Home > Artikel Dari Web Lain > Indonesia >< Malaysia?

Indonesia >< Malaysia?

aku2

Hari ini kau membaca banyak sekali berita-berita mengenai “kasus” Ambalat, yang kalau tidak salah sudah mulai dibicarakan banyak orang sejak tahun 2005 lalu. Entah kenapa aku semakin tidak simpatik terhadap negeri Jiran ini. Ada-ada saja ulah yang mereka perbuat, yang kesannya sangat menyudutkan bangsaku : Indonesia. Tadinya aku tidak menghiraukan ungkapan sinis banyak orang yang mengatakan bahwa Malaysia adalah tukang klaim, tetapi dengan berita-berita yang aku baca di berbagai media massa, yang kemungkinan besar juga merupakan fakta, aku jadi semakin yakin akan kebenaran ungkapan tersebut. Terus terang, kalau sudah “masalah” menyudutkan Indonesiaku, nuraniku tergelitik dan rasa nasionalismeku sedikit terbakar sehingga membuatku bertanya dalam hati, “Apa yang bisa aku lakukan untuk membela bangsa dan negaraku?”

Kalau kita mau mereview lagi, ada banyak sekali “harta” milik bangsaku yang sudah diklaim oleh Malaysia, dan kalau tidak salah juga masih ada yang sedang dalam proses “pengklaiman”. Memang aku akui bahwa Indonesia sangat lemah dalam urusan lisensi dan hak paten, karena mungkin dirasa belum perlu tadinya, sehingga saat harta kekayaan kebudayaan milik sendiri dipatenkan oleh bangsa lain, Indonesiaku tidak bisa berkutik sama sekali. Di saat semuanya sudah terjadi, barulah muncul argumen yang beraneka ragam dari jutaan orang.

Kalau membaca tulisan yang terdapat di website dengan nama yang cukup “aneh”, yaitu malingsia.com, aku semakin merasa marah dan geram, darahku terasa mendidih, dan ingin rasanya mengeluarkan umpatan-umpatan buruk dengan kata-kata yang tidak bijak untuk negeri Jiran ini. Walaupun ditulis pada bulan November 2007, tetapi masih terasa rasanya sampai saat ini. Apalagi kalau melihat nasib bangsaku yang semakin tersudutkan oleh bangsa yang merasa serumpun dengan Indonesia ini. “Kalau merasa sebagai saudara serumpun, mengapa sering membuat masalah?”, pikirku dalam hati. Coba baca ini kutipannya terlebih dahulu, agar Anda juga bisa merasakan amarah yang aku miliki saat menulis semua ini.

DIPONEGORO, (GM).- Negara jiran Malaysia mengancam akan mengklaim bahasa nasional Indonesia sebagai bahasa Melayu (bahasa Malaysia). “Pemerintah Malaysia akan mengklaim bahasa Indonesia sebagai bahasa Melayu. Karena bahasa Melayu adalah bahasa Malaysia,” ujar Wakil Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Datuk Abdul Azis Harun kepada wartawan di sela-sela helaran “Kemilau Nusantara 2007? di Gedung Sate Bandung, Minggu (25/11).

Ancaman tersebut, katanya, akan dilaksanakan apabila masyarakat dan pemerintah Indonesia masih mempermasalahkan klaim Malaysia terhadap kesenian reog Ponorogo dan lagu “Rasa Sayange”. Menurutnya, lagu “Rasa Sayange” dibuat pada 1907 dan reog Ponorogo jauh lebih tua karena muncul saat bangsa Indonesia belum lahir. Yang ada pada waktu itu, baik Indonesia maupun Malaysia satu rumpun dan disebut Nusantara. “Masyarakat dan pemerintah Malaysia menganggap Indonesia dengan Malaysia adalah bagian dari Nusantara. Munculnya permasalahan ini, karena bangsa Indonesia mempersempit arti Nusantara tersebut,” tambahnya.

Sedangkan negara-negara yang masuk ke dalam Nusantara itu, ujarnya, selain Indonesia dan Malaysia, ada Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand bagian selatan. Jadi apabila ada kesenian lagu tradisional Indonesia yang berkembang di Malaysia, hal itu merupakan sesuatu yang wajar, karena kesenian itu dibawa oleh suku-suku di Indonesia ke Malaysia sejak ratusan tahun lalu. “Suku-suku di Indonesia datang bersama seni dan budaya tradisional dan dikembangkan di Malaysia. Kami tidak mungkin memisahkan mereka dengan seni budayanya,” ujarnya. Abdul Azis pun menyebutkan, pemerintah Indonesia dan Malaysia telah membicarakan masalah yang saat ini ramai diperbincangkan, seperti seni reog Ponorogo dan lagu “Rasa Sayange”. Dalam pembicaraan tersebut, katanya, pemerintah Malaysia lebih mengedepankan persatuan Nusantara.

