan lainnya, kata dia, Malaysia berpotensi konflik dengan beberapa negara lain anggota ASEAN. Jika konflik ini dibahas secara resmi oleh ASEAN, ia memperkirakan, Indonesia akan menang karena beberapa negara lain akan membela Indonesia. Menurut dia, Indonesia enggan kalau konflik ini dibahas di mahkamah internasional karena ada pengalaman buruk yakni konflik pulau Sipadan-Ligitan yang akhirnya lepas ke wilayah Malaysia. “Saat itu Malaysia membuat peta baru pada 1997 yang memasukkan pulau Sipadan-Ligitan ke dalam kawasan perairan negara tersebut,” katanya.
Peta itu, kata dia, yang diajukan Malaysia ke mahkamah internasional sebagai salah satu dasar gugatannya. Padahal, di peta tersebut Malaysia sudah mengambil sebagian wilayah perairan Indonesia. Menurut dia, jika persoalannya sudah saling klaim wilayah harus diselesaikan secara hukum. “Pemerintah Indonesia harus bisa bersikap tegas menyelesaikan persoalan ini karena posisinya kuat,” kata Arwani. Jika secara hukum juga belum ada penyelesaian, kata dia, opsi terakhir yang bisa dilakukan adalah kerja sama pengelolaan sumber minyak di Blok Ambalat antara kedua negara.
from : beritasore.com
Bagaimana menurut Anda, apakah Indonesia dan Malaysia akan benar-benar menjadi “saudara”? karena setahuku, yang namanya saudara itu tidak akan pernah saling menyakiti. Justru yang ada adalah perasaan saling memiliki sehingga akan berusaha untuk saling melindungi dan saling menguatkan satu sama lain. Semoga konflik Indonesia – Malaysia ini segera usai dan berakhir dengan jabat tangan disertai perasaan saling menghormari dan menghargai harkat dan martabat masing-masing negara. Sepertinya bukan sesuatu yang sulit, bukan?







Posts

aduh…berantem aja kita-kita ini kerjanya.
menurut saya masalah budaya nggak perlu ada hak paten dan klaim-klaim milik segala. biarkan berkembang secara natural saja. budaya itu akan dikenal atau melekat citranya kepada siapa yang secara aktif mengembangkannya. karena budaya itu saling mempengaruhi bahkan mungkin akarnya sama. seperti alat musik bambu pukul (kita kenal kolintang dari sulawesi), produk yang sama bisa kita temui di wilayah-wilayah pasifik. kita tidak bisa meng-klaim ini produk asli kita, begitupun mereka.
contoh: (bukan budaya sih), buah kiwi dikenal sebagai produk selandia baru padahal aslinya dari cina, karena orang selandia baru aktif mengembangkannya. karate jepang juga katanya yang memperkenalkan adalah orang india. tapi citra itu melekat di jepang karena mereka mengembangkannya.
nggak usah pakai acara rebut-rebutan deh…mending kita tunjukkan saja siapa yang lebih perduli terhadap budaya ini dengan melestarikannya.
(wah…panjang banget ya saya sok taunya hehehe..maap)
” admin :
wah, iya nih panjang banget, tapi ga apa2 dhing, karena aku memang suka yang panjang2
pendapat njenengan benar juga nih, tapi sayang sekali sepertinya Malaysia belum bisa berpikir seperti ini, terbukti dengan diklaimnya Reog Ponorogo dan lagu Rasa Sayange.
ah sudalah, sepertinya njenengan benar lagi, yang penting kita buktikan bahwa Indonesia lebih peduli dengan melestarikan budaya yang ada. sepertinya bukan sesuatu yang sulit.
@geRrilyawan :
tumben komennya serius
” admin :
wah, kok tumben? emang biasanya dia ga serius ya mas? hemmm
Setuju Pin, aku ya gregetan. Tapi dari seluruh kasus yang membuat aku jengkel, kasus penganiayaan gadis cantik Manohara Odelia Pinot adalah yang paling membuat aku simpatik.
Sayang banget Pin, gadis sesempurna dia cuma dijadikan mainan, tiap hari dikurung di kamar, tidak “diberdayakan” sebagaimana mestinya seorang istri. ckckckckc.
Apa yang bisa kau perbuat untuk negeri ini. Saranku ya Pin, bertindaklah dengan sesuatu yang benar2 kamu miliki, yang bisa dirasakan manfaatnya oleh orang2 di sekitarmu saja, jangan muluk2.
” admin :
iya, gregetan banget!! weh, siapa gadis cantik itu? kok aku ga tahu beritanya? duh, maaf ya, jadi ga tahu perasaanmu saat ini.
sesadis itukah? udah mulai emosi nih. nah ini tut, aku belum benar 2 tahu, baru samar2 aja. yah, saling mendoakan dan saling mengingatkan aja ya. hidup Indonesia!!
bagaimana klo pake petanya waktu Kerajaan Majapahit?
