Lets “Start” at 25th

Suatu malam aku melihat kejadian yang aneh, tetapi indah, yang membuatku berpikir akan sesuatu. Aku terpana beberapa saat ketika melihatnya. Aku menyaksikan “tontonan kehidupan” yang jarang sekali aku temui. Aku melihat seorang istri yang tidur di ketiak suaminya. Sebelumnya aku melihat sang suami tidur sendirian dengan lelapnya. Sepertinya sangat lelah karena dengkurannya yang keras sampai juga ke telingaku. Kemudian sang istri mendekat dan melekatkan kepalanya ke lengan kanan sang suami yang kebetulan terlentang dan tidur di atasnya. Entah tidur atau tidak, tetapi sang istri terlihat sangat menikmati keadaan dan “posisi” itu. Terlihat pula wajah ketenangan dan bahagia di wajah sang istri.
Aku berpikir sesaat, “Oh, betapa bahagianya mereka”. Sepertinya walaupun hidup dengan sedikit uang dan serba sederhana akan terasa sangat indah kalau setiap malam bisa mendapatkan “posisi” berduaan tersebut. Aku yakin dalam keadaan terjaga, sang istri tidak bisa mendapatkan keadaan seperti di atas. Tidur di atas lengan suaminya. Dengan suami yang bekerja seharian dan kesibukan yang menguras hampir seluruh waktunya, sang istri kurang mendapatkan apa yang membuatnya sedikit bahagia tadi. Hanya dalam keadaan tertidur, sang istri bisa mendapatkan suaminya dan melekatkan kepalanya di lengan sang suami, setiap hari. Yah, setiap hari. Saat suaminya tidur dalam lelah. Mungkin.
Entah kenapa aku jadi ngelantur seperti ini. Mungkin Anda langsung berkomentar, “Itu kan kelihatannya aja! Kamu ga tahu bertengkarnya mereka kan?”. Yah, mungkin itu benar. Aku mungkin terlalu dini untuk memikirkan semua itu. Bahkan mungkin tidak seharusnya aku menyaksikan “kejadian” tadi. Apakah senikmat itu sebuah pernikahan, sehingga banyak sekali orang-orang yang berlomba-lomba untuk cepat menikah. Dengan melihat realita yang ada, aku jadi sanksi. Banyak sekali pasangan-pasangan yang kandas di ujung perceraian. Mereka dengan seenaknya berkata, “Ternyata kami berdua tidak cocok”. Huh, menyebalkan!.
Oleh karena itu, aku tidak ingin seperti mereka. Maksudku mereka yang berujung di pengadilan dan bercerai. Aku tidak ingin cepat-cepat menikah. Aku yakin jodohku masih “disimpan” oleh Allah, dan suatu saat akan muncul saat aku siap untuk menikahinya. Bahkan mungkin tidak akan terduga sama sekali. Banyak sekali aku melihat fenomena yang ada di sekelilingku. Apalagi di desaku, dan lebih luas lagi di kabupatenku. Pasangan-pasangan yang sebenarnya belum mampu secara finansial, tetapi tetap memaksakan untuk melangsungkan pernikahan. Akhirnya, hidup mereka “berantakan”, bahkan hanya menambah angka keluarga miskin di Indonesia ini. Dan menambah panjang daftar listing permasalan bangsa ini. Aku tidak ingin hidupku seperti itu. Benar-benar tidak ingin.

indahnya menikah setelah 25 tahun
Makanya, bagi Anda yang membaca ini, dukunglah usaha : MENIKAH USIA 25 TAHUN/LEBIH. Dan gunakanlah semboyan “jangan menikah pada usia dini”. Itu akan efektif mengentaskan kemiskinan di negeri ini. Bahkan mungkin akan lebih efektif daripada membagi-bagikan BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang dilakukan pemerintah kita saat ini. Bagi Anda yang tinggal di daerah pedesaan, cegahlah pasangan-pasangan yang akan menikah pada usia muda. Beri alasan apa pun. Yang penting masuk akal. Jangan sampai mereka melakukan kesalahan nenek moyang kita. Dan ironisnya telah dilakukan turun temurun. Yang mungkin juga dilakukan oleh kedua orang tua kita. Namun, berhentilah mencegahnya saat Anda merasa bahwa pasangan tersebut memang sudah “mapan” dan layak untuk menikah.
