Aku “dilangkahi” Adikku

Semalam aku mendapatkan sms dari adikku, Rina Ambiyawati, yang baru saja sampai di Jakarta sana. Mungkin karena terlalu lelah dan hampir terlelap tidur, tetapi tiba-tiba ingat diriku, ia kemudian mengambil hapenya dan langsung sms aku. “Assalaamu’alaikum. Mas, agi ngapa kowe? Oiya, insyaAllah bulan Desember ngesuk aku arep nikah. Jere nek nglangkahi kon taren dhisit. Lah, nggo ila-ila, kowe arep njaluk apa nang aku?”. Karena aku sedang berada di depan monitor dan bingung mau menjawab apa, aku putuskan untuk menjawabnya nanti. Ada-ada saja.
Kira-kira setengah jam kemudian, karena mungkin tidak sabar, adikku sms aku lagi. “Mas, deneng ora dibales”. Ternyata ia belum tidur, dan aku pikir ia butuh jawabanku segera. Akhirnya aku balas smsnya tadi, “Wa’alaikumsalam. Iya ora papa. Aku ikhlas dilangkahi. Waduh, tapi aku asih bingung arep njaluk apa je”. Aku sangat bingung saat ditanya “minta apa” tadi. Sebenarnya aku pernah mendengar “rumor” ini bahwa jika seorang adik yang hendak menikah tetapi mendahului kakaknya yang belum menikah, maka sang adik harus minta izin dan doa restu sembari memberikan “sesuatu” untuk melegakan sang kakak. Lagi-lagi, ada-ada saja.
Yah, aku anggap ini sebagai formalitas belaka. Aku akan menyebutkan “sesuatu” yang aku minta nanti. Aku hanya berharap adikku bahagia kelak bersama pasangannya dan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Hanya itu. Entah kenapa aku merasa kata “menikah” menghantuiku beberapa minggu ini. Saat aku di rumah kemarin, tidak sedikit orang yang bertanya padaku, “Lha endi calon bojone? Deneng ora tau digawa?”. Sial, mengapa harus pertanyaan seperti ini yang aku hadapi. Karena malas membahasnya dan masih puasa, aku jawab saja sekenanya, “Anu lagi sibuk nangumah lik/pak, kan arep badan”. Akhirnya aku bisa terlepas dari pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang sepertinya akan meluncur. Huh, sepertinya banyak orang menilai bahwa aku seharusnya sudah pantas untuk menikah.

Kemudian aku teringat pada obrolan dengan temanku pasca lebaran kemarin. Dia heran kepadaku, karena ia merasa selama ia mengenalku, ia tidak pernah mendengar “gosip” atau kabar bahwa aku “dekat” dengan wanita. Spontan dan tanpa rasa bersalah, ia langsung bertanya, “Pin, kowe wis nduwe pacar urung? Deneng kayane ayem-ayem baen? Kapan mbojone nek kaya kuwe?”. Duh, apa sebenarnya apa yang ia pikirkan saat “menyerang”ku dengan beberapa pertanyaan tadi. Setelah berpikir saat, aku jawab dengan cukup tenang, “Urung je. Goletaken ya. Lah kayane ora arep pacaran baen lah. Bebeh. Paling-paling langsung nikah baen. Aja kaget ya nek ujug-ujug kowe ngesuk nampa undangan nikah sekang aku”. Akhirnya aku dapat terlepas kembali dari pertanyaan seputar nikah dan ia memutuskan untuk mencari bahan obrolan lain. “Kena kau!”, pikirku.
Tadi pagi, karena cukup bingung, akhirnya aku menghubungi ibuku dan menanyakan apa yang seharusnya aku minta pada adikku agar pernikahannya dapat berjalan dengan baik. “Lah, kuwe kan mung nggo ila-ila Pin, njaluk baen sarung, klambi karo peci”, jawab ibuku dengan santai. Ya sudahlah. Mungkin itu saja yang aku minta adikku nanti. Dasar “formalitas” yang aneh menurutku. Biarlah. Semoga semuanya tadi tidak membawaku pada perbuatan syirik atau menyekutukan Tuhanku. Lindungilah hamba ya Allah, ya Rabb.
Sepertinya aku harus segera bangkit dari depan komputerku ini. Aku harus segera beraktivitas kembali. Semoga Anda tidak muak membaca coretan-coretanku ini. Mari kita tetap berbagi cerita dan pengalaman. Apa saja. Nuwun.







Posts

Minta calon istri aja pin..hahahaha
setuju sama winky..
minta calon istri aja… huahaha… [lol][lol]
minta istri aja. nanggung kalo cuma calon istri.
kalo minta istri kasihan adiknya..bisa2 adiknya ipin g jadi nikah gara2 g dapet istri buat si ipin..kalo calon kan gampang kan..hehehehe
Pin, kamu tuch masih doyan cewek? :p
aduh, kalian semua ini apa-apaan sih? kompak banget. dengar ya, aku tuh udah ada calon. tinggal nunggu waktu yang tepat aja. hahaha. jadi, mohon doanya aja ya. sukses untuk kalian semua.
Pin, masak kamu nggak tau tradisi “langkahan”? Itu kan adat Jawa? Banyak2 pergaulan sama orang-orang tua donk!
iya aku tahu wisna. cuma pura-pura ga tahu aja. aku ga terlalu peduli dengan “adat” seperti itu. aku anggap formalitas aja.
di tunggu kabar baik n kiriman undangan nya aja deh…Jangan mau kalah sama adik mu…:)
kamu serius mau nunggu undangan dariku, dai? masih lebih dari 2 tahun lagi lo. aku kan belum ada 25 tahun. yang pasti aku akan menikah suatu saat nanti, pada waktu dan kondisi yang tepat.
bisa lebih spesifik mas, yang dimaksud dengan waktu dan kondisi yang tepat. Kalau menurut saya waktu yang tepat antara jam 7.00-17.00 pas bulan ramadhan, sedangkan kondisi yang tepat yaitu pas cuaca cerah (tidak hujan). kalau menurut ipin gimana?