APA KABARMU, DIRIKU? …
Perjalanan hidup amatlah panjang. Bahkan sangat panjang. Ia membutuhkan jeda sesaat untuk memastikan, apakah ada yang harus diperbaiki, diluruskan, atau diubah total, agar seseorang tidak tertipu dan tersesat jalan, sehingga akan terhambat keselamatannya untuk sampai di tujuan, nun jauh di akhirat sana.
Jeda waktu tersebut tidak lain adalah perenungan diri, atau introspeksi. Ini sangat penting. Karena itu, Rasulullah SAW mengingatkan, “Orang yang cerdas itu adalah orang yang menghitung dirinya dan berbuat untuk sesuatu yang ada setelah mati”. (HR. Tarmidzi)
Wahai diriku, rasanya sudah lama aku tidak menyapamu, menyetop langkahmu sejenak untuk sekedar bertanya dan mengingatkan batas-batas perjalanan hidupmu. Bukannya aku malu tidak disebut cerdas oleh Nabi, tapi karena ini memang penting dan perlu untuk kulakukan untukmu. Maka saat ini, aku ingin bertanya banyak hal padamu, karena perasaanku yang mulai terusik dengan hal-hal yang tidak perlu kamu lakukan untuk saat ini dan seterusnya.
Tentang Hubunganmu Dengan Allah
Aku sadar, bahwa tidak ada yang paling penting dalam hidup ii kecuali menjaga hubungan baik dengan Allah SWT, dalam keadaan apapun. Karena Dia-lah yang telah menciptakan aku dan juga semua manusia. Kepada-Nyalah aku akan kembali. Dan bagi-Nyalah aku mengabdi, beramal dan beribadah. Tidak untuk yang lain.
Aku pun tahu kalau engkau, wahai diriku, juga menyadari itu. Karena itu, dulu engkau begitu dekat dengan-Nya. Paling tidak aku bandingkan dengan keadaanmu sekarang. Waktu itu, apa yang kau pinta rasanya selalu terkabul. Tidak ada kesulitan yang berarti dalam hidupmu. Engkau minta kepada-Nya agar diluluskan dalam ujian, kau pun lulus. Engkau memohon agar dimudahkan dalam mencari pekerjaan, pertolongan-Nya pun datang demikian cepat. Engkau berdoa agar dimudahkan dalam mencari jodoh, itupun kau dapatkan. Engkau mengeluhkan penyakitmu kepada-Nya, tak lama kemudian kau pun kembali sehat. Pendeknya, apa yang kau pinta selalu ada jawabannya.
Tetapi kini, ketika kau merasa sedang terdesak dan benar-benar membutuhkan pertolongan-Nya, kau terlihat malu menghadap-Nya. Enggan meminta kepada-Nya. Kau bahkan tampak tidak yakin permintaanmu akan terkabul. Bukan lantaran engkau berburuk sangka pada-Nya. Sama sekali bukan. Karena aku tahu dan kau pun meyakini itu, bahwa Allah senantiasa mendengar doa hamba-Nya, siapapun dia. Lagipula enkau pun sangat hafal firman-Nya yang diriwayatkan oleh kekasih-Nya, Muhammad SAW, “ Aku berdasarkan prasangka hamba-Ku.” Artinya, kalau kita yakin Allah akan mengabulkan doa-doamu, maka seperti itulah yang Dia berikan.
Aku ingin menjelaskan kepadamu, meskipun sesungguhnya kamu sudah tahu jawabannya. Rasa malu hadir, tidak lain karena kau mencoba tahu diri bahwa keadaanmu saat ini berbeda bahwa keadaanmu saat ini berbeda dengan yang dulu. Kau ingat, dulu kau sering beribadah, tetapi sekarang sering melupakan-Nya. Kau ingin Allah mengabulkan keinginanmu, tetapi kau jauh dari-Nya.