” admin :
aku yakin sebagian besar orang akan berpendapat bahwa Malaysia adalah bagian dari Indonesia, karena negeri Jiran ini mengakui bahwa ia adalah bagian dari Nusantara, begitu kan?
bagaimana tidak, Kerajaan Majapahit kan ada di Pulau Jawa.
hidup INDONESIA!!!!!
” admin :
hidup Indonesia!! jayalah Indonesia!!
mungkin lagu di bawah ini bisa sedikit membakar semangat nasionalisme kita bersama, mas.
gue suka gaya lo!!!
emank sebenarnya kita gak usah ikutan menghina2.
toh kita ini orang2 berpendidikan dan tau sopan santun! gak seperti orang2 gak berbudaya n gak bermoral yang senengnya ngomong kotor.
GBU….
” admin :
yeah, you’re right bro!!
tunjukkan bahwa Indonesia adalah negeri yang tahu sopan santun dan bermoral. mari mas, kita bersama-sama saling mengingatkan satu sama lain.
sampeyan pernah denger ungkapan jawa mas, “wonge seduluran, tapi duit gak kenal sedulur”.
ambalat banyak nyimpen potensi duit mas, makanya malingsia jadi lupa kalo kita ini sodara tua.
” admin :
yah, sepertinya jadi lebih dimengerti mas, bahwa uang memang telah membutakan mata semua orang mas, baik mata di kepala maupun mata di hati.
namun, apakah memang benar, semata-mata hanya karena uang? tidak adakah unsur lain?
@putut purwandono :
karena penasaran, aku search di google tentang kasus penganiayaan gadis cantik Manohara Odelia Pinot, Tut, dan inilah beberapa tulisan yang aku temukan :
dan sebagai tambahan, bagi Anda yang muslim, mungkin akan sangat geram dan murka dengan judul tulisan ini. namun aku yakin Anda akan tetap dengan bijak menyikapi semua ini. silakan disimak terlebih dahulu.
ah sudahlah, semoga kasus ini segera selesai, dan berakhir dengan kata maaf disertai perasaan untuk saling menghormati satu sama lain.
ngomong-ngomong, kapan Indonesia akan seperti Amerika yah? kalau di film2 Hollywood, kan sering ada cerita dimana Amerika mengirimkan satu batalyon pasukan bersenjata hanya untuk menyelamatkan satu nyawa warganya. apakah harus beberapa nyawa jadi korban lebih dulu, Indonesia baru mau “turun tangan”?
@
sugiman :
maksudnya itu peta wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit kan sampai ke semenanjung Malaka, piye to Pin?
” admin :
lah iya, maksudku tadi adalah bahwa Kerajaan Majapahit itu sangatlah luas, dan sudah mulai muncul istilah “Nusantara” sejak itu. Nah, pusatnya kan ada di Pulau Jawa. ga ada yang salah kan?
kalo g dipaksa ngomong bahasa melayu, NO FUC**** thank you!!!!!
enak aja bahasa kita mo di ubah2 paksa begitu!
panggil sini semua tentara & rakyat malaysia!!!!!! kita abisin mereka semua kalo emang mereka mao klaim2 terus!!!!!!
indo juga dah cukup dong sabar2 nya, budaya kita masa di rebut sih!
justru kita harus sadar negara kita itu punya budaya sendiri yg istimewa!
amerika tuh cuma tanah yg di rebut dari bangsa nya!, mereka pada dasar nya orang2 eropa yg tinggal di tempat yg berbeda, budaya mereka tuh masi sama seperti eropa!
sedangka kita adalah special!, ga ada titik awal nya, kitalah titik awal nya!
bekas anjing inggris tidak pantas mengklaim budaya kita!!
bantai semua anjing2 itu kalo perlu!!
” admin :
wow wow wow …!!
aku suka semangat njenengan, mas. tapi kita ga boleh gegabah dalam hal ini.
aku tahu darahmu mendidih saat ini, sama seperti mendidihnya darahku beberapa minggu ini, di saat membaca dan melihat berita tentang “berulah”nya negeri jiran ini.
begitulah kalau negeri tidak memiliki jati dirinya sendiri … semua yang sejatinya milik orang lain diakui miliknya … tiada kehormatan sedikitpun buat negeri semacam itu …
jangan sebut mereka dengan malingsia karena itu masih terdengar merdu ditelinga mereka … panggil saja mereka dengan sebutan “nestapa”, negeri sampah tanpa apa-apa …
” admin :
yah, begitulah adanya mas, kita masih belum bisa berbuat banyak, hanya diam membisu sepertinya.