“Namun secara detailnya, saya tidak tahu hasil dari pembicaraan antara Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI dan Menteri Kebudayaan Malaysia,” paparnya. Dia pun menyebutkan, kasus kesenian tradisional reog Ponorogo dan lagu “Rasa Sayange” ini menjadi ramai lebih karena pers Indonesia. Sedangkan pers Malaysia sendiri, tambahnya, tidak terlalu membesar-besarkan masalah tersebut. “Pasalnya, kedua kesenian tersebut sudah ada di Malaysia sejak ratusan tahun lalu, yang dibawa orang Indonesia dan kemudian menetap di Malaysia,” paparnya.

from : malingsia.com

Mungkin dirasa cukup reviewnya. Saat ini, hal yang lebih penting adalah bagaimana menyelesaikan masalah bilateral ini, yaitu antara Indonesia dan Malaysia. Mungkin kalau bisa digunakan sebagai tambahan, bagaimana membuat negeri Jiran ini jera dan tidak melakukan klaim budaya Indonesia seenaknya sendiri. Secara pribadi, aku merasa Malaysia memanfaatkan”kelemahan” bangsaku dalam hal lisensi dan hak paten. Apalagi kalau masalah hak paten kebudayaan, aku yakin Indonesiaku sama sekali tidak pernah memikirkannya. Maafkan aku kalau terlalu berlebihan dalam memikirkan semua ini.

Untuk kasus Ambalat, ada salah satu wacana yang mungkin dapat membantu menyelesaikan “perang dingin” antara kedua negara ini. Coba baca dan simak ulasan berikut.

Konflik Ambalat Sebaiknya Diselesaikan ASEAN

Penyelesaian konflik Blok Ambalat antara Indonesia dan Malaysia sebaiknya diselesaikan di tingkat Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) jika kedua negara tidak bisa menyelesaikan secara bilateral. Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Arwani Irawati MA di Jakarta, Sabtu [30/05], mengatakan, Indonesia dan Malaysia sepakat menyelesaikan konflik Ambalat melalui forum diplomasi secara bilateral tapi sampai saat ini belum ada penyelesaian kongkrit. “Jika konflik tersebut tidak bisa diselesaikan secara bilateral, sebaiknya diselesaikan di tingkat ASEAN karena Indonesia dan Malaysia adalah anggota ASEAN,” kata Arwani Irawati.

Dikatakannya, jika konflik tersebut diselesaikan di tingkat ASEAN maka Indonesia berpotensi memenang. Pertimbangannya, blok Ambalat yang menjadi wilayah sengketa lebih condong masuk ke perairan Indonesia dan Indonesia sudah lebih dulu menemukan sumber minyak di Blok ND-6. Pertimbangan lainnya, kata dia, Malaysia berpotensi konflik dengan beberapa negara lain anggota ASEAN. Jika konflik ini dibahas secara resmi oleh ASEAN, ia memperkirakan, Indonesia akan menang karena beberapa negara lain akan membela Indonesia. Menurut dia, Indonesia enggan kalau konflik ini dibahas di mahkamah internasional karena ada pengalaman buruk yakni konflik pulau Sipadan-Ligitan yang akhirnya lepas ke wilayah Malaysia. “Saat itu Malaysia membuat peta baru pada 1997 yang memasukkan pulau Sipadan-Ligitan ke dalam kawasan perairan negara tersebut,” katanya.

Peta itu, kata dia, yang diajukan Malaysia ke mahkamah internasional sebagai salah satu dasar gugatannya. Padahal, di peta tersebut Malaysia sudah mengambil sebagian wilayah perairan Indonesia. Menurut dia, jika persoalannya sudah saling klaim wilayah harus diselesaikan secara hukum. “Pemerintah Indonesia harus bisa bersikap tegas menyelesaikan persoalan ini karena posisinya kuat,” kata Arwani. Jika secara hukum juga belum ada penyelesaian, kata dia, opsi terakhir yang bisa dilakukan adalah kerja sama pengelolaan sumber minyak di Blok Ambalat antara kedua negara.

from : beritasore.com

Bagaimana menurut Anda, apakah Indonesia dan Malaysia akan benar-benar menjadi “saudara”? karena setahuku, yang namanya saudara itu tidak akan pernah saling menyakiti. Justru yang ada adalah perasaan saling memiliki sehingga akan berusaha untuk saling melindungi dan saling menguatkan satu sama lain. Semoga konflik Indonesia – Malaysia ini segera usai dan berakhir dengan jabat tangan disertai perasaan saling menghormari dan menghargai harkat dan martabat masing-masing negara. Sepertinya bukan sesuatu yang sulit, bukan?