Wahai diriku, engkau memang tidak sampai meninggalkan shalat. Namun shalat yang kau kerjakan seperti tidak memberikan efek dan makna bagimu. Itu karena engkau melakukannya tanpa kekhusyukan. Terlalu banyak masalah yang menggelayut di pikiranmu. Ada cicilan rumah yang belum terbayar. Ada urusan pekerjaan yang menumpuk. Ada kisruh rumah tangga. Ada ini dan ada itu. Belum lagi, engkau sekarang memang jarang ke masjid. Terkadang ketika adzan shubuh berkumandang, engkau justru semakin merapatkan selimutmu. Padahal masjid hanya sepuluh langkah dari rumahmu. Engkau sekarang bahkan terbiasa dengan menunda-nunda shalat, yang dulu sangat takut kau lakukan.
Engkau bukannya tidak tahu, kalau semakin rajin dan khusyuk shalatmu maka masalah-masalah hidupmu akan selesai dengan sendirinya. Namun kenapa masalah-masalah itu justru mengalahkan kualitas dan kuantitas ibadahmu? Sering, dalam shalat berjamaah terkadang aku menertawaimu. Sebabnya, shalat yang kau kerjakan, rakaat demi rakaatnya berlalu tanpa terasa. Bahkan kadang kala imam mengucapkan salam tanda shalat telah berakhir, kau tiba-tiba terhenyak, kembali dari petualangan pikiranmu dan melihat kenyataan bahwa kau pun telah selesai melakukan shalat.
Puasa di bulan Ramadhan pun memang tetap kau jalankan. Namun sayang, kadang yang kau puasakan hanya perutmu saja. Sementara, mata, telinga, lisan, dan hatimu tak mampu menahan godaan. Shalat tarawih yang biasa tidak pernah kau tinggalkan, rasanya tidak sampai sepertiganya yang kau jalankan. Begitu juga dengan tilawah, kau bahkan tidak bisa mengkhatamkan bacaan, meski hanya sekali.
Ibadah-ibadahmu yang lain banyak yang tidak maksimal. Kau mengerjakannya hanya karena ingin melepaskan kewajiban. Maka wajar jika amal ibadahmu tidak mendekatkanmu kepada Allah SWT. Ketika Allah mengujimu dengan satu musibah, engkau tidak bisa bersabar. Di saat engkau berusaha dan berikhtiar, selalu tidak disertai dengan sikap tawakkal yang sempurna. Jika kau berdiri menghadap-Nya, tidak ada adab kesopanan yang kau sertakan. Kau memang terlihat jauh dari Allah SWT, wahai diriku, dari sisi apa saja.
Aku memang sudah lama tidak mempedulikan keadaan dirimu. Karena itu tidak heran kalau dirimu tidak seperti dulu lagi. Hari ini aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau menjadi diri yang puas dengan prestasi amalmu yang tidak pernah meningkat ini? Mudah-mudahan jawabannya adalah “tidak”. Sebab aku sangat berharap kau bisa berubah menjadi lebih baik. Minimal seperti dulu, di mana engkau merasakan dekatnya pertolongan Allah atas dirimu.
Tentang Hubunganmu Dengan Al-Quran
Akhir-akhir ini , aku juga melihatmu sangat jauh dari Al-Quran. Padahal kau pun tahu Al-Quran itu adalah sarana berkomunikasi dengan Allah yang paling mudah dan efektif. Tidak perlu modal dan tenaga. Dulu, kemana-mana di saku bajumu atau di tasmu selalu terselip mushaf ukuran kecil. Itu karena engkau memang rajin membacanya. Atau kalau pun engkau tidak sempat membacanya, minimal kau jadikan ia sebagai pengingatmu ketika terlupa dan hampir terjebak dalam doda.
Kini, engkau telah terbiasa pergi tanpa mushaf di sisimu. Sebab posisinya di hatimu telah diganti oleh telepon selulermu. Jika kakimu melangkah keluar tanpa membawa mushaf, tak ada lagi kata penyesalan. Namun jika telepon selulermu yang tertinggal, kau akan panik tiada terkira. Engkau kini benar-benar mementingkan berkomunikasi dengan manusia, daripada kebutuhanmu berkomunikasi dengan Rabb-mu sendiri.
