Masalah “segitiga”

segitiga cinta
Pukul 10-an malam aku mendapat sebuah sms di handphone-ku. Bunyinya, “Pin, nanti jam 12-an telpon-telponan ya. Aku mau ngasih tahu rahasia TERBESARKU! Tapi kalau kamu ga bisa juga ga papa”. Oh ternyata temanku satu SMA dulu yang sms. Karena aku tertarik dengan kata dengan huruf kapital di atas, segera aku balas sms tersebut, “Okeh, aku tunggu”. Cool sekali aku ini. Yah, sebagai teman yang baik aku berusaha memberikan temanku ini. Sepertinya ada sesuatu yang penting yang hendak ia bicarakan padaku. Namun yang aku sayangkan, akibat ulah operator seluler “kurang ajar” yang aku pakai, aku harus meluangkan waktu tengah malamku tersebut, karena pada pukul 00.00 – 15.00 tarif yang digunakan adalah 1 rupiah untuk sepuasnya. Yah, Anda boleh menganggapnya gratis, karena kehilangan 1 rupiah tidak akan membuat sisa pulsa Anda berubah signifikan. Sial, ternyata yang dimaksud “sepuasnya” di sini adalah 40 menit. Karena tiba-tiba pada menit ke 40, hubungan terputus. Ironis memang.
00.11
Aku angkat telepon dari temanku tadi. Sambil menonton tv dengan volume 0% aku mendengarkan ia bicara. Diawali dengan salam kemudian disambung dengan pertanyaan, “Agi ngapa kowe pin?” dan aku jawab ringan, “Biasa ndeleng tipi”. Lalu dilanjutkan dengan ritual standar yaitu basa-basi, yang ternyata memakan waktu kurang lebih 20 menit.
00. 32
“Pin, tapi kowe aja ngomong sapa-sapa ya?”. Lagi-lagi aku mencoba menjadi sahabat yang baik. Mau tidak mau aku harus berkata, “IYA!”. Akhirnya dia mulai mau berbicara sedikit demi sedikit. Mulailah dia “membuka rahasia”-nya. Aku tersentak saat dia mengaku bahwa sebenarnya ia telah “menyukai” wanita, sebut saja Ani (bukan nama sebenarnya), yang disukai temanku yang lain, sebut saja Aldo (juga bukan nama sebenarnya). Mereka bertiga dan aku saling mengenal satu sama lain. Bahkan bisa dikatakan akrab. Sangat akrab.
Kata “menyukai” di atas bisa diganti dengan kata “jatuh cinta”. Langsung saja aku berkata, “Hah!!! Serius kamu?”. Betapa tidak. Aku sangat tidak menyangka bahwa hal ini akan terjadi. Yang aku tahu, Ani ini sempat menjalin “hubungan khusus” yang kebanyakan orang menyebutnya “pacaran” dengan Aldo. Aku pikir akan sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Namun ternyata aku salah. Karena setahuku juga Ani dan Aldo telah lama saling “menyukai” sejak kelas satu dulu. Yah, kandas di tengah jalan ternyata.
Dia menjelaskan secara panjang lebar bagaimana semua ini bisa terjadi. Berawal dari ketidaksengajaan katanya. Dimulai dari seringnya mereka ngobrol lewat chatting dan berkembang menjadi obrolan via telepon. Temanku pakai laptop dan si Ani pakai handphone-nya yang support gprs. Maksudku Ani chatting dengan menggunakan handphone-nya. Karena rasa nyaman dan “rasa cocok” yang dirasakan temanku dan Ani ini, akhirnya timbul perasaan ingin memiliki. “Kami menyempatkan untuk ngobrol setiap hari Minggu pagi”, kata temanku. Yah, aku bingung saat kalimat ini muncul. “Sudah cukup serius ternyata”, pikirku. Seketika aku bingung harus berkata apalagi. “Aku harus memihak siapa? Ketiga orang tadi adalah temanku. Sahabatku sendiri”, kataku dalam hati. Ah entahlah. Aku bingung.
01. 43
“Ya sudah ya pin. Terima kasih banyak mau mendengarkan”, kalimatnya menutup obrolan kami malam itu. Aku termenung sesaat setelah aku menekan tombol NO di handphone-ku. Pikiranku berkecamuk. Aku merasa ini semua hanya terjadi di film-film saja. Sesaat aku berpikir apakah ini nyata atau tidak. Dan ternyata memang nyata. Ini semua terjadi pada teman-temanku dan aku ada di antara mereka. Yang lebih penting lagi : INI NYATA, BUKAN MIMPI.
Setelah temanku berpamitan tadi, pikiranku pun melayang jauh. Tanpa bisa aku control, pikiranku bekerja dengan keras dan akhirnya berhenti pada sosok teman-temanku yang lain. Aku jadi ingat bahwa ada “kisah” lain yang sejenis dan mirip sekali dengan apa yang dibicarakan temanku via telepon tadi. Yah, lagi-lagi “cinta segitiga”. Kali ini aku pun mengenal tiga sosok tersebut. Dua laki-laki dan satu perempuan. Mereka adalah temanku satu kampus denganku. Bahkan satu program studi. Kisah mereka begitu mirip. Maksudku kisah temanku yang satu program studi ini dengan kisah teman SMA-ku tadi. Hanya latar dan waktu saja yang berbeda.