Footer: dokumentasikanlah hidup Anda selalu.
  • Share/Bookmark

Artikel Dari Web Lain ,

  1. May 31st, 2009 at 18:28 | #1

    aduh…berantem aja kita-kita ini kerjanya.
    menurut saya masalah budaya nggak perlu ada hak paten dan klaim-klaim milik segala. biarkan berkembang secara natural saja. budaya itu akan dikenal atau melekat citranya kepada siapa yang secara aktif mengembangkannya. karena budaya itu saling mempengaruhi bahkan mungkin akarnya sama. seperti alat musik bambu pukul (kita kenal kolintang dari sulawesi), produk yang sama bisa kita temui di wilayah-wilayah pasifik. kita tidak bisa meng-klaim ini produk asli kita, begitupun mereka.
    contoh: (bukan budaya sih), buah kiwi dikenal sebagai produk selandia baru padahal aslinya dari cina, karena orang selandia baru aktif mengembangkannya. karate jepang juga katanya yang memperkenalkan adalah orang india. tapi citra itu melekat di jepang karena mereka mengembangkannya.
    nggak usah pakai acara rebut-rebutan deh…mending kita tunjukkan saja siapa yang lebih perduli terhadap budaya ini dengan melestarikannya.
    (wah…panjang banget ya saya sok taunya hehehe..maap)

    ” admin :
    wah, iya nih panjang banget, tapi ga apa2 dhing, karena aku memang suka yang panjang2 :P
    pendapat njenengan benar juga nih, tapi sayang sekali sepertinya Malaysia belum bisa berpikir seperti ini, terbukti dengan diklaimnya Reog Ponorogo dan lagu Rasa Sayange.
    ah sudalah, sepertinya njenengan benar lagi, yang penting kita buktikan bahwa Indonesia lebih peduli dengan melestarikan budaya yang ada. sepertinya bukan sesuatu yang sulit. :D

  2. June 1st, 2009 at 00:56 | #2

    @geRrilyawan :
    tumben komennya serius :D

    ” admin :
    wah, kok tumben? emang biasanya dia ga serius ya mas? hemmm :D

  3. putut purwandono
    June 1st, 2009 at 08:55 | #3

    Setuju Pin, aku ya gregetan. Tapi dari seluruh kasus yang membuat aku jengkel, kasus penganiayaan gadis cantik Manohara Odelia Pinot adalah yang paling membuat aku simpatik.
    Sayang banget Pin, gadis sesempurna dia cuma dijadikan mainan, tiap hari dikurung di kamar, tidak “diberdayakan” sebagaimana mestinya seorang istri. ckckckckc.
    Apa yang bisa kau perbuat untuk negeri ini. Saranku ya Pin, bertindaklah dengan sesuatu yang benar2 kamu miliki, yang bisa dirasakan manfaatnya oleh orang2 di sekitarmu saja, jangan muluk2.

    ” admin :
    iya, gregetan banget!! weh, siapa gadis cantik itu? kok aku ga tahu beritanya? duh, maaf ya, jadi ga tahu perasaanmu saat ini. :D
    sesadis itukah? udah mulai emosi nih. nah ini tut, aku belum benar 2 tahu, baru samar2 aja. yah, saling mendoakan dan saling mengingatkan aja ya. hidup Indonesia!! :D

  4. June 1st, 2009 at 12:39 | #4

    bagaimana klo pake petanya waktu Kerajaan Majapahit?

    ” admin :
    aku yakin sebagian besar orang akan berpendapat bahwa Malaysia adalah bagian dari Indonesia, karena negeri Jiran ini mengakui bahwa ia adalah bagian dari Nusantara, begitu kan? :D
    bagaimana tidak, Kerajaan Majapahit kan ada di Pulau Jawa.

  5. gabriel
    June 1st, 2009 at 13:15 | #5

    hidup INDONESIA!!!!!