Biasanya di bulan Ramadhan engkau mampu menamatkan tilawah Quranmu lebih dari sekali. Namun di Ramadha yang lalu, jangankan sekali, setengah kali pun tidak. Aku bingung, apakah engkau yang bosan dengan Al-Quran atau Al-Quran yang justru bosan denganmu. Kalau engkau yang bosan, mudah-mudahan dalam waktu dekat engkau akan segera mengakrabinya kembali. Namun kalau Al-Quran yang bosan, aku tidak tahu, kemana lagi engkau mencari pedoman hidup. Sekarang saja engkau sedemikian sesat, apalagi jika Al-Quran menjauh darimu. Celakalah engkau, wahai diriku.
Ketika kau pun harus tampil membaca Al-Quran, itupun karena kau ingin dikatakan sebagai orang yang terpelajar. Atau sebagai qari’ yang pandai. Atau karena ingin dikedepankan dalam majelis, diminta untuk mengajar, dan dimintai fatwa tentang ini dan itu. Terkadang pula aku merasakan, bahwa engkau melakukan itu agar Al-Quran dapat menjadi sumber penghasilanmu, atau sekadar tambahan pendapatanmu dari pekerjaan tetapmu.
Sekiranya perasaan itu benar adanya, maka bersiaplah untuk dijauhkan dari surge, wahai diriku. Karena Rasulullah pernah menegaskan, “Barang siapa yang mempelejari suatu ilmu yang semestinya untuk mencari ridho Allah, tetapi dia tidak mencarinya selain untuk memperoleh setumpuk harta dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wanginya surge pada hari Kiamat. “ (HR. Abu Daud)
Wahai diriku, camkan pula hadits Rasulullah SAW tentang orang-orang yang pertama kali akan diputuskan hukumannya pada hari kiamat. Salah seorang di antaranya adalah orang yang belajar agama dan Al-Quran.
Dalam haditsnya, Rasulullah bersabda, “Lalu didatangkan seorang laki-laki yang belajar ilmu agama dan mengajarkannya, serta pandai membaca Al-Quran. Kemudian ditanyakan kepadanya tentang nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya, dan dia pun mengakuinya. Maka Allah bertanya, “Apa yang kamu lakukan dengan itu semua?” Dia berkata, “Aku belajar ilmu agama dan mengajarkannya. Dan aku juga sering membaca Al-Quran karena Engkau.” Allah berkata, “ Kamu bohong! Kamu belajar ilmu agama agar dikatakan sebagai orang alim. Kamu pandai membaca Al-Quran juga agar dikatakan sebagai qari’, dan sungguh kamu telah dikatakan demikian.” Lalu Allah memerintahkan agar itu diseret dengan muka menghadap ke bawah hingga dilemparkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim dan An Nasa’i)
Hari ini, aku ingin mendengar darimu jawaban yang jujur, apakah engkau melakukan itu karena menginginkan dunia atau karena ingin mencari ridha Allah, seperti yang biasa kau ucapkan? Rasanya, engkau masih perlu banyak belajar tentang ilmu ikhlas.
Wahai diriku, marilah kita berdoa agar Allah menyatukan hati kita dengan kalam-Nya yang terhimpun di dalam Al-Quran itu. “Ya Allah, aku meminta kepada-Mu dengan semua nama yang Engkau miliki, yang Engkau namakan diri-Mu dengan-Nya, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk ciptaan-Mu, atau yang Engkau khususkan dalam rahasia ilmu di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Quran ini sebagai penyejuk hatiku, penghilang rasa sedihku, dan penghapus duka di jiwaku.”
Tentang Hubunganmu Dengan Sesama Manusia
Wahai diriku, Rasulullah tercinta pernah bersabda kepada istrinya, Aisyah ra, “Wahai Aisyah, sesungguhnya orang yang kedudukannya paling buruk di sisi Allah di hari Kiamat, adalah orang yang ditinggalkan orang lain karena takut pada kejahatannya.” (HR. Bukhari)
Engkau mungkin masih ingat hadits ini. Karena aku sering mendengarmu menyampaikannya kepada orang lain, mangajarkannya kepada murid-muridmu, dan kepada siapa saja yang meminta nasihatmu tentang kewajiban menjaga hubungan baik sesama manusia.
