Kalbar Targetkan Bebas Buta Aksara Pada 2009 …
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) menganggarkan dana sebesar Rp3 miliar untuk memberantas buta aksara. Ditargetkan, pada 2009 provinsi itu bebas dari penyandang buta aksara. Kepala Dinas Pendidikan Kalbar Ngatman mengatakan dana sebesar Rp3 miliar itu antara lain akan digunakan untuk membayar honor para pengajar, penyediaan buku tulis dan buku paket, serta biaya operasional lainnya. Anggaran yang dialokasikan untuk program pemberantasan buta aksara ini setara dengan anggaran pembangunan dan perbaikan sekolah rusak.
“Dana untuk pemberantasan buta aksara memang harus berimbang dengan dana untuk rehabilitasi sekolah. Sebab, kedua bidang ini memiliki keterkaitan,” kata Ngatman, Kamis (10/4).
Ia mengakui pemberantasan buta aksara belum menjadi program prioritas bagi sebagian besar pemerintah kabupaten/kota di Kalbar. Hal ini dapat dilihat dari minimnya dana yang mereka anggarkan, yakni rata-rata di bawah Rp1 miliar per tahun. Padahal, pemerintah melalui instruksi presiden tahun 2006 telah menugaskan setiap pemerintah daerah melaksanakan program percepatan wajib belajar (wajar) sembilan tahun dan pemberantasan buta aksara di wilayah masing-masing.
Meski demikian Ngatman optimistis target untuk menjadikan Kalbar sebagai daerah bebas buta aksara pada 2009 tercapai. “Mudahan-mudahan dengan rampungnya pembangunan sejumlah gedung sekolah dasar dan sekolah lanjutan tingkat pertama akan mendongkrak angka melek huruf,” ujarnya.
Ngatman menambahkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan penyandang buta aksara usia produktif di Kalbar saat ini mencapai 300 ribu orang lebih. Namun, setelah ditelusuri ternyata hanya 124 ribu orang atau 3,1 dari jumlah penduduk Kalbar sekitar 4 juta jiwa.
Oleh karena itu, menurut kesimpulannya, proses pemberantasan buta aksara di provinsi itu dapat lebih dipercepat, mengingat berkurangnya angka populasi sasaran program. Apalagi, katanya, program pemberantasan buta huruf juga melibatkan berbagai komponen masyarakat, termasuk mahasiswa dan kalangan perguruan tinggi.
“Sasaran program ialah kalangan usia produktif (15 sampai 44 tahun). Sebab, yang di bawah usia produktif akan teratasi dengan program wajar sembilan tahun. Sedangkan yang di atas usia produktif akan hilang dengan sendirinya (seleksi alam),” jelas Ngatman.
from : mediaindonesia.com
Uncategorized







Posts

Komentar Yang Ada