    ” admin :
    hidup Indonesia!! jayalah Indonesia!! :D
    mungkin lagu di bawah ini bisa sedikit membakar semangat nasionalisme kita bersama, mas. :D

    INDONESIA TANAH PUSAKA Written by : Ismail Marzuki

    Indonesia tanah air beta
    Pusaka abadi nan jaya
    Indonesia sejak dulu kala
    Tetap dipuja puja bangsa

    Di sana tempat lahir beta
    Dibuai dibesarkan bunda
    Tempat berlindung di hari tua
    Tempat akhir menutup mata

  6. gabriel
    June 1st, 2009 at 13:22 | #6

    geRrilyawan :
    aduh…berantem aja kita-kita ini kerjanya.
    menurut saya masalah budaya nggak perlu ada hak paten dan klaim-klaim milik segala. biarkan berkembang secara natural saja. budaya itu akan dikenal atau melekat citranya kepada siapa yang secara aktif mengembangkannya. karena budaya itu saling mempengaruhi bahkan mungkin akarnya sama. seperti alat musik bambu pukul (kita kenal kolintang dari sulawesi), produk yang sama bisa kita temui di wilayah-wilayah pasifik. kita tidak bisa meng-klaim ini produk asli kita, begitupun mereka.
    contoh: (bukan budaya sih), buah kiwi dikenal sebagai produk selandia baru padahal aslinya dari cina, karena orang selandia baru aktif mengembangkannya. karate jepang juga katanya yang memperkenalkan adalah orang india. tapi citra itu melekat di jepang karena mereka mengembangkannya.
    nggak usah pakai acara rebut-rebutan deh…mending kita tunjukkan saja siapa yang lebih perduli terhadap budaya ini dengan melestarikannya.
    (wah…panjang banget ya saya sok taunya hehehe..maap)

    ” admin :
    wah, iya nih panjang banget, tapi ga apa2 dhing, karena aku memang suka yang panjang2. :D
    pendapat njenengan benar juga nih, tapi sayang sekali sepertinya Malaysia belum bisa berpikir seperti ini, terbukti dengan diklaimnya Reog Ponorogo dan lagu Rasa Sayange.
    ah sudalah, sepertinya njenengan benar lagi, yang penting kita buktikan bahwa Indonesia lebih peduli dengan melestarikan budaya yang ada. sepertinya bukan sesuatu yang sulit. :D

    gue suka gaya lo!!!
    emank sebenarnya kita gak usah ikutan menghina2.
    toh kita ini orang2 berpendidikan dan tau sopan santun! gak seperti orang2 gak berbudaya n gak bermoral yang senengnya ngomong kotor.
    GBU….

    ” admin :
    yeah, you’re right bro!!
    tunjukkan bahwa Indonesia adalah negeri yang tahu sopan santun dan bermoral. mari mas, kita bersama-sama saling mengingatkan satu sama lain. :D

  7. June 1st, 2009 at 15:09 | #7

    sampeyan pernah denger ungkapan jawa mas, “wonge seduluran, tapi duit gak kenal sedulur”.
    ambalat banyak nyimpen potensi duit mas, makanya malingsia jadi lupa kalo kita ini sodara tua.

    ” admin :
    yah, sepertinya jadi lebih dimengerti mas, bahwa uang memang telah membutakan mata semua orang mas, baik mata di kepala maupun mata di hati. :D
    namun, apakah memang benar, semata-mata hanya karena uang? tidak adakah unsur lain?

  8. June 1st, 2009 at 20:13 | #8

    @putut purwandono :
    karena penasaran, aku search di google tentang kasus penganiayaan gadis cantik Manohara Odelia Pinot, Tut, dan inilah beberapa tulisan yang aku temukan :

    Keprihatinan Manohara Harus Jadi Pelajaran

    Kasus Manohara, harus jadi pelajaran bagi bangsa ini. Di antaranya, agar setiap orangtua tidak mudah tergiur harta sehingga mengawinkan anak-anaknya pada usia yang sangat muda. “Kita bersyukur kembalinya Manoha Odelia Pinot ke Indonesia. Kita prihatin kasus yang menimpa Manohara dan mengharapkan bisa diselidiki dengan transparan dan adil ,” ujar Musni Umar, anggota juru bicara Eminent Persons Group Indonesia (EPG Indonesia) dalam kerjasama antarbangsa antara Indonesia dan Malaysia di Jakarta, Minggu (31/5) malam.