Pertanyaanku, bagaimana dengan dirimu sendiri? Maksudku seperti apa muamalahmu selama ini dengan orang lain. Bagaimana sikapmu dengan para tetangga? Adakah engkau sudah menjenguk mereka ketika mereka sedang sakit? Sudahkan engkau membantu temanmu yang lagi kesusahan? Seperti apa pula baktimu kepada orang tua? Mereka semua adalah orang-orang yang ada di sekelilingmu, yang wajib engkau pergauli dengan baik.
Beberapa hari yang lalu, sekitar jam lima shubuh, kala engkau melangkah ke luar rumah, seorang tetanggamu sedang kesusahan. Sakit payah dan digotong ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Namun engkau hanya melihatnya sembari menutup pagar, kemudian berlalu tanpa sedikit pun ada sapa dan tanya. Sempatkah engkau berpikir seandainya engkau yang dalam kondisi itu sedang tetanggamu acuh denganmu, seperti apakah perasaanmu?
Diriku, engkau juga jarang memperhatikan temanmu yang sedang kesusahan. Ketika seorang di antara mereka hendak meminjam uang darimu karena kebutuhan yang sangat mendesak, kau katakan kepadanya sedang tidak punya uang, padahal aku tahu, waktu itu engkau masih punya simpanan uang. Engkau masih sulit sekali membantu orang lain.
Suatu hari, ketika seorang peminta sumbangan mengucap salam di depan pagar rumahmu, aku melihatmu berpura-pura tidak mendengarnya. Horden yang sedikit terbuka pun kau tutup pelan-pelan agar orang itu bisa segera berlalu. tidak hanya sampai di situ kelakuanmu, aku bahkan merasakan hatimu berbisik, “Ah, paling untuk dirinya sendiri.”
Seburuk itukah engkau sekarang, wahai diriku? Bukankah engkau hafal banyak dalil tentang keutamaan bersedekah? Apakah engkau mengira bahwa itu semua ditujukan untuk orang lain, sedangkan dirimu tidak? Jika memang engkau tidak ingin bersedekah, maka berkatalah jujur. Jangan pula menambah keburukanmu dengan prasangka yang tidak baik.
Kepada orang tuamu, engkau pun tidak memperlihatkan baktimu. Kau jarang sekali menjenguknya, apalagi meringankan kesulitannya. Bahkan untuk sekadar menanyakan keadaan lewat telepon, itupun enggan kau lakukan. Engkau banyak meminta perhatiannya untukmu, tetapi sebaliknya, kau sering melupakannya. Yang kutahu dari kebaikanmu yang tersisa, adalah doamu kepada Allah untuk mereka. Hanya itu. Padahal engkau tahu, bahwa bakti kepada orang tua akan mengundang keberkahan, serta menyibak kesulitan.
Wahai diriku, engkau seolah mampu mengatasi masalahmu sendiri, karena itu kau merasa tidak membutuhkan orang lain. Engkau abaikan mereka dalam hidupmu. Engkau hanya bergaul dengan orang, yang kamu yakin akan menguntungkan dirimu dari sisi materi. Tinggalkanlah sifat ini, karena hanya akan merugikanmu suatu hari nanti. Perbaikilah hubunganmu dengan sesama manusia. Berkasih sayanglah dengan mereka, agar Allah dan para malaikatnya pun mengasihini dirimu.