Aku berpikir kalau dua kisah ini bisa terjadi pada orang-orang di sekelilingku, sangat mungkin hal ini akan terjadi padaku. Atau sedang terjadi padaku lebih tepatnya. Apakah kisah “cinta segitiga” seperti ini memang wajar dan bisa terjadi pada siapa saja? Sepertinya iya. Perasaan dengan mudahnya membawa hati kita ke suatu bentuk “rasa suka” kepada lawan jenis. Dan tidak pilih-pilih ternyata. Bersifat random atau acak dan sama sekali tidak bisa dikontrol. Kalau perasaan ini sudah menemukan “mangsa”-nya, ya sudah. Kita, sang pemilik perasaan ini yang repot. “Uring-uringan” setiap hari. Huh, persis yang aku alami beberapa tahun silam. Sungguh menyakitkan. Sangat menyakitkan.
Tanpa kita sadari, ternyata perasaan ini seringkali membuat kita jatuh sakit. Maksudku jiwa atau mental kita yang sakit. Kita jadi tidak bisa berpikir logis dan rasional. Bahkan untuk menghitung 11 kali 12 saja butuh waktu lebih dari 3 menit. Banyak orang berkata, “Aku jadi ga enak makan. Setiap hari kepikiran dia terus. Ga bisa belajar juga. Bagaimana ini?”. Yah aku yakin, Anda juga pernah mendengar kalimat sejenis ini dari orang-orang di sekitar Anda. Atau bahkan mungkin pernah keluar dari mulut Anda sendiri. Karena terus terang, aku pun pernah berkata seperti itu. Walaupun hanya dalam hati.
Ah, aku harus lebih berhati-hati sekarang. Jangan sampai aku mengalami “mimipi buruk” itu lagi. Jangan sampai aku “jatuh di lubang yang sama”. Aku juga harus lebih bisa membawa hati. “Hati itu geraknya tidak terasa tetapi dampaknya begitu nyata”. Kalimat itu sering dilontarkan salah satu temanku. Terlihat begitu singkat dan terkesan sepele, tetapi memang benar adanya. Hati manusia adalah sumber penderitaan jika tidak bisa dijaga dan dikelola dengan baik. Butuh kedewasaan untuk menjaga hati ini. Oleh karena itu marilah kita jaga hati kita dengan baik.
Entah kenapa aku sangat yakin Anda yang membaca ini juga pernah mengalami hal seperti yang aku ceritakan di atas. Dan aku juga sangat yakin masing-masing dari Anda memiliki cara tersendiri dalam menyikapinya. Kadang berhasil dan seringkali pula gagal. Namun jika kita pikirkan lebih jauh lagi, kita akan mendapatkan satu kesimpulan, bahwa “semuanya” tadi adalah serangkaian kisah hidup yang harus kita jalani. Tidak bisa tidak, karena merupakan bagian dari proses hidup kita yang ikut membentuk kepribadian dan karakter kita. Mungkin Anda menyebutnya “proses pendewasaan” diri.
Huh, membaca kembali tulisanku ini, ternyata banyak bicara juga aku ini. Namun tidak apalah. Maafkan aku kalau lagi-lagi dianggap berlebihan. Semoga bermanfaat bagi Anda. Mari kita tetap berbagi pengalaman. Apa saja. Nuwun.







Posts

jatuh d lubang yang sama?hhmm,,,,
” admin :
yee …
gapapa kan? hanya sekedar istilah kok.
emang kenapa? ga suka?! [kokmarahsih?]
Siiip…. flashback masa2 SMA kie… keren rangkaian gaya bahasamu Pin…
” admin :
iya nih jar. terima kasih atas pujiannya. aja njaluk apa-apa lho?
hmm..cerita yg menarik,walopun tak pernah kurasakan..dan jgn sampai..
” admin :
menarik? yup, semoga kita tidak mengalaminya. amiin.
kayaknya aku kenal kisah itu bro, hahaha
” admin :
wah, benarkah? kisah siapa coba?