Kalau Aku Diramal?

Berikut adalah hasil ramalan dari sebuah software mainan yang ada di komputerku. Aku juga tidak ingat dapat software ini darimana, yang pasti ada tulisan “Ramalan Horoskop Java Versi 1.0″ di banner software itu. Aku pikir kalau hanya “lucu-lucuan”, tidak ada salahnya dipampang di sini. Kalau dibaca secara keseluruhan, memang ada benarnya, tetapi juga ada tidak benarnya. Cukup diambil yang positif aja ya, jangan percaya 100 persen pokoknya. Oh iya, ini hanya berlaku untuk hari ini sepertinya. Selamat membaca ya. Bismillah. Semoga tidak berlebihan. Read more…
Aku dan Kesendirianku

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah ya Rabb. Aku masih Kau beri nafas hingga detik ini, walaupun seringkali aku gunakan dengan tidak semestinya. Masih saja aku bermalas-malasan, masih saja aku tidur-tiduran, masih saja aku menjadi manusia yang tidak terlalu berguna. Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang seharusnya aku lakukan saat ini. Mungkin aku merasa kesepian, hanya kesepian. Aku harus lebih banyak berbicara dengan beberapa orang dan mendengarkan cerita mereka, mungkin. I have no idea.
Saat ini aku hanya ingin menulis, apa saja yang bisa aku tulis, tentang hidupku, tentang orang di sekelilingku, tentang apa yang aku inginkan, tentang harapan orang lain terhadapku, tentang apa saja. Ingin rasanya aku tuliskan semuanya. Namun apa daya, kepalaku sakit saat hendak melakukannya, tidak kuasa untuk melakukannya. Aku tidak terlalu baik dalam mengingat ternyata. Read more…
Bui Mewah Artalyta
BUI tidak lagi seram dan menakutkan. Kini, penjara sudah berubah wajah seiring bersalin nama menjadi lembaga pemasyarakatan (LP). Penjara sudah menjadi hotel dalam pengertian yang sebenarnya. Ada fasilitas sofa empuk, kulkas, pendingin ruangan, dan tentu saja televisi serta telepon seluler. Bahkan ada pula tempat karaoke.
Fasilitas itulah yang ditemukan Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Mafia Hukum ketika melakukan inspeksi mendadak ke Rutan Pondok Bambu, Minggu (10/1). Adalah Artalyta Suryani, terpidana kasus suap Rp6 miliar kepada jaksa Urip Tri Gunawan, yang menikmati fasilitas itu. Dia telah menyulap ruangan tahanan menjadi kantor mewah. Dari sel seluas 8 x 8 meter itulah dia rutin mengadakan rapat bisnis dengan anak buahnya. Itu sangat kontras dengan puluhan tahanan lain yang berjejal dalam ruangan sempit seperti sarden.
Artalyta memang istimewa. Kala masih bebas, dia pun leluasa menemui pejabat dan mengundang mereka menghadiri pernikahan anaknya. Dia juga leluasa menelepon dan bahkan bisa mengatur-atur para pejabat. Keistimewaan itu dibawa ke penjara. Di bui pun Artalyta tetap menjadi orang penting alias VIP. Read more…
Apakah Aku Marah?

Sepulang takziah dari rumah Noorma kemarin aku langsung pulang ke kos, mencoba untuk istirahat tentu saja, dengan harapan bisa kembali mendapatkan energi yang cukup untuk belajar mata kuliah Aljabar Linear Lanjut 1. Namun takdir berkata lain, karena saat aku membuka komputer dan hardisk eksternalku, ada judul film yang menarik perhatianku: New York. Film India sih, yang sarat akan kisah cinta dan ke-mellow-annya. Andi, “mantan” teman kosku dulu, yang memberikannya padaku beberapa waktu yang lalu.
Dari film itu aku cukup belajar tentang hidup ini. Dikisahkan ada 1200 lebih orang-orang yang ditangkap FBI pasca kejadian runtuhnya gedung WTC beberapa tahun silam, dimana tujuannya adalah mencari petunjuk tentang adanya sindikat terorisme di AS sana. Selam kurang lebih 9 tahun, masing-masing orang mendapatkan siksaan lahir dan batin, di penjara yang tidak mereka ketahui dimana lokasinya. Hal ini berlangsung selama kurang lebih tiga tahun. Bukan teroris yang didapatkan, tetapi justru “bayi-bayi” teroris yang lahir. Ke-1200 orang tersebut dituduh sebagai teroris. Mereka mendapatkan perlakuan yang tidak layak, sama sekali tidak layak. Dari 1200 orang itu beberapa di antaranya benar-benar menjadi teroris. Yah, saat FBI menginginkan teroris, mereka mendapatkannya, teroris-teroris baru yang lahir akibat buah pikir FBI tadi. Read more…
Kejahatan Perpajakan
PAJAK, di negara demokrasi dan beradab, mempunyai korelasi linear dengan hak dan kewajiban. Hanya warga yang tahu kewajiban dan taat membayar pajaklah yang berhak atas pelayanan negara. Berarti yang tidak membayar, apalagi sengaja mengemplang pajak, sama sekali tidak mempunyai hak mendapat–apalagi menuntut–pelayanan dari negara.
Dengan demikian adalah ketidakadilan yang sangat melukai, ketika orang-orang yang tidak membayar pajak, apalagi yang sengaja mengemplang, berupaya dengan berbagai cara agar tetap memperoleh haknya dilayani negara. Melukai rasa keadilan inilah yang menyebabkan siapa saja yang tidak mau membayar pajak, apalagi sengaja menggelapkan, dikategorikan sebagai kejahatan.
Sejak tahun lalu, kasus pajak kelompok bisnis Bakrie terus menjadi sorotan. Ditjen Pajak Departemen Keuangan mengungkapkan beberapa kali bahwa tiga perusahaan kelompok Bakrie, yakni Bumi Resources, Kaltim Prima Coal, dan Arutmin Indonesia, menunggak pajak senilai Rp2,1 triliun. Read more…
Diskusi Tanpa Akhir, Sepertinya

Anda pernah berdiskusi? Aku yakin Anda pernah melakukannya, baik itu melalui percakapan secara langsung, via telepon, via sms, via email, chat, bahkan mungkin melalui message di facebook. Aku ingin memaparkan beberapa hal yang menarik dari pertanyaan yang diajukan oleh sahabatku di facebook, via message tentu saja, yang harapannya bahwa ke depannya aku dapat menarik kesimpulan dari ini semua, dan menjadi seorang manusia yang lebih baik lagi. Aku juga ingin anak-cucuku kelak tahu bahwa aku adalah seorang manusia biasa, seorang laki-laki biasa. Aku harap Anda tidak menganggap ini berlebihan, karena ini hanyalah sebuah dokumentasi tertulis, menurutku seperti itu. Read more…







Posts

Komentar Yang Ada