    Kasus ini, menurut Musni, kembali mengingatkan setiap orangtua yang ingin menikahkan anaknya, harus mempertimbangkan kondisi psikologis dan biologis anak. Apalagi, kalau sampai usia sang anak belum pantas kawin karena masih di bawah umur. “Laporan yang disampaikan Manohara ke publik baru sepihak. Supaya berimbang dan adil perlu mendengar penjelasan dari pihak suaminya dan Kedubes RI di Malaysia,” ujarnya.

    Musni berharap, kasus Manohara diselesaikan secara hukum dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya sehingga tidak mengganggu hubungan baik masyarakat Indonesia Malaysia. “Kasus Manohara harus dihadapi dengan kepala dingin. Semua yang diungkapkan Manohara semoga ada bukti hukumnya yang kuat seperti saksi, bukti penyiksaan dan bukti-bukti lain, sehingga bisa ditegakkan keadilan,” ujarnya.

    from : nasional.kompas.com

    dan sebagai tambahan, bagi Anda yang muslim, mungkin akan sangat geram dan murka dengan judul tulisan ini. namun aku yakin Anda akan tetap dengan bijak menyikapi semua ini. silakan disimak terlebih dahulu.

    Saat Haid, Manohara Dipaksa Layani Suami

    Daisy Fajarina terus berjuang untuk bertemu dengan anaknya, Manohara Odelia Pinot. Mereka dilarang bertemu bahkan berkomunikasi setelah menikah dengan putra Raja Kelantan, Malaysia, Tengku Temenggong Muhammad Fakhry Petra, pada 26 Agustus 2008. Didampingi kuasa hukumnya, Afrian Bondjol ”Boy” dari OC Kaligis & Associates, dan pengacara keluarga, Yuri Darmas, Daisy mendatangi Direktorat Perlindungan WNI di gedung Departemen Luar Negeri, Jumat (24/4) pagi. Siangnya, Daisy menemui M Ridha Saleh, Wakil Ketua/Bidang Internal Komnas HAM.

    ”Kami membawa bukti telah terjadi tindak kekerasan dan kesewenang-wenangan terhadap Manohara sebagai warga negara Indonesia yang ada di Malaysia,” ujar Boy. Di lain pihak, Ridha menyatakan pihaknya telah meminta dukungan Komnas HAM di Malaysia dan berkirim surat ke kementerian luar negeri di Kuala Lumpur. Untuk menanyakan tiga hal, yakni pengaduan tindak kekerasan, pelecehan warga negara, dan pencekalan yang tidak beralasan. Kepada kedua instansi tersebut, Boy menunjukkan bukti rekaman suara Mano saat menelepon ibunya, fotokopian surat keterangan dokter Naek L Tobing, dan fotokopi surat Mano buat Tengku Fakhry. Berkas-berkas tersebut dibuat saat Mano kabur ke Indonesia, antara Oktober 2008-Februari 2009.

    Dalam surat keterangan pemeriksaannya, 31 Februari 2009, dr Naek L Tobing mengungkapkan adanya kekerasan seksual yang dilakukan Tengku Fakhry terhadap Mano. Demikian pernyataan dr Naek: ”Bahwa Nyonya Manohara, berusia 17 tahun mengeluh diperlakukan dengan kekerasan oleh suami, misalnya dipaksa coitus (berhubungan seks) sewaktu haid. Akibatnya dia sedih dan bingung.” Dalam suratnya kepada Fakhry, Mano menuliskan bahwa Fakhry telah menyakiti dirinya di malam pertama pernikahan mereka dengan memaksa untuk berhubungan seks, padahal Mano sedang menstruasi. Mano menyebut Fakhry sering tak bersikap dewasa, misalnya meminta Mano terus mengganti nomor telepon seluler agar tidak bisa dihubungi teman.

    Di akhir Februari hingga 9 Maret 2009, Fakhry mengajak Mano dan keluarga Umroh ke Mekah. Lalu ia mencoba membujuk Mano kembali ke Istana Kelantan seraya berjanji bahwa dirinya akan berubah jadi suami yang baik, dan akan meresmikan pernikahan di Indonesia. Tapi nyatanya selesai Umroh, Mano dipisahkan dengan keluarganya. Setelah itu, ibu dan nenek Mano dicekal Pemerintah Malaysia. Surat pencekalan yang ditandatangani ketua Urusan Imigrasi Malaysia, Wan Teh Binti Abd Kadir, tanggal 19 Maret 2009, ditujukan kepada Daisy, tanpa alasan. ”Pencekalan ini tidak berdasarkan hukum, karena Ibu Daisy bukan koruptor, buron, atau teroris,” jelas Boy.

