Home > Uncategorized > Gerakan Masif Menyelamatkan Bumi …

Gerakan Masif Menyelamatkan Bumi …

April 22nd, 2008

KUALITAS lingkungan hidup tempat manusia berpijak semakin hari kian mengalami degradasi. Sebagai sumber energi dan penopang kehidupan seluruh makhluk, bumi bukan lagi sumber daya yang tidak terbatas. Kapasitas dan daya dukungnya terus berkurang. Fenomena itu menjadi situasi yang tidak terhindarkan saat dunia memperingati Hari Bumi yang ke-38, hari ini. Ironisnya, upaya manusia untuk mengatasi krisis lingkungan masih jauh dari mencukupi, masih jauh dari memuaskan. Memang, kesadaran akan bahaya penurunan kualitas lingkungan sudah timbul. Kampanye tentang perubahan iklim semakin marak. Dorongan untuk melakukan konservasi sumber daya lingkungan pun semakin menguat.

Namun, isu yang telah menjadi sentral pada tataran global itu hanya berdampak periferal dalam konteks implementasi. Tidak mengherankan bila perundingan-perundingan internasional terkait dengan pengurangan emisi zat buangan pun tidak pernah mencapai hasil yang memuaskan.

Isu perubahan iklim tidak membuat negara-negara besar dan adidaya melepaskan ego besar. Mereka tetap bersikukuh mempertahankan target penurunan zat emisi dalam level yang aman bagi kepentingan nasional, namun tetap membahayakan bagi kelestarian lingkungan.

Dalam konteks Indonesia, situasinya tidak lebih baik. Pencemaran dan perusakan terjadi setiap saat di tanah, udara, dan air. Hutan semakin hancur, sungai semakin dangkal, dan laut semakin tercemar.

Bumi semakin renta. Tetapi, beban bumi untuk memenuhi kebutuhan hidup umat manusia justru semakin bertambah berat. Itu akibat manusia semakin tidak peduli dengan kerusakan yang ditimbulkan atas nama pertumbuhan ekonomi, kekuasaan, dan keserakahan.

Yang dibutuhkan, sejatinya, adalah sebuah kesadaran dan kearifan ekologis. Kesadaran bahwa bumi menuntut manusia untuk semakin menahan diri dari keserakahan dan kebatilan. Kearifan bahwa demi kelestarian bumi dan keberlangsungan umat manusia sendiri, segala perusakan serta penghancuran lingkungan kini sudah melampaui batas.

Sudah saatnya manusia berziarah kepada hati nurani dan akal sehat. Gerakan masif penyelamatan bumi tidak boleh berhenti sebatas kata, kampanye, atau propaganda dan pidato di forum nasional ataupun internasional. Ia harus menjadi spirit penggerak dalam menjalankan agenda-agenda konservasi dan rehabilitasi lingkungan.

Bangsa ini sudah semestinya belajar dari serangkaian bencana yang menerpa negeri ini silih berganti. Tsunami, gempa bumi, longsor, banjir, naiknya permukaan air laut, turunnya permukaan tanah, dan seribu satu gejala alam yang selalu membawa penderitaan.

Seluruh komponen bangsa dari warga masyarakat biasa, pengusaha, kaum cerdik pandai, hingga pejabat negara harus bersatu dalam kata, bersama dalam sikap dan tindakan untuk menyelamatkan lingkungan.

Semua tahu ancaman besar sedang melanda jagat ini, tapi tidak sebanding dengan munculnya kesadaran bersama untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran total. Ancaman kepunahan ada di depan mata, tapi itu tidak membuat umat manusia getir lalu terpanggil merawat alam. Manusia telah tenggelam dalam arogansinya.

Tidak boleh lagi ada tabiat tidak peduli dalam melestarikan dan mencintai lingkungan. Kita harus memulainya dari diri sendiri, mengubah perilaku merusak alam. Bila tidak, kehancuran bersama segera menyongsong.

from : mediaindonesia.com

Footer: dokumentasikanlah hidup Anda selalu.
  • Share/Bookmark

Uncategorized

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.