Beberapa tips untuk menjalani “menikah usia 25 tahun/lebih” bagi Anda yang berumur di bawah 25 tahun dan belum menikah :
* Rajinlah membaca
Ini akan menyita waktu Anda dan mengikis keinginan Anda untuk menikah dini.
* Kuliahlah atau bekerjalah
Saat Anda disibukkan oleh tugas kuliah atau kantor, Anda tidak akan punya waktu untuk memikirkan pernikahan. Percayalah.
* Milikilah “ke-gila-an” terhadap sesuatu
Saat Anda fokus dalam melakukan hobi Anda dan sangat intens untuk mengembangkannya, sudah cukup untuk mengatakan bahwa “ke-gila-an” Anda bersifat positif dan kata “menikah” akan lari menjauhi Anda.
* Sering-seringlah ke internet
Jika Anda punya kegiatan di internet, waktu 24 jam akan terasa tidak cukup karena informasi dunia ada di depan komputer Anda dan untuk mengetahui informasi dunia tersebut tidak cukup hanya dengan satu hari.
Apakah Anda tidak melihat? Betapa manusia telah sangat banyak dan memadati bumi ini. Mereka beranak pinak di usia muda. Bumi ini tidaklah bertambah luas. Bahkan daratan makin berkurang dengan adanya pemanasan global sehingga kutub-kutub mencair. Anda merasa bumi ini semakin sesak bukan? Aku juga merasakannya kok. Bumi semakin panas dan “sesak”. Manusia dimana-mana. Aku takut lama-lama nanti ada yang menjual oksigen dalam kemasan kaleng. Menyedihkan.
Ah, sepertinya aku sudah keterlaluan “ngelantur”nya. Mungkin aku terlalu berlebihan memikirkan semua ini. Mari kita tetap berbagi pengalaman. Apa saja. Nuwun.







Posts

Membaca tulisan saudara ipin, saya tergerak untuk memberi sedikit masukan. Yang saya tangkap dari tulisan tersebut adalah salah satu penyebab tingginya angka kemiskinan di Indonesia adalah karena banyaknya “pasangan-pasangan yang sebenarnya belum siap secara financial tapi tetap memaksakan untuk melangsungkan pernikahan” (saya kutip langsung). Saya setuju dengan statement ini, karena kalau belum siap sebaiknya jangan menikah dahulu. Namun, saya kurang setuju dengan solusi yang ditawarkan yaitu MENIKAH USIA 25 TAHUN/LEBIH. Mengapa?
Bagi saya kesiapan seseorang tidaklah diukur hanya dari umur seseorang ataupun hanya dari segi finansial. Ketika dia baru berumur 22 tahun, libidonya (maaf) sudah tinggi, sukar mengarahkan hawa nafsu, kenapa tidak menikah saja? Lha kalo belum bekerja???? Di mata saya, kesiapan seseorang untuk menikah tiak diukur dari segi finansial semata, namun diukur dari tanggung jawab dan komitmen. Ketika seseorang sudah memiliki tanggung jawab dan komitmen, maka dia sudah siap untuk melakukan apapun.
Ambil contoh saudara sepupu saya…
Februari kemaren dia lulus dari Teknik Kimia UGM, april langsung menikah (lamaran sekalian ijab qobul). Awalnya banyak yang menyangsikan (bahkan kakak kandungnya sendiri) karena dia belum bekerja. Alhamdulillah mei dia diterima kerja di perusahaan di jakarta, istrinya diterima di S2 Harvard dan diterima di ILO. Disini saya tidak membahas keberuntungan mereka semata, tapi upaya mereka dalam berkomitmen dan bertanggung jawab untuk bisa membuktikan ke orang2 dan ke diri mereka sendiri bahwa mereka telah siap untuk menikah (meski dari sisi finansial katakanlah belum siap). Bahkan, mungkin ini rahmat dari Tuhan karena menikah. (bukankah orang yang menikah dilapangkan rizkinya oleh Allah?)
Apalagi kalo dah siap menikah namun tidak segera menikah bukannya lebih berbahaya? Tanpa perlu saya sebutkan, kita semua pasti sudah tahu bahayanya. Jadi, janganlah kita men-judge bahwa orang yang menikah di atas umur 25 tahun itu lebih baik daripada yang menikah dini. Marilah kita dukung “orang yang menikah karena telah siap itu lebih baik daripada orang yang menikah karena dipaksakan siap” Dan janganlah mencegah orang untuk menikah, seperti salah satu pepatah dalam Islam ”permudahlah orang yang hendak menikah dan persulitlah orang yang hendak bercerai”.