    Kemarin, Daisy juga menanggapi soal caleg Jambi, Miqbal Ismali Fahmi, yang menyampaikan pesan Raja Kelantan Malaysia, bahwa kasus yang dialami Manohara adalah murni kasus perselisihan di antara anak kandung dan ibunya. ”Berita itu bohong. Saya sudah telepon Pak Iqbal, karena saya kenal baik. Tapi, ia membantah kalau dia bicara demikian. Pak Iqbal tahu bahwa Fakhry melakukan kekerasan terhadap Mano,” tegas Daisy.

    Ibu cantik ini menengarai ada upaya Raja Kelantan untuk mengadu domba keluarganya dengan orang-orang yang diakui kerabat dekat raja. Daisy juga mendapatkan informasi bahwa Mano diberi obat agar bisa cepat hamil. ”Obat ini meningkatkan hormon Mano sehingga beratnya dalam dua minggu naik 8 kg, dan wajahnya jerawatan,” ungkap Daisy. Karena usahanya ini, Daisy mendapat teror lewat telepon private number. ”Dia bilang, ‘hati-hatilah, orang Malaysia bisa meledak.’ Ya, insya Allah, saya percaya nyawa ada di tangan Tuhan. Saya masih ada harapan, dan saya percaya, setiap orang punya kedudukan yang sama di mata hukum. Tak ada yang kebal hukum, termasuk Raja Kelantan sekalipun,” tutur Daisy yakin.

    from : nasional.kompas.com

    ah sudahlah, semoga kasus ini segera selesai, dan berakhir dengan kata maaf disertai perasaan untuk saling menghormati satu sama lain.

    ngomong-ngomong, kapan Indonesia akan seperti Amerika yah? kalau di film2 Hollywood, kan sering ada cerita dimana Amerika mengirimkan satu batalyon pasukan bersenjata hanya untuk menyelamatkan satu nyawa warganya. apakah harus beberapa nyawa jadi korban lebih dulu, Indonesia baru mau “turun tangan”? :D

  9. June 1st, 2009 at 20:27 | #9

    @

    sugiman :
    maksudnya itu peta wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit kan sampai ke semenanjung Malaka, piye to Pin?

    ” admin :
    lah iya, maksudku tadi adalah bahwa Kerajaan Majapahit itu sangatlah luas, dan sudah mulai muncul istilah “Nusantara” sejak itu. Nah, pusatnya kan ada di Pulau Jawa. ga ada yang salah kan?

  10. varutieru
    June 6th, 2009 at 18:37 | #10

    kalo g dipaksa ngomong bahasa melayu, NO FUC**** thank you!!!!!
    enak aja bahasa kita mo di ubah2 paksa begitu!
    panggil sini semua tentara & rakyat malaysia!!!!!! kita abisin mereka semua kalo emang mereka mao klaim2 terus!!!!!!

    indo juga dah cukup dong sabar2 nya, budaya kita masa di rebut sih!
    justru kita harus sadar negara kita itu punya budaya sendiri yg istimewa!
    amerika tuh cuma tanah yg di rebut dari bangsa nya!, mereka pada dasar nya orang2 eropa yg tinggal di tempat yg berbeda, budaya mereka tuh masi sama seperti eropa!
    sedangka kita adalah special!, ga ada titik awal nya, kitalah titik awal nya!

    bekas anjing inggris tidak pantas mengklaim budaya kita!!
    bantai semua anjing2 itu kalo perlu!!

    ” admin :
    wow wow wow …!!
    aku suka semangat njenengan, mas. tapi kita ga boleh gegabah dalam hal ini. :D
    aku tahu darahmu mendidih saat ini, sama seperti mendidihnya darahku beberapa minggu ini, di saat membaca dan melihat berita tentang “berulah”nya negeri jiran ini.

  11. June 14th, 2009 at 03:04 | #11

    begitulah kalau negeri tidak memiliki jati dirinya sendiri … semua yang sejatinya milik orang lain diakui miliknya … tiada kehormatan sedikitpun buat negeri semacam itu …
    jangan sebut mereka dengan malingsia karena itu masih terdengar merdu ditelinga mereka … panggil saja mereka dengan sebutan “nestapa”, negeri sampah tanpa apa-apa …

    ” admin :
    yah, begitulah adanya mas, kita masih belum bisa berbuat banyak, hanya diam membisu sepertinya.

  1. June 10th, 2009 at 05:31 | #1
  2. January 7th, 2010 at 08:46 | #2