Tentang Kondisi Hatimu
Bagaimana pula dengan kondisi hatimu kini? Ini pertanyaanku selanjutnya. Aku menanyakan ini karena kita sama-sama paham, bahwa hatilah yang paling menentukan kebaikan dan keburukan seseorang. Meskipun hati ukurannya sangat kecil, tidak lebih besar dari genggaman sesuap nasi, tetapi perannya sangatlah vital, karena menjadi kontrol dan kunci keshalihan bagi anggota badan secara keseluruhan. Rasulullah SAW pun mengingatkan, “ Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging, yang apabila baik, maka baik pula seluruh tubuh itu. Dan apabila rusak, maka rusak pula seluruh tubuh itu. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hati itu, wahai diriku, sangat mudah dihinggapi sejumlah penyakit, yang disebut dengan maksiat-maksiat hati. Penyakit ini tidak tampak oleh mata dan tak ada yang dapat mengetahuinya selain Allah SWT. Penyakit ini juga tak dapat diintai oleh syetan sehingga ia bersorak riang karena kejelekannya. Dan malaikat pun tak dapat mengetahuinya sehingga dia catat keburukan-keburukannya. Yang dicatat oleh mereka hanyalah apa yang mereka saksikan dari amal perbuatan seorang hamba. Mereka sama sekali tidak mengetahui niat dan maksud seseorang, juga penyakit-penyakit yang ada di dalam hati, kecuali jika Allah menghendakinya.
Saat ini, aku mulai mengkhawatirkan hatimu. Aku takut ia telah terserang penyakit-penyakit itu. Sebab, tanda-tandanya sudah banyak aku rasakan, dan aku yakin engkau pun merasakan itu. Karenanya, aku ingin mengungkapkan beberap fakta, agar aku bisa tahu sejauh mana kebenaran dan dugaanku ini.
Kemarin, engkau baru saja tertimpa musibah. Dan aku melihatmu terduduk lesu sambil meneteskan air mata. Aku tidak menyalahkan sikapmu itu, karena wajar bagi orang yang terkena musibah untuk berduka. Yang aku sesalkan, kenapa engkau tidak sanggup mencegah lidahmu dari mengucapkan kata-kata ketus yang menyalahkan orang lain. Bahkan engkau merasa bahwa Allah tidak berpihak denganmu. Apakah ini pertanda bahwa hatimu sudah mulai bimbang atas kekuasaan dan kehendak Allah yang berlaku atas semua hamba-Nya? Apakah kamu juga telah lupa dengan ayat, “ Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu. “ (QS. An Nisa’ : 79)
Sekarang ini, aku juga melihatmu sering iri dan dengki kepada saudara atau sahabatmu karena kelebihan harta yang mereka peroleh, atau pangkat yang mereka raih, atau jabatan yang mereka capai. Lupakah engkau bahwa itu semua hanyalah kesenangan dunia yang bersifat sementara dan akan segera lenyap? Mengapa dengan keshalihan orang lain justru engkau tidak pernah berkaca? Aku tidak pernah melihatmu iri dengan orang yang banyak menghapal Al Qur’an, atau dengan orang yang rajin sholat malam, atau dengan orang tekun berpuasa sunnah. Tidak pernah.
Masih banyak kejanggalan lain yang kurasakan dihatimu. Ada rasa bangga yang berlebihan, ada kesombongan, dan riya; penyakit yang paling berbahaya itu juga ada. Terlalu panjang jika aku beberkan semua. Karena itu mari berdoa, diriku. Kita memohon kepada Allah agar hati kita dijernihkan kembali, dari segala noda dan maksiat. ”Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati. Tetapkanlah hati kami dalam agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu. ”Tentang sikapmu dengan Dunia dan Segala Kemewahanmu.
Wahai diriku, ijinkan aku bertanya pada dirimu yang terakhir kalinya : tentang kesibukanmu mencari dan mengumpulkan harta dan kemewahan dunia, yang akhir-akhir ini selalu membuatku risau. Dalam banyak hal, engkau memang selalu terlihat bersemangat. Termasuk mencari nafkah. Aku tidak mempermasalahkan yang ini, karena seorang mukmin memang selalu harus tampil semangat. Akan tetapi yang kutemukan sekarang, gaya hidup dan cara pandangmu terhadap perhiasan-perhiasan dunia sudah mulai bergeser. Engkau menganggap bahwa segala sesuatu hanya bisa diukur dan diraih dengan harta. Ketenangan hati dengan harta. Pangkat, Jabatan dan Kekuasaan juga dengan harta. Semua atas dasar harta. Itu yang kini aku khawatirkan.