Kemapanan dan kelayakan seseorang untuk menikah (ataupun untuk lainnya) tidaklah bisa diukur oleh orang lain tapi hanya bisa oleh dirinya sendiri. Saya masih ingat Ipin pernah menyuruh saya untuk segera menikah, saya jadi pengen bertanya apakah ipin merasa saya sudah siap untuk menikah? Mengenai orang yang pengen menikah tetapi belum siap, banyak cara untuk mengarahkan (bukan dihilangkan tetapi diarahkan) keinginan itu, salah satunya mungkin dengan puasa, cara lainnya mungkin dengan mencoba bertanggung jawab dan berkomitmen dalam segala hal sehingga ketika menikah bisa berkomitmen dan bertanggung jawab atas pernikahannya. Ada pendapat lain?
Mengenai tips yang diberikan saudara ipin:
Rajinlah membaca.
Teman saya ada yang suka membaca buku, setelah membaca AAC tiba2 dia jadi pengen menikah.
Bekerjalah.
Saya 3 bulan terakhir ini benar-benar isibukkan oleh tugas kantor, namun jangankan untuk berhenti memikirkan pekerjaan, berhenti memikirkan komik saja saya tidak bisa.
Milikilah kegilaan terhadap sesuatu.
Saya dari dulu tergila-gila pada komik dan akhir-akhir ini saya jadi memikirkan kalo sudah menikah gimana saya harus mengatur antara belanja istri dan kegilaan saya. Jadi, menikah, nafsu, keinginan, bukanlah sesuatu yang harus kita hindari/hilangkan, tapi harus kita arahkan.
” admin :
subhanallah. terimakasih banyak atas argumennya, dhana. aku hanya menuliskan apa yg aku pikirkan. semoga banyak yg membaca ini. sukses bro!
hahaha….berbeda pendapat itu biasa…tapi sepertinya beliau ini menulis dengan melibatkan emosinya…ada yang benar, ada yang perlu diperbaiki..that’s good anyway…
” admin :
yah, njenengan benar mas. berbeda pendapat memang sangat biasa. bahkan suatu berkah. yup, aku masih harus banyak belajar mas. sukses selalu untukmu. thanks.
Mas ipin,, Q pernah bilang kalo dah setuju dg mas mengenai hal ini. Tapi untuk statment “Menikahlah d usia 25th/lebih” Q msh kontra. Q setuju pada komen mas dana,, itulah yg Q mksud slama ini.
Oke,mungkin untuk ajakan tdk menikah dini Q setuju, tp mengapa harus d mulai dr umur 25th/lebih. Pernikahan adl suatu peristiwa yg d awali dg perjanjian suci, tdk bisa d ukur dg umur. Kdewasaan dan kemapanan seseorang untk membina rumah tangga blum tentu datang d saat umur 25th/lebih. Jika masalahny adl financial, barokah Allah ada dlm pernikahn untk umatNy yg d rahmati. Jika d cmpuradukkan dg masalah negri, hal itu msh sempit,, tdk menikah dini bukanlah solusi yg signifikan. Bs kn jikalaw ternyta pasangan muda mampu mendobrak perekonomian negri? Menjadi pembisnis sukse d usia muda..
Namun Q msh kurang pas dg mas dana mengenai seseorang yg nafsu atw syahwatny tlah berlebih. Jika dia msh blm mempunyai kemantapan y jgn buru buru,, tidak smudah itu membuang nafsu dg menikah (mbok!), msh bs d usahakan dg tips tips,, tp g terlalu setuju dg tipsny mas ipin. Kontradiksiny ada d komen mas dana..Puasa insyaAllah akan lebih menjaga qt,,malah bisa lbih mendekatkn qt padaNya,,wallahu a’lam bisshowab.
” admin:
silakan tidak setuju, tapi coba bayangkan kalau saja sebagian besar pemuda di negeri ini tidak menjadikan masalah pernikahan sebagai prioritas utama, aku yakin bangsa ini akan maju dengan pesat. 25 adalah angka minimal di sini.
yang pasti, saat seseorang berumur 25 tahun, sudah dianggap dewasa dan mapan oleh kebanyakan orang, kalau ternyata ada yang di bawah 25 tahun atau bahkan di bawah 20 tahun, aku yakin itu hanya kasus khusus. percayalah.
mari kita saling mengingatkan dan mendoakan. apa saja. nuwun.