Aku juga melihatmu sudah mulai dihinggapi gejala wahn; penyakit yang sangat dikhawatirkan Nabi saw menimpa kaumnya. Engkau sangat mencintai harta dan amat takut kehilangannya, sehingga membuatmu terlalu irit dan pelit. Engkau juga sudah meniru gaya hidup orang-orang yang jauh dari agama, yang dulu kau seru orang-orang untuk tidak terjebak dalam lingkaran mereka.
Pertanyaanku, apakah salah jika engkau memilih hidup sederhana meskipun engkau berpunya? Apakah engkau khawatir mitra-mitra bisnismu atau lawan-lawan politikmu akan merendahkanmu? Aku yakin tidak. Bahkan kesederhanaan itu akan melahirkan izzah dan kemapanan iman. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kesederhanaan itu bagian dari iman. Sesungguhnya kesederhanaan itu bagian dari iman.”
Indah sekali ucapan seorang seorang sahabat Amr bin Ash as, ”Aku tidak bosan dengan pakaianku selama masih bisa dipakai. Aku tidak bosan dengan hewan tungganganku selama masih bisa masih membawaku. Dan aku tidak bosan dengan istriku, selama dia berbuat baik kepadaku. Sesungguhnya mudah bosan itu termasuk akhlak yang buruk.”
Renungkanlah ungkapan ini, wahai diriku. Sebab aku melihat matamu terlalu cepat silau dengan harta yang banyak. Lekas iri dengan apa yang diperoleh oleh orang lain. Kamu tidak pernah puas dengan apa yang diberikan Allah untukmu, untuk saat ini, aku melihat dirimu terlalu berharap banyak dari perbendaharaan dunia, padahal beberapa tahun lalu kamu terlihat begitu tawadhu, rendah hati, dan selalu berpaling dari jebakan dunia. Tapi kini, entah racun apa yang telah mengotori dirimu. Bahkan dalam sholat pun hatimu selalu khawatir jika suatu saat kontrak kerjamu diputus. Seolah-olah hidupmu hanya bergantung di situ saja.
Waspadalah dengan sihir dunia. Janganlah ia sampai menghinggapi hatimu. Cukup letakkan di tanganmu saja, agar hidupmu selamat di dunia dan di akhirat. Wahai diriku, banyak peristiwa yang telah kita lewati. Maka rasionalitas kita harus bicara, nurani harus peka. Setiap kejadian memiliki memori, setiap perubahan memiliki makna; hanya bagaimana kita menerima semuanya itu dengan akal dan hati. Kita harus bisa menjadi pengatur yang baik bagi diri kita sendiri.Bukan diatur oleh keadaan yang selalu berubah.
Wahai diriku, kiranya sampai disini pertanyaan-pertanyaanku. Ini semua tidak aku maksudkan untuk menyudutkanmu, melainkan karena aku begitu mencintaimu. Sebab, keselamatanmu adalah keselamatanku. Keselamatan kita. Aku tahu, ada banyak petikan kata yang menusuk hatimu, bahkan mungkin membuatmu meneteskan air mata. Namun apa guna itu semua, kalau tidak ada perubahan yang bisa kau tunjukan padaku. Satu rakaat shalat witir yang kau biasakan dalam setiap malam yang kau lewati, lebih mulia disisi Allah daripada kerja kerasmu menghimpun dunia dan segala isinya.
Satu lembar Al Qur’an yang kau baca setiap hari, lebih Allah cintai daripada beribu-ribu lembar rupiah yang kau tumpuk di bank. Sepotong roti yang kau sedekahkan lebih Allah senangi dari segunung emas yang kau kumpulkan. Semoga Allah menyelamatkan kita, wahai diriku.
Dengan berbagai proses peng-edit-an
from : Majalah Tarbawi edisi September 2007







Posts

Komentar Yang Ada